Materi Kuliah

Menentukan Topik Penelitian


ilustrasi

PENGANTAR :

Tulisan dibuat sebagai sebuah rangkaian dalam proses pembelajaran di FISIP UIN Raden Fatah. Sejatinya, ini diperuntukkan untuk mahasiswa FISIP UIN Raden Fatah yang mengambil mata kuliah tersebut. Hanya saja, karena sifat materi ini lintas disiplin bagi keilmuan sosial, maka siapapun boleh-boleh saja ikut membaca tulisan ini. Sekiranya bermanfaat tentu itu hal yang positif. Dikarenakan ini adalah rangkaian materi kuliah, maka struktur penyajiannya juga mengikuti gaya perkuliahan. Sekali lagi ini bukan makalah ataupun artikel lepas, tapi sajian khusus untuk mempermudah proses penyampaian materi kuliah dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Topik dalam Penelitian

Pertama sekali, pahami terlebih dahulu apa itu topik dalam penelitian. Hal ini penting karena dalam sebuah proses penelitian, penentuan topik akan menjadi titik sentral sebelum masuk ke tahapan-tahapan penelitian berikutnya.

Topik dalam penelitian adalah tema sentral yang akan dibahas dalam penelitian tersebut. Topik ini bisa didapatkan dari berbagai sumber bacaan, pengamatan, ataupun dari hasil penelitian orang lain. Topik berbeda dengan judul penelitian. Judul sendiri adalah bentuk turunan dari topik yang sudah ditentukan. Sebuah topik dalam penelitian bisa saja ditinjau dari berbagai sudut pandang. Variasi sudut pandang inilah yang kemudian akan  mengerucut menjadi judul yang konkrit.

Ada beberapa cara yang bisa digunakan sebagai rambu-rambu dalam merumuskan topik dalam penelitian. Beberapa hal berikut bisa dijadikan panduan :

  1. Pastikan bahwa topik yang dibahas adalah sesuatu yang memang menarik.

Kendati ukuran menarik atau tidak itu sangat relatif, anda bisa mengambil patokan-patokan standar, seperti jarang/belum pernah diteliti orang, sesuatu yang baru (isu baru), sesuatu yang sedang hangat dibicarakan, atau sesuatu yang sedang menjadi kontroversi. Misalnya, anda ingin mengambil tema tentang “Tindak Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama”. Ini bisa dikatakan topik yang menarik, alasannya masalah ini sedang hangat, melibatkan banyak pihak, dan memerlukan tinjauan-tinjauan praktis dan teoritis. Topik tersebut tentunya masih sangat luas, disinilah nantinya judul penelitian yang akan memberikan batasan.

2. Pastikan anda memiliki akses dan kemampuan untuk meneliti topik tersebut.

Alasan ini sebenarnya praktis, tetapi penting. Sering terjadi seorang peneliti memilih topik-topik yang menarik, bahkan sangat menarik, namun mengalami kesulitan ketika akan menelitinya. Akses dan kemampuan ini berkaitan dengan hal teknis, seperti kemudahan dalam akses data, kemampuan secara intelektual, kemampuan secara fisik, dan kemampuan secara finansial/keuangan. Meneliti jelas membutuhkan sumber daya yang besar (terutama tenaga, fikiran, dan uang). Jadi anda harus menentukan topik yang anda sendiri mampu melakukannya.

3. Yakinkan bahwa topik yang diangkat memang memiliki nilai kemanfaatan.

Ini sebetulnya aspek praktis. Apa yang diteliti harus punya manfaat, baik untuk objek yang diteliti, si peneliti sendiri, ataupun masyarakat luas. Tanggung jawab keilmuan secara akademik mengharuskan adanya hal ini. Jangan sampai anda meneliti sesuatu yang manfaatnya tidak jelas.

4. Pastikan topik itu memiliki kaitan langsung dengan bidang ilmu yang ditekuni.

Seringkali bidang kajian sebuah ilmu memiliki korelasi atau keterkaitan dengan bidang ilmu lainnya, khususnya ilmu sosial. Seperti Ilmu Komunikasi punya kaitan dengan Sosiologi, Antropologi, dan bidang lainnya. Seorang peneliti harus bisa memastikan bahwa topiknya punya kaitan langsung dengan bidang yang ditekuni, jangan masuk ke wilayahnya keilmuan lain.

Empat hal di atas sudah bisa jadi patokan pertama ketika anda akan membuat penelitian. Untuk penentuan topik sudah bisa dilakukan. Beberapa referensi lain memang ada yang memberikan batasan-batasan yang lebih banyak, seperti menurut Moleong (2004), Descombe (2003), Denzin dan Lincoln (2005), serta banyak penulis lainnya. Hanya saja, secara umum dan sederhana, batasan tersebut sudah bisa membawa anda pada sebuah topik penelitian.
Disarankan juga jika anda ingin lebih mudah lagi dalam menentukan topik penelitian, anda harus rajin membaca hasil penelitian orang lain. Dari hal tersebut biasanya akan tampak dan tergambar dengan baik, topik apa saja yang menarik untuk diteliti.

