Materi Kuliah
MENULISKAN LATAR BELAKANG MASALAH
- Yenrizal
- 14 Mar 2023
- dilihat 335
ilustrasi
Latar Belakang masalah pada sebuah proposal penelitian adalah unsur penting karena disinilah akan dijelaskan berbagai aspek penting mengapa sebuah topik penelitian harus dilakukan. Akan tetapi bagi peneliti pemula, tidak mudah untuk membuat ini. Seringkali timbul kesulitan, seperti harus memulai dari mana dan apa saja yang harus dituliskan. Hal tersebut akan dibahas pada tulisan berikut ini.
Syarat utama untuk bisa membuat latar belakang masalah penelitian adalah sebagai berikut :
- Menguasai judul yang dipilih.
Ini penting sekali karena latar belakang masalah dibuat berdasarkan pada judul penelitian. Untuk itu peneliti harus paham betul setiap kata dan kalimat pada judul. Selalu diingat dan selalu dipahami kemana sebetulnya judul itu diarahkan.
- Menguasai teknis penulisan ilmiah yang baik dan benar.
Hal ini meliputi kemampuan teknis menulis seperti penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar (huruf besar-kecil, huruf miring, penulisan paragraf termasuk ketentuan harus adanya ide pokok dalam suatu paragraf, hubungan antar paragraf, teknik pengutipan yang baik dan benar)
- Membaca banyak referensi terkait judul yang dipilih.
Kekuatan latar belakang ada pada referensi, karena referensi itulah yang akan menunjukkan bahwa apa yang akan diteliti memang sesuatu yang berbasiskan pada data, bukan sekedar asumsi atau mengarang. Referensi ini kemudian dijadikan sebagai sumber kutipan.
- Menguasai bidang ilmu yang didalami terutama teori-teori yang digunakan.
Salah satu ciri khas latar belakang adalah tampak jelas sebuah gap pada riset yang akan dilakukan atau need of interest, sesuatu yang menunjukkan sesuatu itu penting dan menarik. Gap pada riset ini ditampakkan pada perbedaan antara realitas yang ada dengan konteks ideal yang seharusnya. Misalnya, mengapa perlu meneliti soal Pengaruh Tayangan Kekerasan di TV Terhadap Prilaku Anak? Karena secara ideal (teoritis) TV itu memberikan pengaruh positif pada publik, tapi FAKTANYA/REALITASNYA, justru banyak menimbulkan ekses negatif. Bagian inilah yang perlu diperjelas dengan baik.
Apabila syarat-syarat di atas sudah dikuasai, maka mulailah menuliskan latar belakang masalah. Perlu diingat bahwa menulis latar belakang adalah membuat sebuah NARASI yang bercerita secara terstruktur atau tersusun dengan alur berpikir yang jelas. Bagaimana memulainya? Beberapa tips di bawah ini bisa dijadikan pedoman, khususnya bagi peneliti pemula.
1. Mulailah dengan menunjukkan contoh kasus terkait topik yang diteliti.
Memulai dengan contoh kasus akan bisa membuat orang tertarik saat membaca sebuah proposal. Hindarilah pembahasan yang bersifat umum dan terlalu luas karena itu dianggap biasa saja dan pasti dianggap kurang menarik.
Misalnya judul penelitian : “Komunikasi Antar Budaya Etnis Tionghoa dengan Etnis Lokal di Kota Palembang”
Latar Belakang
Tahun 1998, meletus kerusuhan massal di Indonesia. Pada peristiwa yang kemudian melahirkan orde reformasi di Indonesia terdapat korban jiwa yang tidak sedikit. Etnis keturunan Tionghoa kemudian menjadi pihak terbanyak yang dijadikan sasaran amuk massa. Kota-kota besar di Indonesia lumpuh total, dan tak terkecuali Palembang (Sriwijaya Post, 25 Mei 1998).
Jauh sebelum peristiwa 1998, Indonesia juga pernah mengalami pertikaian berbau etnis, walaupun sebenarnya tidak punya kaitan langsung ke soal suku bangsa ini. Peristiwa pasca G30S/PKI adalah bukti nyata dimana etnis Tionghoa sangat rentan menjadi objek kerusuhan. Dengan menggunakan label PKI/Komunis, ratusan dan bahkan ribuan etnis Tionghoa menjadi korban tanpa ada pengadilan sedikitpun (Gonggong, 2010).
Contoh di atas adalah memulai Latar Belakang dengan kasus. Untuk ini, peneliti harus mencari berbagai referensi dan bahan bacaan yang menjadi sumber penjelasan kasus tersebut. Sumber ini bisa dari hasil riset orang lain atau dari media massa. Apabila sudah bisa membuat awalan yang menarik, biasanya akan mudah meneruskan ke tahapan berikutnya.
2. Setelah contoh kasus ditunjukkan, lanjutkan dengan menghubungkan contoh kasus tersebut pada aspek pentingnya.
Melanjutkan contoh di atas, penulis bisa meneruskan dengan gaya kalimat seperti berikut :
Dua contoh kasus di atas menunjukkan bahwa persoalan antar etnis, terutama antara etnis keturunan Tionghoa dengan warga lokal di Indonesia, tidaklah baik-baik saja. Terdapat sejumlah persoalan yang menjadikannya sebagai api dalam sekam. Pada saat-saat tertentu api ini bisa saja membakar besar, walaupun penyebabnya tidaklah pada etnis Tionghoa.
