Penelitian

Ke Kebun Kopi


ilustrasi

Seharian tadi, aku menghabiskan waktu di kebun kopi. Kali ini bukan dengan Kak Ipul, tapi Pak Bustan, seorang warga Tenam Bungkuk, Semende Darat, yang kemaren bertemu ketika keliling-keliling desa. Dia menawarkan untuk main ke kebunnya. Kebetulan disana juga ada buah-buah markisa yang sedang masak. Ok lah, pagi tadi aku berangkat sekitar pukul 7 pagi. Sengaja berangkat agak siang karena sebagai orang baru, aku tentu tidak terbiasa untuk berjalan subuh di cuaca dingin ini.

Persiapan tidak terlalu banyak. Aku hanya mempersiapkan jaket, kupluk, air minum, buku catatan kecil, pulpen, sarung, dan kamera. Kupikir ini cukup, dengan perkiraan juga lokasinya pasti jauh. Belum dipastikan juga apakah akan pulang ataukah bermalam dikebun. Tergantung kondisi cuaca dan aktifitas di kebun nanti. Tetapi, kata Pak Bustan tetap pulang ke dusun. Kali ini, kak Ipul tidak ikut.

Pak Bustan kulihat sudah mempersiapkan perlengkapan standar yang lazim dibawanya. Sebilah gerahang di pinggang, keruntung (keranjang rotan), dan bersepatu boot. Aku sendiri hanya menggunakan sandal gunung yang memang dari awal sudah kupersiapkan. “Jalannya berlumpur, habis hujan, jadi lebih enak pakai sepatu boot, sekalian melindungi kaki kalau ada pacet atau duri-duri,” ujarnya.

Sebelum berangkat, tentu saja Ngopi Kudai (ngopi dulu).

Kami memulai jalan dari arah belakang rumah Pak Bustan. Ternyata di bagian belakang rumah, langsung disambut dengan kerimbunan kebun kopi. Belum terlalu besar, tetapi sudah panen. “Masih kawe mude (masih kopi muda),” kata Pak Bustan. Kebun itu adalah milik tetangganya, punya pak Bustan sendiri masih agak jauh.

Melintasi kebun kopi ini tidak terlalu rumit, karena batangnya belum terlalu tinggi. Barisan kebun kopi ini terlihat teratur dan rapi, jarak antara masing-masing tanaman diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan untuk melintasinya. Di sela-sela batang kopi, aku lihat beberapa pohon Sengon berdiri, dahan dan daunnya kelihatan seperti memayungi tanaman kopi. Di beberapa lokasi aku lihat ada jenis pohon Juar, posisinya sama dengan pohon sengon tadi. Keterangan dari Pak Bustan, pohon itu memang digunakan untuk melindungi kopi dari matahari. Dulunya hanya pakai pohon Juar, sekaranglah baru ada Sengon.

 

Di sepanjang perjalanan, kami sering bertemu warga lain yang juga akan ke kebun. Terkadang juga bertemu warga yang sedang kerja dikebunnya, ada juga yang sedang membelah kayu di dangau. Setiap kali bertemu, selalu Pak Bustan menegur mereka atau mereka yang duluan menegur. Terkadang kami berhenti sejenak, ngobrol menanyakan kondisi kebun dan sebagainya. Tentu juga memperkenalkan aku yang dianggap sebagai orang asing saat itu. Aku hanya mengamati dan sesekali menimpali dengan bercanda. Yang terlintas dipikiran aku adalah gaya bicara yang santai dan selalu dengan intonasi berirama, khas bahasa Semende. Mereka juga terbiasa berbicara apa adanya, dan topiknya bisa apa saja. Ada yang berbicara tentang pupuk, tentang hama, harga kopi, binatang, dan bahkan tentang situasi politik saat itu.

Sapaan awal yang kerap aku dengar adalah kata-kata, “hoiii, tuape gawi” (hooii, apa kerjaan) atau kata-kata “Sape kance kaba ni” (Siapa kawan kamu ini). Setelah itu obrolan akan mengalir.

Dalam hitunganku, ada 5 kali kami berhenti untuk ngobrol dan saling menyapa dengan warga lain di dangau atau kebun mereka.

 

Di perjalanan aku kerap juga menanyakan ke Pak Bustan, apakah masih jauh kebunnya. Dia hanya berkata sudah dekat, di balik bukit itu. Rasanya sudah berapa kali aku mendengar istilah di balik bukit ini. Agaknya ini sebagai sebuah cara menentukan jarak di Semende. Tetapi menurut Pak Bustan, untuk menentukan jarak sebenarnya mereka lebih sering memakai istilah “bidang sawah”, walaupun tidak ada sawahnya. Mengenai ini aku hanya berpikir, ini sebuah cara baru. Satu bidang katanya bisa 100 meter, walaupun bisa juga lebih atau kurang.


