Penelitian

Catatan Lapangan 2


ilustrasi

KODE                                  : SILATURRAHMI/IBU-IBU/01/20 Mei 2008

JUDUL                                : SILATURRAHMI

NAMA INFORMAN             : Mbah Cip/Mbah Bayan

TEMPAT                              : RUMAH Mbah Cip, DUSUN KEMENGAN

WAKTU                               : 16.00 – 16.30/20 Mei 2008

DESKRIPSI                         :

Setelah selesai merumuskan program yang akan dilaksanakan, saya beranjak keluar rumah dan mencoba jalan-jalan. Di depan rumah ibu kades saya memandang sekeliling. Satu hal yang membuat saya agak heran adalah motif hiasan di atas atap rumah penduduk yang umumnya memiliki patung ayam dan  burung garuda. Tentu ini unik. Apakah garuda melambangkan nasionalisme masyarakat? Entahlah...

Di persimpangan jalan saya melihat ke arah rumah penduduk. Saya melihat dua orang ibu-ibu sedang ngobrol di beranda. Segera saya hampiri dan mereka menyambut baik. Saya perkenalkan diri dan sekaligus bertanya, saya harus memanggil apa kepada mereka. Mereka juga menyebutkan diri dengan sebutan Mbah Cip dan Mbah Bayan. Keduanya sudah berumur sekitar 65 tahun dan 82 tahun.

Mbah Bayan dulunya adalah seorang Bayan dusun, yaitu orang yang bertugas sebagai pemanggil warga jika ada pertemuan dusun. Ia tidak banyak bercerita, mungkin karena bahasa Indonesia yang tidak diketahuinya secara baik. Saat itu ia sedang menimang cucunya bernama Lana. Kebetulan, Lana pun jadi objek pemotretan saya. Itu cukup membuatnya gembira.

Selanjutnya yang banyak bercerita adalah Mbah Cip. Ternyata Mbah Cip adalah istri mantan kepala desa sebelum pak Sutimin, sekitar tahun 1972 – 1989 (dua periode). Kata Mbah Cip, nama dusun Kemengan di ambil dari kata-kata EMENG yang artinya Ingat. Dulunya Raden Mas Sahid atau Pangeran Samber Nyowo datang ke lokasi ini  sekitar tahun 1917-an. Waktu itu ia bingung untuk mencari arah sholat. Makanya ia sholat ke arah timur. Setelah berjalan dari Kemengan ke Pasangan, ia baru ingat bahwa ini adalah arah yang benar. Ingatan inilah yang kemudian menjadikan nama dusun ini yaitu Kemengan.

Sayangnya waktu itu tidak ada suami Mbah Cip, ia sedang kerja katanya. Jika ada, tentu kami bisa ngobrol lebih banyak.

Refleksi :

  1. Mbah Bayan dan Mbah Cip adalah dua orang tua yang masih sehat dan kuat dengan karakteristik khas pedesaan yaitu, kuat secara tenaga dan memiliki rasa ingin mengabdi yang begitu kuat.
  2. Sejarah singkat desa yang diceritakan oleh Mbah Cip bias dikatakan sebagai sebuah bentuk pengakuan akan penyebaran Islam di daerah ini dan kekuatan pengaruh dari Raden Mas Sahid.

Catatan Lanjutan besok :

  1. Harus ditemukan orang lain yang menguasai tentang sejarah dan perkembangan dusun ini.
  2. Mengapa orang-orang di dusun ini begitu kuat dan bersemangat? Tentunya besok akan kami temui penjelasan lebih lanjut dengan bertemu pihak lain.