Cerpen
Bak Sampah di Sebelah Lapau Kudo
- Yenrizal
- 16 Nov 2021
- dilihat 245
ilustrasi
Klotak…klotak…klotak… suara itu kembali terdengar di subuh ini. Bunyinya khas sekali, beradunya kayu dengan aspal, dan berirama yang betul-betul pas, mengikuti langkah orang berjalan. Tangkelek, sandal unik berbahan baku kayu itu memang menjadi pasangan utama warga kalau ingin ke masjid. Sesekali terdengar pula tak..tik..tuk..tak..tik..tuk, bunyi ladam kuda dari Bendi yang mulai berdatangan ke Pasar Bawah, melintasi Jalan Syek Jamil Jambek. Suara-suara itu begitu rutin membangunkanku setiap pagi.
Kendati udara terasa begitu dingin, kupaksakan untuk menggeliat, melepas selimut, dan menggulung kasur, merapikannya ke sudut kamar kecil itu. Azan subuh dari Masjid di belakang rumah mulai terdengar.
Dari balik pintu kamar, sudah terdengar suara-suara, pertanda penghuni rumah lainnya sudah terbangun. Suara Uni Mul adalah yang biasa kudengar.
“Nok, lah bajarangan aia angek? (Nok, sudah dimasak air panasnya)” suara Ibu juga sudah terdengar.
“Sudah bu, nak sholat subuh dulu Nok,” ujar Uni Mul. Ya uniku satu ini memang biasa dipanggil Cinok atau Nok. Ntah kenapa, mungkin karena wajahnya rada-rada mirip China ya. Cinok itu agak mirip dengan sebutan Cino atau Cina. Uni Mul memang berkulit putih, mata agak sipit dan berkacamata.
Aku bergegas melaksanakan sholat subuh. Air wudhu tadi terasa bagai campuran batu es. Bukittinggi memang masih terasa dingin kala itu. Embun pagi juga ikut menyucuk, menyelinap dari balik ventilasi kecil di dalam kamar. Tapi untunglah kamar itu begitu minimalis, penuh pula oleh buku-buku yang terjejer pada beberapa rak kayu. Setidaknya, padatnya isi kamar itu membuat udara menjadi lebih hangat. Kamar ini adalah perpustakaan pribadi milik Bapak, aku menempatinya karena memang tak ada tempat lagi.
Ini adalah hari ketiga aku resmi tinggal di Kota Wisata. Sebelumnya aku hanyalah seorang urang kampuang yang memang tinggal nun jauh di pedalaman, Pasaman Barat. Ke Bukittinggipun aku baru sekitar 2 kali, itupun karena dari sekolah waktu itu ada acara jalan-jalan. Bukittinggi saat itu bagiku sudah seperti kota besar, lalu lalang Oto begitu banyak (dibanding dikampung). Malam hari begitu terang karena cahaya lampu yang seolah tak pernah padam, hal yang tak kutemukan di kampung. Adalah Ibu Yulisbar (yang kemudian sudah seperti orang tuaku sendiri dan dalam tulisan ini kupanggil akan kupanggil Ibu) yang “menemukanku”.
“Sakola ka Bukittinggi lah waang Endi, daripado jadi tukang panjek karambia waang disiko, ” (Sekolah lah ke Bukittingi Endi, daripada jadi tukang panjat kelapa disini) demikian Ibu Yulisbar berkata kala itu. Aku yang tak terlalu kenal dengannya saat itu, hanya diam. Orang tuakulah yang kemudian memaksa dan membujukku dengan berbagai hal. Yang terbayang saat itu hanyalah sekolah di kota besar, melihat Jam Gadang, melihat keramaian, akupun mengiyakan saja.
Kelas 2 SMP aku pun pindah, dari SMP Negeri Simpang IV Pasaman ke SMP 7 Bukittinggi. Ibu Yulisbar sendiri adalah guru di SMP 7 ini. Belakangan aku baru tahu kalau SMP ini termasuk sekolah favorit kala itu.Tanpa bantuan Ibu Lisbar, tak mungkin aku bisa menjejakkan kaki ke sekolah ini, dan ke Bukittinggi tentunya. Ibu Lisbar, Pak Moedirsan dan anak-anaknya akhirnya menjadi keluargaku juga, mereka begitu baik, ramah, dan paham dengan kondisiku yang masih anak-anak dan baru “melihat” kota.
