Artikel

Kemarau dan Komunikasi Lingkungan


ilustrasi

Tiap tahun, kemarau pasti datang. Ini adalah ritme rutin dalam sebuah wilayah tropis. Setelah diterpa musim penghujan, sekarang kekeringan muncul, kabut asap, dan kebakaran terjadi di berbagai tempat. Masyarakat, pemerintah, semua unsur mulai panik. Padahal, sebenarnya ini adalah rutinitas biasa. Hanya kualitas dan masa terjadinya saja yang berbeda. Dulu, kemarau mungkin tidak terlalu “menyengat” seperti sekarang, waktunyapun tidak terlalu lama. Sekarang, suhu udara terasa begitu menusuk kulit, terjadinyapun sangat panjang.

Sejak sekitar 10 tahun terakhir, ekses kemarau yang paling dirasakan adalah kebakaran hutan dan terjadinya kabut asap. Kekeringan sumber air juga jadi dampak bawaan. Ini tidak terjadi bukan satu atau dua tahun belakangan, tapi lebih dari 10 tahun terakhir. Disinyalir, dari berbagai pemberitaan, ini disebabkan oleh proses pembakaran lahan oleh masyarakat ataupun perusahaan perkebunan tertentu. Bisa juga ini karena memang terbakar secara tidak sengaja, dan kemudian merembet kemana-mana.

Apapun itu, yang jelas terjadinya kemarau dan kabut asap, adalah karena ulah manusia, baik disengaja atau tidak disengaja. Mau mengakui atau tidak, tidak akan terjadi perubahan iklim dan asap yang begitu tebal tanpa campur tangan manusia. Sampai disini, pertanyaan penting yang kemudian bisa diajukan adalah, sudah sadarkah manusia terhadap ulah prilakunya sendiri? Jika tidak, maka tetaplah bersabar “menikmati” apa yang ada, sambil terus berharap dan berdoa pada Tuhan, semoga kemarau cepat berlalu. Walaupun kita juga yakin bahwa doa itu sulit untuk dikabulkan Tuhan.

Memahami alam sebenarnya hanya butuh logika sederhana saja. Alam ibaratkan konsep dalam teori sistem, dimana manusia, hutan, sungai, udara, binatang, adalah sebuah kumpulan dari subsistem, yang kemudian membentuk sebuah ekosistem tersendiri. Semua adalah satu kesatuan, saling berkaitan. Alam telah memiliki perangkat hukum keseimbangan yang saling berkaitan. Kalau hujan turun dengan deras, maka akan terjadi limpahan air yang besar. Kalau air melimpah, dan tidak disiapkan tempat penampungannya, banjir akan terjadi. Sebaliknya, jika hutan dibabat, tempat genangan air ditimbun, suhu udara akan meningkat. Ketika suhu udara meningkat, gumpalan awan menjadi tipis, cahaya mataharipun tidak lagi memiliki filter untuk sampai ke bumi. Akibatnya panas matahari terasa demikian kuat.

Dari logika sederhana di atas, jelas bahwa ada prinsip hukum keseimbangan yang terganggu. Efek dari gangguan itulah yang terasa sekarang. Siapa yang menganggu hukum keseimbangan tersebut? Manusia, tak ada kambing hitam lainnya. Karena itu, solusinya adalah dari manusia itu sendiri.

Kalau kita analisa dari perspektif ilmu komunikasi, tekanan pada komunikasi lingkunganlah yang terabaikan selama ini. Komunikasi lingkungan berkaitan dengan etika lingkungan. Terdapat pelanggaran prinsip komunikasi lingkungan, dan kemudian melakukan pula pengingkaran terhadap etika lingkungan.

Komunikasi lingkungan bukan semata ingin mengatakan interaksi manusia dengan lingkungan alam. Memang berkaitan erat, namun fokusnya lebih pada proses komunikasi antar manusia mengenai kondisi lingkungannya. Saya contohkan, ketika terjadi proses pembakaran lahan dalam membuka kebun oleh masyarakat sekarang ini, darimanakah mereka mendapatkan informasi tentang itu? Tentu saja, dari komunikasinya dengan orang lain. Dulunya, ketika zaman nenek moyang, mungkin proses komunikasi yang terjadi masih mengarahkan pada larangan agar hutan dijaga. Sekarang mungkin sudah beralih pada pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia semata.

