Materi Kuliah
Perbedaan Kualitatif dengan Kuantitatif
- Yenrizal
- 23 Nov 2021
- dilihat 232
ilustrasi
PENGANTAR : Tulisan dibuat sebagai sebuah rangkaian dalam proses pembelajaran di FISIP UIN Raden Fatah. Sejatinya, ini diperuntukkan untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut. Hanya saja, karena sifat materi ini lintas disiplin bagi keilmuan sosial, maka siapapun boleh-boleh saja ikut membaca tulisan ini. Sekiranya bermanfaat tentu itu hal yang positif. Dikarenakan ini adalah rangkaian materi kuliah, maka struktur penyajiannya juga mengikuti gaya perkuliahan. Sekali lagi ini bukan makalah ataupun artikel lepas, tapi sajian khusus untuk mempermudah proses penyampaian materi kuliah dengan memanfaatkan teknologi informasi
Dalam melaksanakan sebuah penelitian terdapat dua buah metode yang lazim digunakan (sering juga disebut pendekatan) yaitu Kualitatif dan Kuantitatif. Dalam hal ini saya lebih cenderung menggunakan istilah Pendekatan ketimbang Metode, karena Kuantitatif dan Kualitatif sebetulnya lebih kepada bagaimana kita melihat dan mendekati dalam memahami masalah. Cara mendekati masalah kemudian baru diturunkan menjadi Metode. Pendekatan akan memiliki banyak Metode. Artinya baik Kuantitatif atau Kualitatif, keduanya kemudian punya metode-metode tersendiri dalam praktiknya.
Bagi peneliti pemula (bahkan juga peneliti yang sudah punya pengalaman) seringkali masih terkendala dalam memahami apa perbedaan antara kedua pendekatan ini. Padahal membedakan antara kedua hal ini sangat penting sekali, karena akan berefek pada pelaksanaan penelitian. Konsistensi penelitian akan tampak jelas dari pemahaman yang tepat terhadap dua hal ini.
Apa sebetulnya perbedaan antara kedua pendekatan ini? Banyak sekali perbedaannya, mulai dari sifat, data, teknik, analisis, sampel, dan lainnya. Semua berbeda, dan semestinya bisa dipahami satu persatu, bahkan dari judul saja sudah bisa diketahui pendekatan yang digunakan. Sebelum membahas perbedaan satu persatu, ilustrasi berikut bisa dijadikan langkah awal dalam memahami.
Kasus pertama, seorang mahasiswa (misalnya Ahmad) diminta menjelaskan tentang mahasiswa lainnya (misalnya Yanto). Antara Ahmad dan Yanto sudah saling kenal, bahkan mereka juga tinggal satu kost, sudah 2 tahun lebih keduanya serumah. Saat diminta menjelaskan, Ahmad bisa menjelaskan sosok Yanto dengan baik, dikatakannya bahwa Yanto orangnya baik, ramah, suka menolong, walau kadang-kadang suka merajuk. Yanto juga dikatakan agak penakut, walaupun badannya besar. Kendati demikian, Yanto orangnya rajin belajar dan jujur, tidak mau menyontek dan selalu buat tugas tepat waktu.
Kasus kedua, sekarang mintalah Ahmad menjelaskan sosok Hamdi, mahasiswa lainnya. Dengan Hamdi, ia tidak terlalu kenal karena Hamdi adalah mahasiswa transferan dan baru pindah pada semester ini. Ahmad baru bertemu kali ini dengan Hamdi. Saat diminta menjelaskan, Ahmad berkata bahwa Hamdi adalah seorang yang berkulit hitam manis, berpakaian rapi, rambutnya ikal, berkacamata, tingginya sekitar 160 cm dengan berat kira-kira 60 Kg. Saat diminta menjelaskan sifat-sifatnya, Ahmad tidak bisa. Ia hanya bisa menjelaskan apa yang dilihatnya saat itu.
Pada ilustrasi di atas, maka contoh kasus pertama, bisa disebut sebagai pengibaratan pada Pendekatan Kualitatif, sementara kasus kedua adalah Pendekatan Kuantitatif. Pendekatan Kualitatif sangat subjektif, dimana Ahmad bisa menjelaskan Yanto dengan detil karena ia sudah tahu dan kenal baik siapa Yanto. Artinya subjektifitas Ahmad akan terlibat saat menjelaskan Yanto, sehingga bisa mengatakan bahwa Yanto adalah orang yang baik, rajin, jujur, perajuk, dan sebagainya. Ia bisa menjelaskan itu karena ia sudah kenal lama dengan Yanto.
Sebaliknya pada kasus kedua, Ahmad hanya bisa menjelaskan Hamdi sesuai dengan apa yang bisa dilihatnya saja, secara objektif saja, sosok Hamdi dari tampak luarnya. Hal ini dilakukan karena ia tidak kenal Hamdi, karena itu hanya sesuai yang tampak dalam penglihatannya saat itu saja. Penjelasannya sangat objektif, tidak melebihkan atau mengurangi. Penjelasan seperti inilah yang disebut dengan Kuantitatif, yaitu secara objektif dan sesuai yang terlihat.
Jelas sekali antara kedua kasus tersebut terdapat dua perbedaan mendasar, bukan hanya pada cara melihat saja, tapi juga pada analisa yang kemudian diberikan.
Tetapi perbedaan antara dua pendekatan di atas, bukan dalam konteks salah atau benar, karena kedua-duanya benar. Ahmad benar dalam menjelaskan Yanto, karena ia sudah kenal lama, dan itu bisa dikonfirmasi ke Yanto. Sementara, Ahmad juga benar dalam menjelaskan Hamdi, sesuai dengan apa yang dilihatnya saat itu. Dalam hal ini, bisa ditegaskan bahwa pemakaian Kualitatif atau Kuantitatif bukan soal salah benar, keduanya sama-sama benar.
Kenapa hasilnya berbeda? Karena keduanya memiliki cara memandang yang berbeda. Sekali lagi, TIDAK ADA yang salah dari keduanya, hanya cara melihatnya yang berbeda.
Contoh di atas, kiranya bisa mempermudah memahami kualitatif dan kuantitatif.
Dalam hal ini harus dihindari kekeliruan pemahaman umum bahwa kuantitatif itu hanya angka, kualitatif adalah kata-kata. Selama ini, peneliti pemula cenderung hanya memahami itu saja, bahwa Penelitian Kualitatif adalah penelitian menggunakan kata-kata, narasi dan kalimat, dan Penelitian Kuantitatif adalah penelitian menggunakan angka-angka. Tidak salah memang, tapi bukan hanya itu, perbedaan bukan soal angka atau kata saja. Dari mulai cara melihat objekpun sudah kelihatan perbedaannya.
Secara detil, perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari bagan berikut.
Bagan 1. Perbedaan Kualitatif dan Kuantitatif
Demikianlah penjelasan tentang perbedaan kedua pendekatan dalam penelitian ini. Untuk memudahkan dalam memahami, harus dipraktekkan, minimal dalam membuat proposal penelitian.
Dr. Yenrizal, M.Si.
Palembang - Mist



0 Komentar