Feature

Semende itu Tak Banyak Berubah


Desa Segamit Semende Darat Ulu

Cucuran air dari saluran bambu sebesar lengan itu tampak jernih. Semburan itu bagai muncrat saja dari balik dinding tanah di pinggir jalan. Tak pernah berhenti, seiring dengan genangan sawah di atasnya, terhubung nun jauh ke atas pinggang Bukit Barisan. Siring, begitu penduduk menyebutnya, berkelok-kelok, bertingkat, mengikuti alur perbukitan. Segar dan menyejukkan ketika wajah dibasuhkan.


Suhu di ponsel tertulis 220C, padahal jam sudah menunjukkan pukul 13.10 siang. Matahari memang malu-malu menyembul di balik awan-awan kelabu yang menggantung. Sebentar lagi hujan.

Tak jauh dari atas plang (pematang) sawah yang baru saja ditanam, kokoh berdiri bangunan kecil beratap layaknya tanduk kerbau. Sepintas teringat dengan Minangkabau yang memang punya bangunan khas seperti ini. Tapi ini bukan di Sumatra Barat. Ini Semende, tepatnya di Semende Darat, sebuah dataran tinggi Sumatra Selatan, masuk daerah administratif Kabupaten Muara Enim.

Bangunan kecil berukuran sekitar 3 x 3 meter itu bagai penjaga bagi hamparan sawah yang masih menghijau. Di setiap sudut sawah, lazim ditemukan, berjarak sekitar 2 – 3 petak. Tengkiang, begitu penduduk menamai. Mirip dengan Rangkiang, jika di Sumatra Barat. Fungsinyapun sama, penyimpan padi sehabis di panen.

Sudah lebih dari 5 bahkan mungkin 10 tahun lalu, tanah Tunggu Tubang ini belum kujejak lagi. Momentum kali ini, walaupun tidak disengaja, kembali menghunjamkan kenangan-kenangan masa lalu, menguak lagi kisah lama. Entah kenapa, dari seluruh daerah Sumsel yang sudah kumasuki, Semende seakan punya memori tersendiri.

Bulir-bulir tetesan dingin itu kunikmati saja, kuhembuskan pula nafas berasap yang selalu kurindukan. Menghirup sedalam-dalamnya, merengkuh segala kesegaran yang ada. Penat di badan, 8 jam perjalanan dari Palembang, kulepaskan dengan menatap ataran sawah bertingkat, berpagarkan dinding Bukit Barisan, menyangga berbagai dinding alam yang entah bagaimana Sang Kuasa menciptakannya.

Semende, hakikatnya tak banyak berubah, ia masih tetap dingin, sejuk, berliku bukit, berkelok jalan, dalamnya lurah dan jurang, dan hempasan air di Sungai Aik Talang Kighae. Tengkiang-tengkiang itu masih berdiri, rumah Baghi masih tampak kokoh, dan terpenting para Tunggu Tubang masih tetap setia menjaga warisan keluarga besar. Para Anak Belai masih tetap patuh dan hormat dengan Meraje nya masing-masing. Dan disudut kampung sayup masih kudengar lantunan gitar tunggal, dendangnya Jeme Semende.

Itulah Tanah Semende (kerap disebut dengan Semendo).


Perjalanan panjang dari Palembang, ataupun Muara Enim sebagai ibukota kabupaten seakan terlepaskan penatnya saat menginjak hamparan sawah dan menikmati pekat asamnya Kopi Robusta. Jemuran kopi yang terhampar begitu saja di tengah jalan, menunggu ban mobil melindas, jadi pemandangan unik. Cara tradisional nan praktis dalam memecah biji kopi dari kulitnya.

Apa yang berubah dari Semende setelah sekian tahun?

Tak banyak. Perubahan paling banyak hanya dari sisi fisik, jalan yang lebih mulus, bangunan sekolah yang lebih lengkap dan baik, jaringan listrik yang masuk sampai ke sudut kampung. Di beberapa sisi ditemukan pula hamparan kebun sayur khas pegunungan, cabe merah, tomat, bawang, dan sebagainya. Dulu mungkin ini tidak terlalu banyak, lebih didominasi oleh kopi dan sawah.

