Feature
Selat Sunda Selalu Punya Cerita
- Yenrizal
- 26 Aug 2022
- dilihat 287
ilustrasi
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si. (Dosen FISIP UIN Raden Fatah)
Gerbang Tol menuju pelabuhan Bakauheni Lampung
Deru angin lain cukup kuat menerpa, masuk melalui pinggiran kapal yang tak berpintu. Hembusan angin berbaur dengan deru mesin kapal dan sedikit ditingkah bau Solar yang keluar dari cerobong. Sore itu, perjalanan Bakauheni-Merak, menaiki kapal ekpres, terasa menyenangkan. Cuaca cerah, matahari bersinar ramah, melepaskan pandangan ke lautan tak bertepi. Nun di sisi barat, Pelabuhan Bakauheni mulai sayup-sayup, sekilas bayangan pelabuhan Merak mulai menanti.
Setelah sekian lama tak mencoba jalur darat Sumatera-Jawa, kali ini jejak-jejak 10 tahun lalu kembali membayang. Adanya jalur tol trans Sumatera yang menghubungkan Palembang langsung ke bibir dermaga Bakauheni, membuat napak tilas terulang. Ya, jika dulu butuh hampir 12 jam dari Palembang-Bakauheni, kali ini cukup dengan 4-5 jam, kita sudah duduk di atas kapal cepat. Pilihanpun sudah berubah, jika dulu hanya ada Kapal Feri Ro-Ro, sekarang Kapal Ekspres yang lebih ngebut sudah tersedia.
Suasana Kapal Roro di Selat Sunda
Patung besar berliku berwarna kuning, seakan melepas keberangkatan para pelintas Sumatera-Jawa. Terpampang di atas perbukitan, persis menghadap ke dermaga Bakauheni. Itulah Siger, lambang dan ikon Lampung, negeri di pangkal Sumatera.
Sepuluh tahun lalu dan kondisi yang sekarang, sebetulnya penyeberangan Sumatera Jawa tak jauh berbeda. Tetap naik kapal dan tetap antre menuju dermaga. Pengecualian di hari libur panjang atau libur lebaran, dimana Bakauheni bagaikan lautan manusia tak berbatas. Dulu ada fasilitas AC, sekarangpun ada.
“Hanya bedanya kalau dulu kita harus bayar tiket di loket, sekarang cukup pakai aplikasi, dan kalau dulu tarifnya sekitar 150.000, sekarang sudah 500.000 lebih,” ujar Dr. Heri Junaidi, yang mengaku dulu begitu rutin melintasi Selat Sunda. Tiket masuk Kapal Ekspres KMP Limbutu tertera harga 558.000 rupiah, beda 100.000 dengan kapal reguler.
“Pelabuhan ini jadi memori saya dan teman-teman lain. Sering kami berhenti di pinggiran Merak, menunggu datangnya mobil profit (mobil baru yang masih berplat putih), atau juga dari atas kapal. Biasa namanya mahasiswa,” ujar Heri lagi, yang dulunya adalah alumnus UNJ.
Obrolan Penumpang di Kapal Ekspres
Tumpangan mobil profit memang idola pelintas, faktor utama karena harganya miring, cukup nego dengan si sopir. Syaratnya kita harus ikut aturan sopir, makan dan minum serta membantu kalau ada apa-apa di jalan. Untuk urusan nego ini, kita harus pintar-pintar melihat dan mencari mobil provit, mendekati sopirnya dan menawarkan diri. Tapi tidak semudah itu juga, si sopir biasanya pilih-pilih orang juga, kalau dari penampilan cukup “meyakinkan” atau aman, sopir akan mengizinkan. Maklum saja bro, jalur lintas Sumatera gitu lho….
Kapal terus bergerak melintasi gemuruhnya laut Selat Sunda. Segelas kopi terhidang, segelas 10.000 rupiah, cukuplah sebagai peneman obrolan sepanjang kapal.
“Dulu kalau saya lewat sini, paling suka melihat anak-anak yang terjun dari atas kapal cukup dengan melemparkan koin. Itu keterampilan yang luar biasa,” ujar Mahdi Zenapel, Kabag TU FISIP UIN Raden Fatah, mengenang perjalannnya 15 tahun lalu. “Masih kuat saya berdiri di pinggir kapal, menikmati angin, tapi sekarang tak sanggup lagi,” ujarnya mengatupkan jaket.