Dalam menentukan topik penelitian, seringkali mahasiswa/peneliti mengalami kendala. Kendala ini sebenarnya ada pada diri si peneliti sendiri. Beberapa hal yang sering dialami adalah :

  1. Terperangkap pada hasil penelitian orang lain.

Ini kerap terjadi, yaitu mahasiswa membaca skripsi orang lain, kemudian membandingkan bahwa jika mereka bisa seperti itu, kenapa saya tidak. Padahal apa yang dibuat oleh orang lain tersebut, juga belum tentu benar. Padahal, sesuatu yang sudah diteliti orang lain, tentunya tidak lagi menarik untuk diteliti.

  1. Tidak tahu harus memulai dari mana proses penelitian.

Ini dikarenakan si mahasiswa belum memahami dengan baik esensi penelitian, karena itu kebingungan akan berbicara tentang apa. Ada baiknya, seorang calon peneliti harus mempelajari dan memahami terlebih dahulu apa dan bagaimana sebuah metodologi penelitian, baru kemudian membaca dan mengkritisi hasil penelitian orang lain.

  1. Tergoda oleh isu-isu besar.

Ibarat kata-kata “nafsu besar tenaga kurang”, seorang peneliti tergoda ingin meneliti sesuatu yang “aneh”, tapi tidak mempertimbangkan kemampuan pribadi, baik secara teknis, maupun secara intelektual. Akibatnya adalah kesulitan ketika melakukan penelitian. Pelaksanaan sebuah penelitian, dipastikan membutuhkan berbagai sumber daya, mulai dari uang, tenaga, waktu, dan akses. Semua harus dipertimbangkan. Jika anda meneliti, tapi anda tidak cukup dana untuk melakukannya, pasti akan kerepotan sendiri. Begitu juga, jika anda tidak bisa mengakses data, pasti penelitian tak akan selesai atau tak sempurna.

  1. Tidak memahami basis keilmuannya sendiri.

Penelitian secara ilmiah memiliki karakteristik tersendiri. Karakter ini akan melekat pada bidang ilmu si peneliti. Oleh karena itu, dasar teori dalam penelitian akan menunjukkan bidang ilmu tersebut. Seringkali seorang mahasiswa/peneliti, membuat topik yang melenceng dari bidang ilmunya. Masalahnya ternyata karena ia tidak paham bidang ilmunya sendiri.
Kesalahan-kesalahan umum seperti di atas harus diperbaiki oleh seorang peneliti. Sedapat mungkin ia harus melepaskan diri dari hal tersebut. Ini penting, karena kualitas hasil penelitian dan kemampuan peneliti untuk membuat hasil penelitian yang lebih baik, sangat bergantung pada hal ini.

Selanjutnya apabila topik penelitian sudah ditentukan, maka pertanyaan berikutnya adalah “Anda akan menelitinya dari sudut pandang apa?” Ini dilakukan sebelum masuk ke judul. Penentuan sudut pandang akan membawa anda pada perumusan judul, permasalahan, sampai pada metodologi penelitian nantinya.

Sebagai contoh, anda memilih topik “Kekerasan atas nama Agama”. Sudut pandang yang akan digunakan bisa bervariasi, andalah yang harus menentukan. Biasanya ini terkait dengan bidang ilmu. Topik di atas bisa anda lihat dari keilmuan komunikasi, hukum Islam (Syariah), pendidikan Islam (Tarbiyah), dan lain sebagainya. Misalnya anda sudah menetapkan sudut pandang Komunikasi, pertanyaan berikut yang muncul adalah, komunikasi yang bagaimana yang anda maksudkan. Bisa saja anda memakai komunikasi massa (penggunaan media massa), komunikasi antar personal, komunikasi organisasi, komunikasi politik, dan sebagainya. Semua ini adalah sudut pandang, dan andalah yang akan menentukan sudut pandang tersebut. Tentu saja ada alasan yang membuat pilihan pada hal tersebut.

Referensi
Denzin K Norman, Yvonna Lincoln, Handbook of Qualitative Research, Sage Publication, London, 2005

Denscombe, Martin, Research Guide, Mc Graw Hill, Open University Press, Philadelphia, 2003

Salim, Agus, Penelitian Deskriptif Interpretatif, Tanpa Tahun dan Penerbit.

Muhajir, Nong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Sarasin, Yogyakarta, 2000.
Moleong, Lexy J, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000

* Dr. Yenrizal, M.Si.

Dosen Metode Penelitian pada FISIP UIN Raden Fatah Palembang