Penelitian

Membuat Panduan Wawancara untuk Penelitian Kualitatif


ilustrasi

Dalam sebuah penelitian kualitatif, Wawancara (Interview) adalah sebuah teknik pengumpulan data yang selalu digunakan. Wawancara ini ditujukan kepada Informan penelitian, yaitu orang-orang yang akan menjadi sumber informasi dalam mendapatkan data-data penelitian. Dalam sebuah wawancara, peneliti akan membekali diri dengan sebuah Panduan Wawancara (dalam istilah lain ada yang menyebutnya dengan Pedoman. Dalam hal ini, saya lebih senang menggunakan istilah PANDUAN karena fungsinya adalah sebagai alat bantu atau panduan, bukan sesuatu yang harus di pedomani secara kaku. Istilah PANDUAN lebih lentur ketimbang PEDOMAN.

Ada dua jenis panduan wawancara yang berbeda yaitu Panduan Wawancara Tidak Terstruktur dan Pedoman Wawancara Terstruktur. Keduanya memiliki perbedaan khas, dimana satunya menggunakan istilah Panduan dan yang satunya menggunakan istilah Pedoman.

Panduan Wawancara Tidak Terstruktur

Panduan ini berupa point-point daftar pertanyaan yang pilihan jawabannya belum disiapkan. Biasanya jawaban-jawaban dari daftar pertanyaan adalah penjelasan tentang sebuah hal, bukan penyebutan. Oleh karena itu, jawaban dalam model ini adalah jawaban yang panjang lebar dan meluas. Informan bisa saja menjawab banyak hal karena memang menginginkan penjelasan. Dalam penelitian kualitatif, hal inilah yang banyak dilakukan. Jenis ini sering juga disamakan dengan model Wawancara Mendalam (Depth Interview).

Pedoman Wawancara Terstruktur

Jenis ini adalah daftar pertanyaan yang sudah memiliki pilihan jawaban. Bentuknya hampir mirip dengan kuesioner dalam penelitian Kuantitatif, tetapi tidak memiliki skor atau penilaian. Hanya saja, pertanyaan yang diajukan sudah diberikan pilihan jawaban. Bentuknya sangat terstruktur dan tersusun secara sistematis dari awal hingga akhir.

Misalnya pertanyaan, Bagaimanakah cara penyampaian informasi tentang bencana alam yang sering terjadi ke anggota masyarakat? Pilihan jawabannya adalah : A. Melalui media sosial yang dimiliki warga. B. Melalui orang tua masing-masing dalam sebuah keluarga. C. Melalui papan pengumuman di desa. D. Melalui surat pemberitahuan kepada warga. E. Melalui forum pertemuan warga. F. ……….. (lain-lain, sebutkan).


Apa kegunaan Panduan Wawancara ?

Kegunaan utamanya sebagai alat bantu yang akan mengarahkan peneliti untuk mengontrol kecukupan data yang diinginkan. Melalui point-point dalam panduan wawancara, peneliti bisa mengetahui apakah data sudah diperoleh ataukah belum. Dikarenakan penelitian kualitatif sangat fleksibel ketika berada di lapangan, maka kemungkinan adanya informasi yang belum diperdalam bisa saja terjadi. Oleh karena itu, panduan wawancara akan memberikan guidance terhadap kebutuhan data.

Tulisan ini akan membahas lebih banyak tentang bagaimana membuat Panduan Wawancara Tidak Terstruktur.

Ada beberapa kelemahan atau masalah yang sering terjadi dalam membuat panduan wawancara, berdasarkan pengalaman penelitian dan pembimbingan terhadap mahasiswa yang melakukan penelitian.

Pertama, pertanyaan yang dibuat adalah pertanyaan yang kaku.

Misalnya, dengan mengajukan pertanyaan : Apakah anda mengetahui tata cara berkomunikasi yang baik dan benar di organisasi ini? Bagaimana perasaan anda ketika bertemu pimpinan untuk berkomunikasi?

Kedua, pertanyaan tidak dibuat berdasarkan rumusan masalah.

Ini seringkali terjadi, yaitu pertanyaan yang tidak dibuat berdasarkan rumusan masalah. Akibatnya banyak pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu dimunculkan.

Ketiga, pertanyaan tidak jelas akan ditujukan ke siapa.

Ini juga sering terjadi, dimana seharusnya ketika menyusun panduan wawancara sudah ditentukan kepada siapa pertanyaan itu akan diarahkan, sehingga kemudian berdampak pada materi yang akan ditanyakan.

Oleh karena itu, beberapa hal berikut ini bisa dijadikan referensi bagaimana sebaiknya membuat Panduan Wawancara Tidak Terstruktur.