Ainur Ropik dan Mahdi Zenapel
Pelabuhan Bakauheni dan juga Merak memang menyimpan sejuta kenangan, terutama bagi generasi-generasi yang mencicipi perjalanan di era di bawah 2000-an, saat harga tiket pesawat masih milik kalangan tertentu. Antrean naik kapal, menikmati malamnya lautan, termasuk suka duka perjalanan bus lintas Sumatera-Jawa, adalah cerita-cerita tersendiri.
“Dulu begitu gagahnya saya melintasi Selat Sunda ini, himpitan tugas kuliah, menyelesaikan tesis dan disertasi, tekanan mencari pembimbing, seakan larut dengan tiupan laut Selat Sunda. Sering saya duduk di buritan kapal, menikmati angin sambil menghembuskan asap rokok, begitu nikmat,” ujar Prof Ris’an Rusli, guru besar pada Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah sembari melepaskan pandangan ke laut lepas.
Sebagai alumnus Ciputat (UIN Jakarta), Prof Ris’an begitu lekat dengan laut Selat Sunda dan perjalanan melintasi trans Sumatera. Catatn pada akun media sosialnya, banyak bercerita tentang ini. Ah…beliau toh sekarang baru Profesor, dulunya…ya mahasiswa juga.
Celoteh para penumpang masih riuh rendah di atas kapal. Sepiring mie ayam panas segera terhidang. Bagi yang ingin jajanan lain juga tersedia, termasuk hidangan wajib, Pop Mie. Kendati kapal ekpres, tapi layanan penumpang tetap tersedia.
“Lebih lengkap lagi kalau naik kapal reguler. Kita capek, tenang ada tukang pijit yang siap dengan jasanya. Ingin makan, banyak tawaran yang akan mampir. Bahkan, dari pinggir dermaga pun ada yang meneriakkan dagangannya, kita tinggal lempar duit, makananpun dilemparkan ke kita. Praktis sekali,” ujar Ainur Ropik, M.Si, WD 2 FISIP UIN Raden Fatah yang juga merasakan banyak suka duka angkutan umum ini.
Berbaur dengan obrolan ringan di atas kapal, tampak rombongan sopir truk duduk santai melepas lelah. Di sebelah lain, kernet bus sedang menikmati segelas kopi panas.
Angkutan penyeberangan ini kemudian menjadi saksi mata pertemuan semua lapisan masyarakat. Mau itu pejabat, Rektor, kepala instansi, mahasiswa, sopir bus dan truk, berikut para keneknya, bertemu di atas lautan. Tak terkecuali pengemudi sepeda motor, mereka juga berbaur dengan penumpang lain. Kalau ingin tahu obrolan rakyat, naiklah ke atas kapal, ajaklah mereka ngobrol, maka segala hal bisa berkembang disini.
Ramainya di atas Kapal penyeberangan
“Jika saya ingin ke Jawa (Pulau Jawa) dan saya tidak tahu arah jalan misalnya masuk tol mana, maka cukup datangi para sopir bus yang banyak di atas kapal ini. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan ke kita,” ujar Dadang, seorang Kabag di UIN Raden Fatah.
Ya kedekatan dan kebaikan sesama terasa disini, perkenalan bisa terjadi, walau itu hanya sekitar 2 jam saja.
“Tapi tetap harus hati-hati bos, ini kapal dinaiki semua orang, tidak semuanya orang baik. Hati-hati copet,” bisik Mahdi Zenapel.
Sruupppp…tiba-tiba gelas kopi berbahan kertas jatuh, menumpahkan cairan tumpah. Kuatnya angin dari buritan kapal tak tertahankan oleh kopi yang tinggal seperempat. Pelabuhan Merak rupanya sudah terlihat, seiring dengan habisnya secangkir kopi. Kapal Ekspres ini hanya membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan, lebih cepat ketimbang kapal reguler yang berkisar 2,5 jam.
Pelabuhan Merak, Banten
Antrian mobil menuruni kapal perlahan, satu persatu dan diatur sedemikian rupa.Turun dari kapal langsung masuk ke jalur Pelabuhan Merak, dan yang menuju Jakarta langsung ke Tol Merak. Ke Cilegon dan Anyer bisa meneruskan ke arah kanan. Sayup-sayup terdengar peluit kapal, kembali bergerak mengantarkan penumpang menuju Bakauheni. Cerita-cerita menarik kembali terbangun, berkembang seiring gelombang laut yang turun naik. Selat Sunda selalu punya cerita.
Palembang - Clouds



0 Komentar