Materi Kuliah
APA ITU PENELITIAN ILMIAH
- Yenrizal
- 24 Feb 2023
- dilihat 201
ilustrasi
Materi ini dibuat untuk kepentingan perkuliahan Metode Penelitian di FISIP UIN Raden Fatah. Ini bukan makalah atau artikel khusus, tetapi adalah bahan perkuliahan. Tetapi bisa saja isi dari materi ini bisa dipakai pihak lain yang memerlukan.
Setiap insan akademik (mahasiswa dan dosen) sudah dipastikan akan melakukan penelitian. Ini sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pengajaran, Penelitian, Pengabdian). Artinya penelitian adalah hal wajib yang harus dilakukan. Bagi mahasiswa S1, produk penelitian itu biasanya berupa Skripsi. Mahasiswa S2 disebut dengan Tesis dan S3 disebut Disertasi. Bagi mahasiswa Strata 1, memahami pekerjaan penelitian bukan hal mudah, karena hal ini tergolong baru untuk dilakukan. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penelitian atau memulai tahapannya, perlu dipahami dulu apa itu penelitian ilmiah.
Penelitian berawal dari kata dasar “Teliti”, dalam bahasa Inggris disebut dengan Research atau sering disebut dalam bahasa Indonesia dengan Riset.
Penelitian ilmiah bisa disederhanakan sebagai sebuah kegiatan mengetahui, menjelaskan, menggambarkan, menelaah, memahami, menyelesaikan sebuah masalah. Semua kata kunci tersebut biasanya merujuk pada level penelitian yang dilakukan. Untuk mahasiswa S1, biasanya berada pada tataran mengetahui, menjelaskan, dan menggambarkan.
Mengetahui adalah kegiatan untuk mencari tahu tentang sebuah masalah. Kata kuncinya adalah untuk mencari tahu. Menjelaskan adalah kegiatan untuk memberi penjelasan terhadap sebuah masalah. Menggambarkan adalah kegiatan untuk memberi penggambaran terhadap sebuah masalah itu seperti apa sebetulnya. Menggambarkan ini sering juga disebut mendeskripsikan.
Masing-masing kata itu harus dipahami dengan baik karena berkaitan dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mengetahui, artinya peneliti ingin mencari tahu, sehingga hasilnya nanti adalah sebuah pengetahuan tentang sesuatu masalah. Begitu juga dengan aspek Menjelaskan dan Menggambarkan.
Kata kunci di atas juga bisa dijelaskan bahwa, jika peneliti ingin mencari TAHU sesuatu, berarti pada awalnya si peneliti itu belum tahu tentang suatu masalah, sehingga ia perlu meneliti agar mengetahuinya. Jika peneliti ingin menjelaskan, berarti ini diawali dengan asumsi bahwa si peneliti itu belum merasa jelas tentang sesuatu, sehingga ia perlu meneliti agar ada kejelasan.
Apa yang dicari tahu, dijelaskan dan digambarkan ? MASALAH. Itulah kunci penting. Artinya, seorang peneliti sebelum memulai penelitiannya harus mengetahui terlebih dahulu MASALAH yang akan diteliti, atau konteks masalahnya.
Bagi sebagian besar mahasiswa S1 (dan bahkan S2 dan S3), menetapkan masalah ini bukan pekerjaan mudah. Sering terjadi kesalahan antara menentukan Masalah dengan sekedar menunjukkan fenomena saja. Logikanya adalah, apabila sesuatu itu tidak memiliki bobot masalah atau dianggap TIDAK BERMASALAH, maka sebenarnya tidak perlu diteliti. Oleh karena itu, sering dikatakan, sebelum meneliti harus jelas dulu APA MASALAHNYA.
Sebetulnya apa yang dikatakan MASALAH? Ini kata yang sudah sering didengar tetapi sering sulit untuk didefinisikan. Biasanya mahasiswa akan berkata bahwa masalah adalah problem, atau masalah adalah segala sesuatu yang harus diselesaikan. Ini kekeliruan. Tidak semua masalah harus diselesaikan (lihat kata kunci penelitian). Terkadang masalah itu hanya untuk dijelaskan saja, atau sekedar digambarkan saja.
Memahami masalah dalam penelitian akan terhubung dengan apa yang disebut sebagai Gap dalam penelitian, atau ketimpangan antara pengetahuan akademik dengan realitas. Biasanya dalam ujian skripsi, penguji akan bertanya, Apa Gap penelitian ini? Pertanyaan ini sebetulnya merujuk pada apa MASALAH dalam penelitian ini.
https://yenrizaltarmizi.com/menentukan-topik-penelitian/
Secara sederhana kita bisa dijelaskan bahwa MASALAH adalah adanya kondisi perbedaan antara Kondisi Ideal/Kondisi Seharusnya dengan Kondisi Yang Terjadi/Realitas. Perbedaan inilah yang disebut dengan MASALAH. Kondisi ideal ini sering juga disebut dengan aspek Teoritis, kondisi realitas sering diidentikkan dengan aspek Praktis. Artinya Masalah itu adalah perbedaan antara Teoritis dengan Praktis.
Contoh sederhana bisa kita lihat dari penjelasan berikut.
Televisi pada dasarnya adalah media informasi, pendidikan, hiburan sehat bagi seluruh penonton. Melalui televisi penonton bisa mendapatkan informasi, bisa belajar yang baik, dan bisa terhibur. Ini adalah kondisi ideal, yang seharusnya ada saat masyarakat menonton televisi. Tetapi, pada kenyataannya, berdasarkan berbagai data, hasil riset orang lain, ternyata Televisi menimbulkan dampak negatif, bisa menyebabkan meningkatnya prilaku kekerasan, pornografi dan pornoaksi, mengaburnya sopan santun, dan lain sebagainya. Artinya, disini ada perbedaan antara kondisi ideal yang seharusnya didapatkan dari tontonan TV dengan apa yang banyak terjadi. Perbedaan inilah yang disebut MASALAH.
Tentu saja, untuk bisa menjelaskan kondisi ideal dan kondisi yang terjadi, dibutuhkan argumen berdasarkan data-data yang ada. Untuk mengatakan bahwa TV berfungsi positif, perlu dicari referensi yang mengatakan itu (referensi Teoritis). Untuk mengatakan bahwa TV menyebabkan dampak negatif, perlu dicari referensi tentang itu juga, bisa dari hasil riset orang lain atau dari sumber lainnya.
Kemampuan menjelaskan sisi teoritis/ideal dengan sisi praktis itulah penjelasan tentang MASALAH. Seorang peneliti, harus bisa menjelaskan ini dengan baik dan lengkap.
https://komunikasilingkungan.com/ingin-bisa-menulis-tulislah
Oleh karena itu, pekerjaan utama yang harus dilakoni seorang peneliti adalah MEMBACA REFERENSI. Peneliti harus menelusuri sebanyak mungkin dan sevalid mungkin referensi terkait. Ini yang menjadi salah satu ciri khas penelitian ilmiah, karena meneliti itu bukan mengarang atau membuat novel.
Palembang - Mist



0 Komentar