Etnis Tionghoa sebetulnya adalah etnis yang sudah bermukim sejak lama di Indonesia, bahkan jauh sebelum negara ini terbentuk (Ari, 2002). Bukti-bukti sejarah banyak menunjukkan bahwa etnis Tionghoa ikut mewarnai berdirinya negara ini. Ia sudah ada sejak eranya Sriwijaya, masa Kesultananan hingga masa kemerdekaan dan sampai saat ini (Yusalia, 2022). Tetapi kendati sudah berhubungan sejak lama, tetap saja konflik bisa meledak tanpa bisa diduga oleh siapapun.
3. Lanjutkan dengan pembahasan hubungan keilmuan dengan mengedepankan beberapa hasil riset orang lain terdahulu.
Setelah menjelaskan soal kerentanan hubungan antar etnis khususnya etnis Tionghoa di Indonesia, lanjutkan dengan hubungan keilmuan. Sebagai contoh bisa dilihat berikut ini.
Banyak kajian yang sudah dilakukan yang memperlihatkan bahwa hubungan dengan etnis Tionghoa memang menyimpan masalah di Indonesia. Secara Sosiologis dikatakan bahwa sentimen etnis ini disebabkan sistem sosial yang tidak terbangun dengan baik, termasuk adanya intervensi politik negara yang kerap tidak bersikap adil (Tanasaldi, 2008). Tetapi tidak hanya aspek Sosiologis, hubungan etnis menunjukkan persoalan komunikasi antara etnis yang tidak berjalan baik. Hubungan baik bisa terjadi kalau ada persepsi positif tentang masing-masing etnis. Apabila persepsi sudah negatif apalagi mengandung stereotype, maka singgungan antar etnis mudah sekali terjadi (Mulyana, 2002).
Pada konteks inilah, persoalan antar etnis sebenarnya adalah persoalan komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya. Komunikasi antar budaya sendiri adalah komunikasi antara orang-orang berbeda budaya yang tujuannya adalah terjadinya akulturasi hingga asimilasi (Kim, 2007). Apabila mampu melakukan dan mengelola komunikasi yang baik, akan bisa menciptakan hubungan antar budaya yang lebih baik.
4. Lanjutkan dengan menghubungkan pada konteks yang diteliti, bisa pada lokasi atau objek yang diteliti. Jelaskan mengapa objek ini penting. Carikan pembanding yang menunjukkan objek tersebut memang berbeda dan menarik.
Kelanjutannya bisa dilihat dari contoh berikut.
Kota Palembang sendiri adalah salah satu kota dengan jumlah etnis Tionghoa yang banyak. Setidaknya data dari BPS menunjukkan saat ini terdapat sebanyak 1 juta orang adalah keturunan Tionghoa. Angka ini berarti hampir separoh dari total penduduk Palembang. Di Palembang sendiri, sebagaimana dicontohkan di awal, juga memiliki rekam jejak negatif dalam hubungan antar etnis ini. Padahal ditilik sejarah, Tionghoa sudah sangat lama bermukim di kota. Tionghoa yang ada sekarangpun sebenarnya bukan lagi yang asli, mereka lebih dikenal sebagai Tionghoa peranakan (Ari, 2002). Artinya, dibandingkan daerah lain, keberadaan Tionghoa di Palembang sangat strategis, apalagi Palembang sendiri adalah kota tertua di Indonesia. Sejarah Palembang sendiri sebenarnya adalah sejarah Tionghoa di Indonesia (Yusalia, 2022).
5. Tutup dengan penjelasan tegas bahwa berdasarkan hal tersebut tampak bahwa topik ini, terutama melihat pada kondisi kekinian, topik keilmuan serta karakteristik objek, topik ini menjadi penting.
Atas dasar itulah tampak bahwa pembahasan mengenai hubungan antar etnis terutama Tionghoa di Palembang sangat penting. Secara teoritis ini terkait dengan bidang kajian utama Komunikasi Antar Budaya, sekaligus juga bisa ditegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan etnis di Palembang bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,
Demikianlah beberapa cara membuat latar belakang masalah. Tentu saja masing-masing orang punya gaya masing-masing.Tetapi panduan secara umum bisa dilihat pada narasi di atas. Kekuatan data dan akurasi data menjadi penting. Termasuk pula bagaimana menulis yang baik dan benar.
Beberapa hal penting harus diingat saat menuliskan latar belakang adalah sebagai berikut :
- Dituliskan dalam bentuk narasi atau bercerita yang bersifat terstruktur dan jelas alur ceritanya dari awal hingga akhir. Hubungan antar paragraf adalah kata kuncinya
- Jangan sampai banyak terjadi redudansi atau pengulangan kata dan kalimat. Carilah kata-kata yang tepat untuk setiap kalimat.
- Setiap argumen yang bersifat penekanan sebaiknya menggunakan referensi. Jangan mengarang karena latar belakang harus diisi dengan data
- Jangan menggunakan sub judul tambahan. Latar belakang adalah satu sub judul karena itu jangan ditambahi dengan sub judul lainnya
- Perhatikan dengan baik semua ejaan, pastikan sudah sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai panduan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD).
- Jangan terlalu panjang juga jangan terlalu pendek. Tidak ada batasan khusus jumlah halaman, tetapi biasanya penulis membuat antara 800 – 1.200 kata.
INGAT, LATAR BELAKANG ADALAH PINTU AWAL SEBUAH PROPOSAL, KARENA ITU BUATLAH SECANTIK MUNGKIN. SELAMAT MENULIS
Yenrizal/Dosen Metode Penelitian FISIP UIN Raden Fatah Palembang
Palembang - Clouds



0 Komentar