Cerpen
PILAKUIK
- Yenrizal
- 25 Sep 2021
- dilihat 192
ilustrasi
Sore itu acara manuga (menanam bibit ke tanah, sering disebut Menugal) sudah selesai. Lahan seluas sekitar 1 ha sudah tertaburi biji-biji kacang tanah. Para tetangga yang tadi bergotong royong sudah pulang ke rumah masing-masing. Ibu-ibu mulai mengemasi segala perlengkapan manuga yang dipakai, sisa bibit, karung-karung kosong, piring dan gelas sisa makan siang.
Wajah Bapak sedikit lega, walau tampak lelah. Mungkin membayangkan, sekitar 3 atau 4 bulan lagi kacang tanah akan dipanen, terbayang berondolan biji kacang gemuk-gemuk yang akan dimasukkan ke dalam sukek-sukek (sukat, alat ukur beras dan kacang tanah). Paling tidak biaya sekolah anak-anaknya yang berjumlah 4 orang, akan terbantu.
“Hoii Ndi, elo lah tali ko ka ujuang (tarik lah tali ini ke ujung),” teriak Bapak dari ujung ladang. Aku yang sedang asyik mengais-ngais tanah mencari bekas burung Puyuh bersarang di sekitar bekas tugalan, segera berlari. Tali kecil yang ujungnya sudah diikat dengan sebilah kayu, segea kutarik, sementara Bapak memegang di ujung lainnya. Terdapat dua lembar tali yang disusun bertingkat, dalam jarak beberapa meter dipasang tiang sehingga tali menjadi kencang. Sekeliling ladang dipasangi tali ini, menyerupai pagar. Karena ladang ini cukup luas, rentangan tali juga cukup panjang.
Magrib hampir menjelang, agas-agas kecil mulai beterbangan ke pangkal kuping, berbaur dengan dengungan nyamuk yang terus berdenging. Kami harus segera menyelesaikan pemasangan tali ini, sebelum malam datang.
“Nah lah sudah, pasanglah kait diujung buluh itu,” ujar Bapak sambil menarik tali agar lebih kencang. Di setiap sudut ladang memang dipasang joaran bambu, dibuat melengkung dan diberi pengait dibawahnya. Saat pengait dipasang, tali disepanjang pinggir ladang akan terentang kencang. Satu tali lagi terhubung ke arah Dangau yang berada di tengah. Ada 4 tali yang terhubung ke Dangau, sesuai jumlah sudut ladang ini.
Setelah kait dipasang, Bapak mencoba menyenggol tali yang terentang di sisi ladang. Seketika saja…..Bumm…Gubrak!!, dinding Dangau yang terbuat dari papan kering itu berdentum di hantam batu sebesar dua kepalan orang dewasa. Batu itu memang sengaja digantungkan dan terhubung pada tali yang ditarik dari setiap sudut ladang. Apabila tali di sisi ladang tersentuh atau tersenggol, maka kait dari joaran buluh akan lepas, dan secara otomatis batu yang tergantung di dinding Dangau akan lepas mengayun dan menghantam dinding Dangau.
“Kalau ada Babi masuk nanti malam, dia pasti menyenggol tali itu, Pilakuik pasti bingkeh (lepas),” kata Bapak lagi. Aku hanya mengangguk-angguk. Rupanya ini semacam penanda bahwa ada “sesuatu” yang masuk ke ladang. Karena ladang ini baru ditanam kacang tanah, maka Babi Hutan adalah hewan yang paling diwaspadai. Kondiak (babi) ini memang suka dengan kacang tanah.
“Lantas, kalau tahu Pilakuik bingkeh, apa yang harus kita lakukan, apa kita kejar babi itu pak?”tanyaku ragu, membayangkan sosok babi hutan besar bertaring runcing, yang pasti melawan jika terganggu. Bahkan pernah tetanggaku dulu harus menerima banyak jahitan, gegara diseruduk saat berburu babi hutan.
“Ha…ha…buyung, buyung. Babi itu paling takut sama manusia, Waang cukup berteriak saja kuat-kuat mengusir babi itu, atau menyanyi sajalah kuat-kuat, pasti lari dia itu. Tak perlu waang turun, dari dangau saja,” kata bapak. Tapi setelah beberapa menit berteriak, sorotlah dengan senter ke semua sudut, setelah itu pasti babinya keluar, maka pasang lagi Pilakuiknya. “Ah cukup menantang juga ini,” pikirku. Sebenarnya aku tak terlalu takut dengan babi hutan, biasa saja karena sudah sangat sering kulihat makhluk ini, bahkan pernah kujumpai sampai 5 ekor sedang berkubang di bancah ladang belakang. Hanya saja aku sedikit ngeri kalau mengingat tetanggaku yang pernah diseruduknya.