“Ndi, Ndi, lah sudah sholat belum?” ketokan pintu suara Ibu menyadarkanku. Rupanya aku terpejam sejenak sehabis sholat dan masih menyender ke rak buku.
“Sudah buk,” jawabku sambil merapikan sarung, dan keluar kamar. Kulihat Ibu sudah mulai sibuk di dapur, Uni Mul tampak menuangkan air panas. Sementara Uni Yanti kulihat juga sudah ada di dapur. Ia tersenyum melihatku. “Baa laloke nyo nak bujang? Lai lomaknyo, dingin?” (Bagaimana tidurnya bujang? Nyenyak, dingin) ujarnya melihatku masih sedikit menggigil. Aku hanya mengiyakan sambil menggerak-gerakkan tangan agar ada sedikit panas.
Uni Yanti sendiri adalah putri tertua dari Ibu Lisbar, semuanya ada 6 orang dan semuanya perempuan. Semua ada dirumah itu, otomatis hanya aku dan Bapak lah laki-laki di rumah ini.
Saat melintasi dapur, mataku tertuju pada keranjang plastik di sudut lemari piring. Ya itu adalah setumpukan sampah, bekas memasak dan berbagai sisa sampah dari dapur. Kulihat sudah cukup penuh, melimpah ke beberapa sisinya. Segera saja spontan terbersit ide.
“Bu, awak buanglah sarok ko baa bu, kama dibuangnyo buk? (Bu, saya buanglah sampah ini ya, kemana dibuangnya buk)” tanyaku.
“Eh memang Endi mau membuangnya, kalau mau ya ndak apa-apa. Di ujung jalan sana, dekat banyak bendi itu, ada bak sampah besar, nah campakkanlah ke sana nanti,” ujar Ibu. Uni Mul kulihat tersenyum. “Ndeh, anak bujang mau buang sarok (sampah),” ledeknya. Aku hanya tersenyum kecil. Kantong asoy hitam itu segera kuangkat dan kuikat, lewat jalan samping aku berlalu ke arah Lapau Kudo di ujung jalan.
Sejak hari itu, akupun punya rutinitas pagi, membuang sampah. Sebelum berangkat ke sekolah yang jaraknya hanya berseberangan jalan, aku sudah pastikan sampah dapur sudah beres. Kerja yang ringan, tapi aku sangat menikmatinya. Terus terang, berada di rumah ini aku bingung harus mengerjakan apa. Putri-putri Ibu begitu cekatan, capek kaki ringan tangan (cepat kaki ringan tangan), jadi semuanya sudah beres saja. Adanya sampah di dapur itu, akhirnya jadi “sesuatu” sekali bagiku. Paling tidak, aku sudah punya “tanggung jawab” setiap hari. Aku menikmatinya.
Enaknya lagi, sehabis buang sampah aku bisa lari-lari kecil menuju rumah, menikmati embun pagi kota bersih ini, menghangatkan sedikit badan. Lalu lalang bendi ke Pasar Bawah atau ke Lambaw menjadi temanku setiap pagi. Aku jadi hapal jenis-jenis kuda yang digunakan masing-masing bendi. Beberapa merek yang terpasang di bendi itu juga mulai ku kenal, seperti tulisan Si Rimang, Palacuik, dan sebagainya. Sebenarnya jarak dari rumah ke bak sampah tak jauh, hanya berselang bangunan ST (Sekolah Teknik), sekitar 500 meter. Tapi yang sebentar itu kunikmati. Kadang aku berdiri sejenak di depan SMA I, menikmati pemandangan megahnya Pasar Putih di atas Pasar Lereng, yang setiap pagi bagai abu-abu berselimut embun.