Pertama, harus diingat bahwa Panduan Wawancara digunakan untuk panduan bagi peneliti, bukan pedoman yang kaku dan ketat. Sebagai sebuah panduan, maka tidak mesti yang ditulis adalah daftar pertanyaan. Bisa saja yang ditulis adalah point-point penting saja. Ini lebih membantu karena peneliti menjadi lebih fleksibel dan bisa leluasa mengembangkan aspek yang akan ditanyakan.

Misalnya :

  1. Antusiasme dalam menonton TV.
  2. Alasan menonton sebuah tayangan
  3. Pihak-pihak atau anggota keluarga yang biasanya ikut menemani menonton TV
  4. Ketertarikan terhadap sebuah tontonan.

Cara seperti di atas akan membuat peneliti leluasa. Peneliti bisa mengajukan pertanyaan dengan cara apa saja, disesuaikan dengan kondisi informan dan setting lokasi saat wawancara. Yang penting, point-point di atas bisa terjawab. Apakah bertanyanya dengan cara ngalor ngidul dulu atau ngobrol kesana kemari, kemudian baru masuk ke substansi, semua bisa saja dilakukan. Situasi dan kondisi saat wawancara akan menentukan.

Kedua, Buatlah point-point pertanyaan dengan mengacu pada rumusan masalah atau pertanyaan penelitian.

Ini harus betul-betul diperhatikan karena rumusan masalah adalah patokan utama dalam penelitian. Data yang ingin dicari dengan panduan wawancara harus mengacu pada pertanyaan-pertanyaan penelitian, karena pertanyaan itulah yang ingin dicarikan jawabannya. Pertanyaan ini akan didalami melalui praktek wawancara langsung dan bersifat dialogis.

Pendalaman ini sangat tergantung situasi dan kondisi. Peneliti harus betul-betul paham dengan point pertanyaan, dan jawaban mendasar dari masing-masing pertanyaan itu harus selalu dikejar oleh peneliti. Inilah yang disebut wawancara mendalam yaitu bukan sebatas menemukan jawaban dari informan tapi memastikan bahwa jawaban tersebut adalah yang sebenarnya.

Oleh karena itu situasi dan kondisi (sesuai pengamatan) dari informan harus betul-betul dicermati oleh peneliti. Biasanya, jawaban pertama dari informan belum bisa dipegang kebenarannya. Setelah sekian waktu berdialog biasanya baru muncul kebenaran, bahkan bisa saja jawaban sebenarnya itu muncul di hari kedua dan ketiga. Oleh karena itu, jangan bersikap kaku dengan pertanyaan, buatlah panduan saja, dan kembangkan di saat praktek lapangan.

Ketiga, untuk memudahkan, point pertanyaan tersebut susunlah secara berurutan sesuai keterkaitan antara masing-masing hal yang akan ditanyakan.

Hal ini akan membantu peneliti untuk membuat check list pertanyaan yang sudah dijawab atau belum. Urutan ini juga adalah urutan fleksibel, dengan kata lain saat mewawancarai bisa saja akan acak, sesuai dengan situasi yang ada. Bisa saja saat menanyakan point pertama, akan langsung terjawab point kedua dan ketiga. Jika ini terjadi, peneliti tinggal melakukan check list saja.


Beberapa hal di atas adalah trik saja, bisa saja dilakukan model-model lain. Intinya adalah peneliti bisa mengidentifikasikan apa saja yang ingin ditanyakan dan kebutuhan datanya.

Perlu diingat disini bahwa dalam penelitian kualitatif, situasi wawancara haruslah berlangsung cair dan santai. Jangan berlaku seperti petugas Sensus yang akan mewawancarai seseorang. Ciptakanlah suasana yang apa adanya, santai dan tidak berjarak. Cara-cara Ngobrol jauh lebih baik ketimbang wawancara secara formal. Kertas atau buku panduan wawancara tidak perlu diperlihatkan kepada informan, simpan saja oleh peneliti. Tujuannya agar situasi lebih luwes dan tidak berjarak. Suasana yang santai memang menjadi kunci penting dalam wawancara kualitatif. Tetapi peneliti harus ingat dan hapal point-point yang akan ditanyakan. Sesekali boleh saja dibuka jika memang diperlukan.

Hal ini di atas menunjukkan bahwa dalam penelitian kualitatif, Panduan Wawancara bersifat fleksibel. Jawabannya juga tidak bisa diharapkan akan didapatkan saat itu juga. Terkadang butuh berkali-kali ngobrol barulah didapatkan jawaban yang sebenarnya. Disinilah pentingnya intuisi peneliti, kesabaran, keuletan, dan pemahaman terhadap point pada panduan wawancara.

Ingat, Jam Terbang Peneliti akan Menentukan Kemampuan dalam Menggali Data Lapangan