Bapak dulu pernah berpesan, jika kamu dikejar babi hutan, larilah ke kiri-kanan, jangan lari lurus ke depan. “Babi itu larinya lurus saja, susah dia belok, makanya kalau dikejar, larilah dengan belok kiri-kanan,” pesan Bapak.
Akhirnya seluruh Pilakuik sudah terpasang, seiring sayup sayup azan magrib mulai terdengar dari surau di kampung. Kamipun bergegas mengemas barang. Sebelum pulang, Bapak menghidupkan Lampu Togok yang tergantung di dinding Dangau. Lampu itu ditaroknya disebuah tempat khusus dari buluh di halaman Dangau. Lampu Togok ini terbuat dari bekas kaleng susu, dilubangi kira-kira sebesar kelingking dan diberi sumbu dari kain bekas. Kaleng kemudian diisi minyak tanah. Saat sumbu dihidupkan, asap hitam pekat menyebar kemana-mana. Aku sangat terbiasa dengan lampu ini, karena dirumah juga memakai itu, walau sesekali Bapak juga menghidupkan Strom King. Strom King adalah penerangan paling bagus kala itu, karena listrik tak masuk kedesaku.
Selepas Isya, sesudah menyelesaikan makan malam, bapak sudah bersiap-siap. Kain sarung, gula kopi, lading, senter berbaterai 3, dan tentu saja sebungkus Indo Jaya terselip dikantong. Rokok putih itu seakan tak pernah lepas dari bibirnya. Aku juga mengikuti, menyiapkan sarung dan membelitkan ke leher. Malam ini adalah malam minggu, jadi aku bisa ikut, karena besok tak sekolah. Kami nak manggaro (menjaga) ladang kacang yang baru ditanam malam ini. Malam ini akan kupasang kuping baik-baik, aku ingin duluan yang berteriak kalau Pilakuik berdentum.
Jarak rumah ke ladang hanya sekitar 500 meter. Kendati demikian suasana yang gelap cukup mengganggu. Halaman rumah gelap gulita, apalagi ladang. Tahun 1985 itu, memang daerah kami belum teraliri listrik. Pasaman (Barat) hanya dikenal orang di atas peta, bahkan dicari nama kampungkupun tak ada, boleh sanak cari nama Batang Lingkin, Bancah Talang, tak akan bersua, paling-paling hanya ada Simpang IV, daerah paling ramai, berjarak 2 km dari rumah.
Suara burung hantu sesekali terdengar, bertingkah pula dengan dengingan nyamuk yang begitu rajin menemani kami berjalan. Desauan daun buluh Aur tertiup angin berbaur dengan lenguhan-lenguhan pendek bersuara berat. Lenguhan itu seperti orang mendehem, lebih mirip suara mendengus yang berat.
“Hoii!! Hoii! Hua! Hua!!” teriak bapak berulang kali. Cahaya senternya diarahkan ke asal suara sambil terus berteriak. Sekilas cahaya senter bisa menangkap bayangan hitam sebesar kambing gemuk. Aku terkaget, cepat merapat ke arah bapak. Suara bapak terus berteriak dan semakin keras. Krosak…krosak, suara semak tersibak yang terdengar. Lantas hening, sunyi.
“Banyak sekali babi malam ini, sepertinya harus begadang kita,” ujar Bapak tenang.
Babi hutan memang jadi hama yang merisaukan. Ladang yang baru ditanam biasanya jadi sasaran, apalagi kalau kacang tanah sudah mulai berisi, makhluk satu ini pasti sudah mengintai. Aku bahkan pernah menemukan sarang babi itu di semak-semak belakang rumah, bentuknya seperti gumpalan daun ilalang yang tersusun sedemikian rupa. Saat aku sampaikan ke bapak, besoknya langsung dibakar.
Sesampai di ladang, yang pertama diperiksa bapak adalah Pilakuik. Syukurlah belum ada yang bingkeh, artinya belum ada yang masuk ke ladang. Untuk memastikan keadaan, bapak menyorotkan senter ke seluruh area ladang, karena baru ditanam, ladang tersebut terlihat lapang sehingga pandangan bisa mengarah ke semua sisi.
Dangau bertiang setinggi sekitar 2 meter di atas permukaan tanah itu hanya berukuran sekitar 2 x 2 meter, beratap rumbia dan berdinding papan. Bagian bawah dangau sudah tertumpuk kulit-kulit kelapa kering dan beberapa potong kayu. Kulit kelapa itu dibakar bapak, ditimbun pula dengan kayu kering. Api mulai membesar dan bara mulai muncul. Seketika dangau menjadi terang. Asap pembakaran membubu kemana-mana, menciptakan bau menyengat dan sedikit memedihkan mata.