Jam 6 pagi aku sudah sampai kembali di rumah. Jam 7.30 sekolah sudah masuk. Di meja makan sudah terhidang hasil “kreasi” Uni Mul dan Uni Yanti pagi ini. Bapak sudah bersiap untuk mengambil nasi panas. “Cepatlah Endi, nasi angek (panas) ini, sebentar lagi nak sekolah lai,” ujarnya. Aku menarik kursi dan tak butuh lama. Uni mul dan Uni Yanti memang jago, kadang kupikir masak harus kompak juga rupanya. Suatu kali pernah juga kulihat Uni Deni ikut ke dapur.
Jam 7 pagi semua sudah siap, Ibu dan Bapak menuju sekolahnya masing-masing, Bapak adalah Kepala Sekolah di SMPN 6 Bukittinggi, agak jauh dari rumah. Akupun sudah lengkap dengan pakaian sekolah, hari ketiga bersekolah, sebetulnya belum terbiasa bagiku, terutama mengikuti cara di kota ini. Tas kusandang, rambut sudah tersisir rapi, baju sudah dimasukkan ke dalam celana pendekku, sepatu juga sudah OK, aku pun pamit dan berangkat.
Hari ini adalah upacara bendera Senin, dan aku yang sedikit terlambat bergegas masuk ke barisan. Di pangkal barisan kulihat sosok yang berdiri begitu kokoh. Tangannya memegang mistar besar dari kayu, sepertinya siap dilayangkan jika ada siswa yang berulah saat upacara. Matanya tajam menatap dibalik kacamata minus. Ya….Ibu Emi, guru yang terkenal paling ditakuti di sekolah ini. Aku belum begitu kenal, tapi dari obrolan beberapa teman, mereka sepertinya sangat menakuti guru Kewirausahaan satu ini. Entah kenapa, pagi ini aku juga sedikit gugup melihat Bu Emi berdiri bagai algojo yang akan melumat siapa saja didepannya. Aku berusaha tenang, karena merasa tak ada yang salah.
Tetapi, tiba-tiba……
“Adawww!!! ” jeritku, sebuah cubitan seperti jepitan tang menancap ke bahuku. Rasanya begitu pedih, perih, dan lebih pedihnya lagi, jeritanku tadi membuat semua mata peserta upacara tertuju padaku.
“Ma singlet waang ha….ndak mangarati waang peraturannyo hah! (Mana singletmu he, tidak mengerti kamu peraturannya hah)” suara Bu Emi begitu melengking terasa ke telingaku, dan tangannya masih menyisakan sebuah cubitan tang kecil lagi. Aku meringis dan hanya bisa tertunduk.
Sungguh aku tak tahu bahwa di sekolah ini ada aturan semua siswa harus pakai kaos dalam (singlet), dan sungguh aku juga tak tahu bahwa kalau tak pakai singlet akan dihukum dengan “jepitan tang”. Yang jelas, sepulang sekolah aku memberanikan diri bicara dengan Ibu Lisbar, minta tolong dibelikan singlet sore ini juga.
Bersekolah di kota dengan desa memang berbeda, bukan hanya soal pelajaran, tapi juga soal berpakaian. Terlintas di pikiran, apa jadinya ya jika Bu Emi di suruh ngajar di kampungku. Mungkin “tang jepitnya” akan banyak memakan korban.
***
Tahun 1987 silam, Bukitinggi memang masih dingin dan begitu asri, tak ada macet dan tak banyak polusi. Rumah yang kutempati dulu sekarang sudah dihuni orang lain. Bu Lisbar sudah lama pensiun, begitu juga bapak, dan beberapa tahun lalu Bapak dipanggil Yang Kuasa. Di masa pensiun, Ibu dan Bapak memutuskan pindah ke Belimbing di Padang. Disanalah hari-hari tua dua orang yang begitu berjasa merubah jalan hidupku. Terakhir kudengar Ibu sering ke Jakarta, mungkin ke tempat Uni Mul, Uni Yanti, Uni Rita, Uni Deni, Fit, atau si Indri.
Lapau Kudo kulihat masih juga ramai, berhadapan langsung dengan SMU I Bukittinggi, tempatku sekolah setamat SMP dulu. Di samping jalan kulihat sebuah tempat bersejarah bagiku, yang sampai sekarang rupanya masih ada di sana, Bak Sampah di sebelah Lapau Kudo.
Palembang - Clouds



0 Komentar