Cerpen

Di Dermaga Lapuk


ilustrasi

Aliran air itu begitu tenang, sedikit coklat, menyisakan bekas hujan tadi malam. Bentangan sungai yang membentuk selat kecil karena dibatasi sebuah pulau, konon dinamakan Pulau Payung, adem, tak beriak, seakan menyimpan sejuta misteri didalamnya. Tiga buah perahu, speed boat, bergoyang lembut mengikuti irama alunan sungai. Kendati tertambat ke sebuah bibir dermaga kecil, tapi tetap saja melenggok-lenggok. Hampir sepanjang bibir perairan itu, goyangan perahu seakan seirama dengan tumpukan sampah yang turun naik di bawah rumah-rumah panggung.

Dari sebuah warung, alunan irama Dangdut, naik turun senada hembusan angin laut. Sesekali terdengar suara sang pemilik warung, menggumam mengikuti suara  Biduan.

Beberapa hasta dari juluran dermaga semen itu, riuh rendah suara becak motor berbaur dengan ocehan anak-anak yang bermain seakan tak pernah takut dengan pekatnya sungai. Ibu-ibu asyik mengulas isu artis terbaru, sembari jemari mereka asyik mengurut-urutkan jaring-jaring pukat bertali nilon.

Kampung itu seakan tak pernah sepi, tapi sekaligus sangat kontras. Ramai dan padat ke wilayah pemukiman, tetapi sendu di bibir dermaga.