“Nah aman, sekarang kita terbebas dari nyamuk,” ujar Bapak. Pengusir nyamuk paling handal memang asap dari pembakaran sabut kelapa. Kendati kami bagai tidur di atas pemanggang, tapi ternyata cukup menghangatkan badan. Bapak memasang kayu dua buah, mirip seperti tali jemuran, melintasi api, kemudian menggantungkan periuk kecil. Tak lama airpun mendidih, dan segelas kopi dinikmatinya. Indo Jaya kembali menyebarkan aromanya, berbaur asap dari bawah Dangau.
“Tidurlah kalau waang mengantuk, nanti kalau Pilakuik bingkeh pasti terdengar,” ujar Bapak melihatku sudah terangguk-angguk. Sebenarnya aku ingin menunggu saat Pilakuik berbunyi, ingin kuteriakkan bahkan kukejar babi hutan itu. Sebilah lading sudah tergantung, tinggal kutarik saja. Aku berniat untuk punya pengalaman dengan manggaro malam ini, bagaimana aku mengejar babi, berteriak dan berlari. Tentu ini akan jadi bahan cerita saat aku sekolah lagi hari Senin nanti. Tentu teman-temanku aku terperangah, bertanya, dan menganggapku luar biasa. Ah, tak sabar kiranya aku menunggu, tapi sepertinya para babi hutan sedang menjauh, lama kutunggu tak juga terdengar, hingga kakiku menggelung ke dalam sarung.
***
Suara keras berdentum membuatku terbangun. Sigap aku mengambil senter, cahayanya kuarahkan ke sisi lembah dari ladang, ke arah asal untaian tali Pilakuik. Mata nanar mencoba beradaptasi dengan suasana gelap. Mungkin saat ini sudah jam 3 subuh, entahlah karena aku tak punya jam. Lading panjang sudah ditangan. Aku bagai bertenaga, sembari membayangkan sosok pahlawan super, Flash Gordon, tokoh film kartun yang sering kutonton dari TV tetangga. Dengan kecepatan seorang Flash aku melompat ke bawah dangau, tanpa mencari sandal lagi, cigin (berlari cepat) aku ke ujung ladang. Bayangan gelap sempat kulihat melintas di antara cahaya senter, besarnya kira-kira sebesar anak kerbau berusia sebulan. Jantungku berdegub, bah ini dia si Kondiak perusak tanaman itu! Jiwa Flash Gordon ku bangkit. Sambil berteriak sekuat yang kumampu, kukejar sosok itu, berlari, melompati bekas tunggul kayu, dan senter tetap mengarah pada bayangan gelap yang semakin jelas. Entah kenapa tak ada ketakutan sama sekali. Aku bagai lupa pesan Bapak bahwa jika ada babi hutan, tak perlu dikejar, cukup diteriakkan saja, tapi aku tetap berlari. Rasanya sudah begitu jauh aku mengejar, bayangan hitam itu tetap serupa bayangan, kukejar terus. Lading panjang kuacungkan, siap dengan segala kondisi. Hingga pada suatu saat, tiba-tiba hewan gemuk berkulit hitam, berbulu lebat sudah didepanku. Taring putihnya begitu runcing, berkilat terkena sorotan senterku, ia seperti menggeram dan mata merahnya seakan ingin menerkamku duluan.
Seketika ajaran silat yang pernah kupelajari di surau, menyuruh bersiaga. Entah jurus apa yang kuingat, yang jelas kuda-kuda sudah terpasang. Saat hewan gemuk itu melompat ingin menerkam, aku mendahului dengan melepaskan tendangan melompat. Kiranya jurus silat dan kepiawaian seorang Flash Gordon sudah menyatu. Namun tiba-tiba…Buk!, kepalaku bagai membentur sesuatu, mungkin terantuk ke badan babi gemuk itu atau mungkin dia sudah menindihku. Nafasku ngos-ngosan, suarapun sulit keluar. Ladingku tercampak entah kemana. Aku menggeliat, berusaha bangkit, dan badanku tergoyang-goyang, terus bergoyang, ke kiri ke kanan.
“Hoi…Ndi, Ndi, bangunlah, sholat subuh!” suara Bapak sayup kudengar. “Jago, jago! (bangun)” suara Bapak makin jelas. Matakupun terbuka, cahaya matahari mulai menelisik melalui dinding dangau. Kuusap-usap mata, melihat sekeliling, hanya Bapak yang kulihat sedang menyeruput kopi panasnya. Asap Indo Jaya menyadarkanku. Tak ada babi hutan, tak ada silat, tak ada Flash Gordon. Batu yang menjadi gantungan Pilakuik masih terpasang dengan baik. Semua biasa saja/
Dr. Yenrizal, M.Si
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UIN Raden Fatah
Palembang - Mist



0 Komentar