Feature

Dari Sekeloa ke Jatinangor


ilustrasi

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.

(Alumnus S2 dan S3 FIKOM UNPAD)

Kampus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjadjaran itu tampak ramai dengan mahasiswa. Wajah mereka bervariasi, ada yang berhidung mancung, berkulit gelap, sawo matang, berambut keriting dan lurus, ada juga yang cenderung berkulit putih. Dari penampilannya kelihatan mereka bukanlah orang-orang yang baru jadi mahasiswa, setidaknya dari sisi usia.

Ini adalah kampusnya para mahasiswa S2 atau Magister dan juga para pengambil S3/Doktor. Kendati berlabel FKG, nyatanya yang banyak berseliweran bukanlah sosok-sosok layaknya Dokter atau calon dokter.

Begitulah, tahun 2002, kaki ini menginjakkan kaki ke Unpad untuk mengambil Program Magister Ilmu Komunikasi. Tertera di KTM adalah BKU (Bidang Kajian Utama) Ilmu Komunikasi Program Studi Sosiologi, Program Pascasarjana Unpad. Kendati berlabel Sosiologi, tapi kami jauh lebih merasa sebagai bagian dari Ilmu Komunikasi. Entah mengapa harus diberi label Sosiologi, tak kami pikirkan.

Sama dengan kami juga tak memikirkan kenapa harus berkuliah di Kampus FKG, bayangan kami semua gedung ini adalah miliknya Magister Ilmu Komunikasi, belakangan menjelang tamat barulah kami sadar bahwa sebetulnya semua ini milik FKG. Tapi tak apalah, toh kami masih bisa berphoto dengan latar belakang logo Unpad. Terpenting Unpad nya toh.


FKG Kampus Sekeloa. Sumber : www.unpad.ac.id

Cerita soal FKG ternyata banyak juga kisah dari teman-teman. Setidaknya, banyak teman-teman yang kemudian bisa berobat gigi gratis, cukup dengan datang dan serahkan KTM. Tapi ini bukan berobat layaknya ke praktek dokter gigi, tapi jadi bahan praktek mahasiswi FKG. Tak apalah, sebagai mahasiswa kost, ini sebuah keuntungan, apalagi disentuh oleh para calon dokter gigi yang dari sentuhan tangannya saja sudah bisa menyembuhkan denyut gigi. Gimana kalau mahasiswa FKGnya pria? Tidaklah…

Memasuki kawasan kampus ini, jadi perjalanan menarik juga. Lokasinya bukanlah dipinggiran jalan besar atau dalam sebuah komplek pendidikan yang tertata rapi. Kampus ini ibaratkan nyembul saja di tengah-tengah padatnya kawasan Sekelola. Dinding kelas langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Interaksi dengan warga sekitar jadi dekat.

“Uh laper jadinya,” ujar seorang teman nyeletuk pelan di bangku belakang. Suara lantang Pak Harun Al Rasyid, dosen statistik yang nyeleneh, tenggelam oleh aroma masakan yang ternyata datang dari rumah tetangga sebelah. Sisi-sisi jendela kaca nako mengalirkan aroma goreng ikan asin. Ah, jam 11.30 siang, perut mana pula yang tak tergoda saat kepala dijejali rumus-rumus statistik.

Ya kampus ini adalah bagian dari pemukiman penduduk di Sekeloa. Aroma masakan, teriakan penjual asongan, deru sepeda motor, termasuk hamparan jemuran pakaian, adalah bagian dari kisah berkuliah di Sekeloa. Baik mahasiswa S2 ataupun S3, termasuk yang sekarang sudah menjadi “orang”, jadi pejabat di instansinya masing-masing, pasti punya pengalaman soal ini.

Sekeloa memang menyimpan banyak kenangan. Disitulah kami berinteraksi antar mahasiswa, berdiskusi, tinggal dan berbaur dengan kawasan padat. Satu tempat yang tentunya semua mahasiswa S2 dan S3 akan selalu teringat adalah Ikan Goreng Bu Tatang. Masakan khas Sunda dengan tawaran sambal yang luar biasa. Bisa dipastikan, kendati warung makan ini kecil dan sempit, tapi namanya terkenal dari Sabang sampai Merauke, sesuai dengan sebaran asal mahasiswa di Sekeloa. Entah apakah saat ini masih ada atau tidak.

Memasuki tahun 2003-2004, kantor pusat administrasi Program Pascasarjana pindah ke kawasan Kampus Utama Dipati Ukur. Gedung megah berlantai 3 dengan arsitektur khas Unpad sudah selesai. Pindahlah kami ke tempat ini, setidaknya untuk urusan administrasi dengan segala ujian. Karena kami masih bernaung di bawah Program Pascasarjana, maka seluruh mahasiswa S2-S3 berurusan disini. Kami pun bisa saling kenal walau bukan satu jurusan.


Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD di Kampus Dipati Ukur, angkatan 2011

Tak hanya itu, kawasan ini berada dipinggiran jalan besar, otomatis akses lebih mudah dan banyak interaksi terjadi. Selain itu, kampus ini menyatu dengan mahasiswa S1 dari fakultas lain, terutama FE dan FH.

“Wah…jadi semangat saya kuliah disini, jadi muda lagi rasanya,” ujar kawan dengan berbinar. Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan mahasiswi-mahasiswi FE dan FH Unpad. Bah, seharian nongkrong di teras kampus inipun betah. Lagi diskusi, itu bisa jadi alasan. Cuci mata adalah alasan sebenarnya. Geulissss pisan euy….

Beberapa tahun kemudian, kebijakan berubah, Program Pascasarjana dikembalikan ke fakultas masing-masing sesuai bidang keilmuannya. Maka syahlah, Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi (S-2 dan S-3) menjadi bagian dari FIKOM UNPAD.

Jatinangor….kami datang.

Wilujeng Sumping, papan besar di ujung tol Cileunyi sudah menyambut. Selamat Datang ke Jatinangor, sentra pendidikan di Jawa Barat.

Odong-odong berbaris rapi menyambut siapapun yang datang, berbaur dengan puluhan ojek yang selalu berangkat turun naik ke dalam kampus. Unpad memang menyediakan angkutan gratis untuk seluruh civitas akademika yang akan masuk ke dalam kampus. Odong-odong adalah sarana utamanya.


Kampus ini berada di wilayah perbukitan, suasana yang begitu nyaman untuk perkuliahan. Udara sejuk dan pemandangan yang tak membosankan.

Sebuah papan nama Fakultas Ilmu Komunikasi sudah menyambut di pintu masuk. Tulisan Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi tertera di gedung megah yang juga baru diresmikan. Memasuki gedung ini, aura “ilmiah” itu sudah terasa. Ruang perpustakaan yang luas ada di lantai bawah, naik ke lantai 2 deretan bangku lingkar sebagai wadah diskusi dan mengerjakan tugas mahasiswa sudah terpasang. Suasananya hening, tak ada mahasiswa kumpul-kumpul, semua sibuk dengan aktifitas masing-masing.

“Wah ada Prof Deddy, ijin prof saya mau bimbingan,” seorang mahasiswa tampak sedikit membungkuk menyalami sosok berkopiah dan mengenakan jas hitam. Begawan komunikasi Indonesia ini, Prof Deddy Mulyana menyambutnya dengan hangat.  “Eh anda belum selesai ya, udah diberesin perbaikan kemaren,” ujarnya menyalami si mahasiswa.

Di sisi lain, tampak Dr. Atwar Bajari (Sekarang Profesor), Dr. Dadang Sugiana, Dr. Eni Maryani (sekarang Profesor), Prof. Engkus Kuswarno, Dr. Dian Wardiana, Dr. Suwandi Sumartias bersiap-siap memasuki ruangan.

Serombongan mahasiswa sudah duduk berjejer menyaksikan seorang mahasiswa lain yang wajahnya begitu tegang. Sidang Hasil Riset (SHR) sedang berlangsung. Para penguji, oponen ahli, guru besar, tampak serius mengamati.

“Saya yakin, jika kita adakan survey, 99% mahasiswa Program S3 akan menangis saat menyampaikan kesannya di akhir ujian,” ujar seorang teman. Momen ujian akhir atau Sidang Promosi Doktor selalu jadi ajang yang ditunggu. Setelah berpayah-payah dan “berdarah-darah”  selama kuliah dan bimbingan, rasa haru pasti muncul.

“Anda dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi!” itulah kata-kata yang dinanti. Wajah-wajah lelah itu akan berubah sumringah, seakan hilang semua penat.

Hembusan angin pagi terasa dingin menusuk kulit, menerpa dari odong-odong yang tak berjendela. Canda tawa mahasiswa cekikikan terdengar. Obrolan kuliah, soal dosen, kos-kosan, dan kiriman uang yang seret, sepertinya jadi topik yang sering terdengar. Tak lupa sesekali terselip obrolan tentang mode fashion terbaru, make up teranyar, sampai ke gaya rambut. Bandung gitu lho…soal life syle tak bisa dihindarkan. Generasi postmo sudah menjadi hal biasa di dalam kampus.


Saat ini, di 2022, FIKOM UNPAD merayakan ulang tahunnya yang ke 62 tahun. Usia yang sudah cukup tua. Ragam prestasi sudah dicapai, nasional maupun internasional. Ribuan alumnusnya tersebar di seantero jagat. Akreditasi Unggul adalah ikonnya, dan sampai sekarang tetap menjadi magnet para calon sarjana, magister, maupun doktor bidang Ilmu Komunikasi di Indonesia. Dari Sekola hingga Jatinangor, namun gaungnya ke seluruh dunia. Long Live FIKOM UNPAD. We are part of you…