Puisi
Berharap Hujan
- Muhammad Nabil Athalla
- 26 Oct 2025
- dilihat 189
Berharap Hujan
Berharap Hujan
Karya : Muhammad Nabil Athalla
Hutan belantara, pohon yang rimbun, beragam hewan, dan tumbuhan aneka warna. Menyatu dalam kedamaian, berbaur dengan kicauan burung, keindahan bak lukisan. Bercengkerama dan menyatu di area hijau nan luas.
Anak-anak berangkat sekolah dengan gembira, ibu-ibu melantunkan do’a-do’a suci sambil menjemur bayinya dikelembutan mentari pagi. Semua terasa sejuk, nyaman dan tenteram.
Pada masanya timbullah suatu petaka itu.
Kemarau melanda, kering, kerontang, angin bertiup kencang. Tanah retak, ikan-ikan pergi, hijau berganti rerantingan. Panas.
Tiba-tiba si jago merah mengeluarkan lidahnya, meliuk melalap ilalang dan ranting kering. Kerimbunan itu menjadi abu. Hijau hutan tak bersisa. Semua tak ada lagi.
Yang tersisa hanya pekatnya asap, kabut panas, lidah api menjulur, dan sesaknya nafas tenggorokan perih. Ibu-ibu, bapak-bapak, mengejang didera asma yang kambuh karena menghirup sisa pembakaran. Para bayi dikurung di kamar, tak lagi dijemur dicerahnya pagi. Matahari itu tak terlihat, hanya samar berbalut lembayung merah.
Ada tangan-tangan jahat yang memantikkan api, yang menyangka bahwa petaka bukan untuk dirinya. Ada jari-jari penuh dosa yang mengobarkan hawa panas, lupa pada Yang Kuasa. Tak hirau bahwa sawah, ladang, hutan, kebun, rawa, semua adalah untuk hidup manusia. Bumi yang harus dijaga. Mereka menghabisinya, hanya demi keserakahan atau mungkin karena kebodohan.
Tak ada yang bisa diperbuat, tak ada yang bisa diilakukan. Hanya lantunan doa setiap malam, berharap hujan segera menyiram api.
Palembang, 18 April 2025
Palembang - Mist



0 Komentar