Dulu, kalau anda berada di beberapa wilayah pedesaan Sumsel, seperti daerah Lahat, masih ditemukan kata-kata “kalau dide pacak ngilo’i, njage jadilah” (kalau tidak bisa memperbaiki, menjagapun jadilah). Sekarang, hampir tak terdengar lagi, kecuali sebatas tulisan di tugu selamat datang yang terletak di pinggir jalan. Artinya, pewarisan kata-kata yang sifatnya menjaga lingkungan sekitar, tidak lagi pernah dikomunikasikan. Kalaupun dikomunikasikan ke anak-anak dan generasi berikutnya, bunyinya adalah “disana tanah kita, carilah modal, dan bukalah kebun karet atau kebun kelapa sawit”. Cara praktis membuka lahan adalah dengan membakar, dan waktu membakar yang terbaik adalah di musim kemarau. Jadi, kloplah sudah apa yang terjadi sekarang ini.

Komunikasi lingkungan sangat perlu diperluas dan didalami saat ini, namun bukan semata bagaimana memahami makna alam saja, lebih fokus lagi adalah pada bagaimana pesan-pesan moral tentang alam, bencana yang sudah terjadi, kerugian yang pernah dialami, diwariskan dan disampaikan ke generasi berikutnya. Sayangnya ini sudah sangat dilupakan. Alam hanya dipandang dari sudut pandang nilai ekonomis semata. Alam hanya dilihat dari aspek keuntungan materi saat itu saja. Baik masyarakat, pemerintah, pengusaha, semua berkelindan menjadi satu.

Ada sebuah seloroh yang sangat menyindir karakteristik orang Indonesia, termasuk Sumsel. Orang Indonesia ini (baik pemerintah atau masyarakat) itu paling senang melarang dan sekaligus melanggar. Ketika terjadi satu masalah, biasanya selalu diikuti dengan larangan (aturan) agar tidak dilanggar lagi. Sebaliknya yang terjadi justru pelanggaran semakin banyak. Contoh gampangnya, dilarang mengemudi kendaraan sambil menggunakan telepon seluler. Hari ini dibuat larangan, hari itu juga banyak yang melanggar. Dilarang melakukan korupsi, faktanya semakin banyak yang korupsi. Dilarang membakar hutan, kenyataannya semakin banyak titik api yang terjadi. Itulah realitas di negara ini.

Menurut saya mengapa itu terjadi, karena muatan aturan yang dibuat hanya menekankan pada pelarangan, tidak pada upaya mengajak orang untuk tidak melanggar. Upaya untuk tidak melanggar inilah yang dimaknai sebagai aspek komunikasi. Ini juga yang selama ini diabaikan. Saya pikir tak akan efektif pemerintah capek-capek membuat larangan membakar hutan, menempatkan petugas menjaga hutan, menangkapi masyarakat, semua tidak akan bermanfaat secara besar. Kalaupun ada hasil, hanya sesaat. Justru kerusakan semakin parah.

Oleh karenanya, mulai sekarang ada baiknya konsep komunikasi lingkungan digalakkan. Komunikasi yang menempatkan keutuhan lingkungan bersama sebagai satu kesatuan. Komunikasi ini bisa dimulai di warung-warung kopi, di terminal-terminal, di atas perahu, di dalam rumah, di kebun-kebun, termasuk di dalam kantor pemerintah. Wujudnya nanti adalah kesadaran bersama dari seluruh unsur bahwa manusia bergantung dari lingkungan. Dalam waktu singkat bisa muncul kelompok-kelompok sadar alam, atau berbagai kelompok lain. Merekalah nantinya yang akan menjaga alamnya, menjaga hutannya, menjaga kebunnya. Tak perlu pemerintah repot-repot mengirimkan petugas seperti Tagana ke hutan-hutan, masyarakat sebenarnya bisa melakukan itu, namun itu tak pernah dibiasakan lagi.

Seorang Antropolog pernah berujar ke penulis, dalam sebuah diskusi. Apakah dulunya, ketika zaman nenak moyang, masyarakat tidak pernah membakar lahan? Tentu saja pernah, karena itu cara yang efektif. Cuma bedanya, kalau dulu orang membakar lahan untuk membuka lahan seluas satu hektar, sekarang untuk puluhan bahkan ratusan hektar. Dulu orang membakar lahan dengan mempersiapkan penjagaan ketat agar api tidak kemana-mana, sekarang setelah dibakar lahan ditinggalkan karena takut dikejar aparat keamanan. Akibatnya kebakaran meluas kemana-mana. Itulah faktanya dan solusinya ada pada manusia di sekitarnya.