Sekitar pukul 8.30 WIB kami sudah sampai di kebun pak Bustan. Dengan berjalan kaki berarti makan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dipotong dengan obrolan-obrolan di dangau. Tanaman kopi miliknya terlihat cukup rimbun. Batangnya sudah terlihat besar dan kokoh, sekitar sebesar lengan orang dewasa. Kata Pak Bustan, usia kopinya ini sudah mencapai 10 tahun, sudah masuk katagori kopi tua. Sampai sekarang tetap dipanen dan hasilnya sekitar 1-1,5 kg per batang.

Kami beristirahat di dangau yang berbentuk panggung. Semua bahan bakunya dari kayu, bahkan atapnyapun dari kulit kayu. “Kayu ghimau,” kata pak Bustan. Jenis kayu ini cukup banyak ditemukan di sekitar perbukitan. Kulitnya memang keras dan tahan lama, baik terhadap panas maupun terhadap hujan. Pak Bustan mengaku bahwa ia mengetahui tentang ini dari orang tuanya dulu, karena sering lihat orang tuanya di kebun.

Hari itu aku menghabiskan waktu di kebun pak Bustan. Diawali dengan minum kopi lagi, kemudian melihat-lihat kebun dan mencoba-coba membantu pak Bustan untuk membersihkan rumput liar di sekitar kebun. Dari sela-sela batang kopi, aku sempatkan juga untuk mencicipi buah markisa yang menggelantung begitu saja. Markisa memang banyak tumbuh di sekitar kebun, tidak dibudidayakan khusus, hanya selingan saja. Menurut warga, bibit markisa ini dulunya diberikan pemerintah, namun kemudian tidak ada kelanjutan lagi, warga terlalu disibukkan dengan tanaman kopi mereka. Padahal kalau kulihat potensinya cukup bagus, markisa tumbuh subur dan buahnya terasa manis dan segar. Namun, seperti kata Pak Bustan, tidak ada waktu lagi, kopi mau diurus, sawahpun harus dikelola.

Sekitar pukul 12 siang, kami istirahat di dangau. Istri pak Bustan yang datang menyusul, sudah mempersiapkan makanan. Sangat menarik sekali, nasi putih panas, umbut rotan, sambel terung belanda, lalapan jengkol, beberapa potong ikan asin. Hanya itu, tetapi sangat mengundang selera.

Menurut pak Bustan, sebenarnya mereka tak biasa makan siang di kebun. Makan bagi mereka adalah jam 10 pagi dan jam 5 sore nanti sepulang dari kebun, atau malam, jika sampai dirumah malam hari. Itu rutinitas makan warga Semende. Sekarang ini kami makan siang jam 12, karena ada aku, yang tentu belum terbiasa dengan pola hidup orang Semende. Oh, pola hidup yang unik juga pikirku.

Sehabis makan siang, istirahat sejenak, sholat zuhur dan kami kembali ke kebun. Aku lihat di beberapa punggung bukit, di kejauhan tampak asap-asap tipis dari dangau-dangau penduduk. Di dangau pak Bustan juga demikian. Katanya, itu sebuah pertanda bahwa ada orang di kebun tersebut. Kalau ada apa-apa, bisa langsung berhubungan. Caranya dengan berteriak “Hoiii” sekeras-kerasnya, atau dengan memukul kentongan yang tergantung di dinding dangau. Hanya saja kentongan ini dipergunakan pada saat-saat khusus, misalnya ada bahaya, musibah, atau lain sebagainya.

Hal yang unik pikirku. Cara berkomunikasi di kebun khas masyarakat setempat.

Jam 16.30 WIB kami beranjak pulang. Cuaca cukup mendukung, tidak hujan sehingga kami bisa pulang. Dibanding waktu pergi tadi, pulangnya lebih terasa cepat karena jalan lebih menurun dan tidak terlalu sering mampir ke dangau warga lainnya. Di sepanjang jalan, kulihat beberapa batang Sengon yang kulitnya terkelupas, bagai di sayat-sayat. Sebelumnya kulihat juga pohon Durian yang hampir sama sayatannya. Aku belum sempat bertanya karena kami harus mengejar waktu.

Jam 17.30 WIB aku sampai di rumah kak Ipul, cuci kaki, ganti baju, dan tentu saja segelas kopi lagi. Aku lanjutkan ngobrol dengan kak Ipul, karena ada hal-hal lain yang perlu didalami. Kendati seharian ini ada di kebun, aku tak berani untuk mandi di sore ini, dinginnya cuaca belum beradaptasi dengan tubuh.

Sekarang aku harus mendalami soal sayatan di batang Sengon tadi, kurasa Kak Ipul bisa menjawab. Namun sayangnya, Kak Ipul sudah berlalu kekamarnya, sejenak dengkuran halus mulai mendayu. Mulutkupun mulai menguap, 4 gelas kopi sehari ini, rupanya tak berpengaruh pada mata. Kupluk kurapatkan, selendang dibelitkan ke leher, tak lupa kaos kaki penahan dingin. Dari kejauhan hanya deritan jangkrik dan sesekali terdengar bunyi “kum…kum….” Semendepun senyap.

Dr. Yenrizal, M.Si