Cerpen

Hikayat Batu Betangkup


ilustrasi

Di zaman dahulu kala hiduplah seorang Kerbay Jande (Janda setengah baya), dengan dua orang anaknya yang masih kecil. Yang satu masih dalam ambinan (masih digendongan) dan satunya lagi sudah cukup besar, sudah bisa mengasuh adiknya. Mereka hidup di ujung dusun Batu Surau. Sehari-hari janda ini kerjanya adalah menanam padi di sawahnya yang kecil di pinggir dangau. Selain itu ia biasa mencari puntung (kayu api) ke pinggiran hutan dekat Aiek Talang Kiaghe (Sungai Talang Kiaghe). Kehidupan mereka pas-passan, cukup untuk makan sehari-hari saja.

Hari itu adalah hari kalangan (pasar desa). Kalangan ada di Dusun Pulau Panggung sekitar satu jam berjalan kaki dari dusunnya tersebut. Pagi-pagi, sang janda ini sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke kalangan. Ia ingin berbelanja kebutuhannya untuk seminggu ini. Mencari garam, gula, minyak, dan sebagainya. Untuk itu ia sudah menyiapkan bekal nasi bungkus dan lauk ikan kalang yang ditangkap dari pinggiran sawahnya kemaren. Sementara bagi anaknya ia sudah meninggalkan nasi yang sudah dimasak dan bubur untuk si kecil. Sisa ikan kalang juga masih ada untuk dimakan siang ini.

Menjelang berangkat ia berpesan pada anaknya yang tertua. “Nak, ndung nak ke kalangan kudai. Sore nanti ndung sudah pulang. Jada adikmu baik-baik. Kalau mau makan, nasi sudah ada di periuk dan lauknya ada didapur. Bubur untuk adikmu juga sudah ada. Jangan main jauh-jauh,” pesannya.

Sang Janda pun berangkat. Tinggallah kedua anak kecil tersebut di dangau berdinding kayu itu. Mulanya ia hanya bermain-main di dalam rumah, main kayu-kayuan dengan adiknya. Bosan main dalam dangau, ia pun turun dan menggendong adiknya dalam ambinan. Ia bermain di depan rumah, berlari-lari sambil menangkap kupu-kupu yang terbang di dekat kopi yang sedang berbunga.

Tak terasa ia sudah keluar lingkungan dangaunya. Sampai ke lembah sawah dan disana banyak tumbuh pohon talas hutan. Ia masih juga mengejar kupu-kupu yang berlarian di situ. Sang anak seakan sudah lupa akan nasihat ibunya untuk tidak bermain jauh.

Tiba-tiba ia melihat seekor belalang yang berukuran besar terbang dan hinggap di daun talas samping dangau. Segeralah ia tahu itu adalah Belalang Ghuse (belalang rusa). Bersegeralah ia mengejar, berusaha menangkapnya. Dipakainya selendang yang ditinggalkan ndung di jemuran. Dikejarnya belalang itu, terjerebab ia, hampir adiknya jatuh dari gendongan. Akhirnya belalang itupun tertangkap dan langsung dibawanya ke atas dangau. Terbersit di pikiran si anak, tentulah enak sekali jika belalang ini dipanggang dan dimakan. Akan jadi lauk yang enak dicampur dengan ikan kalang dan sambal.

Selesai makan dan merasakan enaknya Belalang Ghuse, sang anakpun tertidur. Adiknya juga terlelap dalam ambinan.

Sore, selepas matahari tergelincir ke barat, ia terbangun oleh suara ibunya yang berteriak dari bawah.

“Oii nak, dimane kaba?” teriak ibunya

“Ada Ndung, kami di atas, tertidur tadi itu,” jawabnya.

Setelah ibunya masuk dan meletakkan barang belanjaan, ia pun bercerita.

“Oi ndung, kami tadi nangkap Belalang Ghuse, besar sekali.”

Nduk ai, dimana kamu menangkap Ghuse? Mana Ghusenya sekarang?” tanya ibunya penasaran.

“Lah kami panggang, kami makan untuk siang tadi, lemak nian,” jawab anaknya.

Nduk ai, alangkah hebatnya kamu makan seekor ghuse dan tidak pula menyisakan untuk ibumu ini?” hardik ibunya marah. Si anak langsung ketakutan menjawab. “Kan nye Ghuse ndung (Bukan rusa mak), tapi Belalang Rusa,” jawabnya ketakutan.

“Ah kamu memang menangkap Ghuse, coba lihat pagar di halaman samping sudah roboh, pastilah gara-gara kamu menangkap rusa!” teriak ibunya.

“Hik..hik.. idak ndung, Belalang Rusa nian yang kami tangkap,” sang anak mulai menangis melihat ibunya bertambah marah.

Sang ibu tetap tidak percaya apa yang dikatakan anaknya.

“Kamu memang kurang ajar nian. Tidak lagi kasihan dengan ibu sendiri, tidak patuh dengan apa yang ibu katakan. Kamu bermain jauh sampai keluar pagar, dan kemudian menangkap Rusa. Setelah itu kamu juga tidak menyisakan untuk ibumu ini.Betul-betul anak tak tahu diri!” ibunya semakin marah.


Batu Betangkup

Sang anak semakin kuat menangis, berurai air mata. Tapi ibunya tetap kukuh dan ia semakin merasa bersalah. Terbayang olehnya perintah sang ibu tadi agar tidak bermain keluar rumah. Larangan itu dilanggarnya karena asyik mengejar kupu-kupu.

Akhirnya karena sang anak tak juga mengaku bahwa ia telah mendapatkan Rusa, sang ibupun habis kesabaran. Ia merasa sudah tidak dipatuhi lagi oleh anaknya. Ia yang sudah janda, hanya berharap pada anaknya, sekarang sudah tidak dihargai pula. Didusunnya, tidak patuh pada orang tua adalah kesalahan paling besar. Roh puyang pasti sedih dan mengutuki keluarganya ini. Hukuman harus dijatuhkan pada anaknya itu.

Sang ibupun mengambil keputusan. Daripada anaknya yang harus dihukum, lebih baik ia yang menanggung semuanya.

“Kalau kaba (kamu) tidak juga mau mengaku dan tidak mau minta maaf, baiklah. Biarlah ndung yang akan pergi. Aku akan pergi ke Batu Betangkup. Jangan kamu cari aku. Namun kalau kamu nak dengar aku, nanti pada saatnya akan terdengar rintihanku dari dalam batu itu,” suara ibunya serak, namun terdengar mantap dengan keputusannya.

Sang anak tak bisa berbuat banyak, kendati dipegangnya kaki sang ibu, ditariknya dan ditangisi, namun ibunya tetap berjalan. Ia menuju ke batu besar yang terbelah dua di atas Bukit Putih Embun. Seluruh tubuhnya masuk ke dalam batu, dan tiba-tiba batu itupun menutup (menangkup).

Dari kejauhan hanya terdengar tangis dan ratapan si anak yang selalu menyesali diri. Sayup-sayup terdengar suara dengungan dari batu besar tersebut. Sampai sekarang, pada hari-hari tertentu, penduduk yang berkebun di sekitar batu itu, masih bisa mendengar dengungan berasal dari dalam batu.

*) penulisan ulang kisah ini didasarkan keterangan dari Minhar, Ketua Adat Semende di Desa Tanjung Raya, 10 Februari 2013. Pada saat tulisan ini ditulis beliau telah meninggal dunia. Allahummafirlahu waafi wa’fuanhu.