“Semenjak banyaknya Jeme Bandong datang, mulailah ditanam berbagai sayuran ini. Bagus juga, jadi ada variasi tanaman yang bisa diusahakan masyarakat,” begitu kata seorang warga.

Ya Jeme Bandong, sebutan untuk menyatakan orang-orang yang datang dari Jawa Barat. Kini mereka cukup banyak ada di Semende, mengusahakan perkebunan sayur mayur. Sebetulnya tidak banyak yang berasal dari Bandung (Bandong dalam dialek Semende), mereka ada yang dari Garut, Tasikmalaya, dan sebagainya. Tapi bagi warga Semende, mereka tetap Jeme Bandong.

Semende memang berbeda dengan daerah lain di Sumatera Selatan, bahkan mungkin Indonesia. Wilayah ini bukanlah kawasan yang terisolir, tertutup ataupun terasing. Posisinya memang berada di atas perbukitan, dan jarak tempuh juga sangat jauh dari pusat pemerintahan provinsi. Tetapi sejak dulu Semende adalah kawasan terbuka, lazim didatangi penduduk lain, dan wargapun tak pernah menolak kehadiran orang luar.

Ketika di tahun 1990-an, Semende masih sangat tertinggal, terutama dari sarana prasarana. Listrik belum mengalir, apalagi jaringan telekomunikasi. Akses jalan darat sangat terbatas dan kondisinya jauh dari kata memuaskan.

Akan tetapi, sejak masa itu dan juga masa-masa sebelumnya sudah sangat banyak orang Semende yang berkiprah di luar daerah dan menjadi sosok-sosok yang diperhitungkan, baik secara intelektual, agama, maupun ekonomi. Pendidikan di pesantren adalah ciri khas yang banyak dilakukan warga. Oleh sebab itu, warga Semende sangatlah akrab dengan segala kemajuan dan perkembangan peradaban.

Uniknya kendati akrab dengan segala kemajuan dan modernisasi, bahkan sampai dengan masa melimpahnya informasi, pesatnya jaringan telekomunikasi yang serba digital, warga yang mendiami Semende tak banyak berubah. Mereka tetap menjalani rutinitas seperti dulu dan tetap menjadikan Kopi dan Padi sebagai identitas.

Apakah dengan demikian warga Semende menolak kemajuan dan perubahan? Tidak juga.

“Saya adalah alumni pesantren di Aceh, sekarang kembali lagi. Banyak teman-teman saya yang sekarang berkiprah sebagai dosen, ulama, politisi dan sebagainya. Mereka berkiprah di luar daerah,” ujar Kyai Tengku al Walid Afifudin pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum di Desa Segamit.

Cerita lain datang dari Kyai Gerentam, mudir Ponpes Al Haramain, sebuah pondok pesantren terbesar di Pulau Panggung. “Anak mantu saya dosen UIN Raden Fatah, salam saja kalau ketemu,” ujarnya. Kyai Gerentam juga terkenal sebagai salah seorang ulama besar di Sumatera Selatan.

Semende memang terkenal sebagai salah satu daerah penyuplai ulama dan tokoh pendidikan di Sumsel, bahkan Indonesia. Itu sudah berlangsung sejak dulu dan terus berlanjut hingga hari ini. Akan tetapi, kendati sumber daya manusianya sudah tergolong hebat-hebat dan gerot, namun tanah Semende tak jauh berubah.

Begitulah adanya dan itu ternyata bukan karena hal-hal yang mistis atau larangan khas masyarakat adat.

“Tak banyak larangan-larangan seperti itu, karena memang Semende adalah daerah terbuka. Saya pikir kenapa Semende tetap seperti ini, karena pondasi adat yang tak pernah tergeser serta sudah menjadi identitas, yaitu Adat Bemeraje Anak Belai atau kerap disebut dengan Tunggu Tubang,” jelas Kyai Gerentam.

Melalui struktur adat ini, maka hampir tak ada kepemilikan tanah pribadi di daerah ini. Semua adalah hak kelola Tunggu Tubang, institusi utama yang menjaga kelestarian tanah Semende. Tanah adalah milik bersama satu keluarga besar, dikelola Tunggu Tubang. Yang namanya Tunggu Tubang wajib punya sawah dan tanah perumahan. Belakangan meluas pula pada pengelolaan kebun kopi dan sayuran. Alhasil, penjagaan oleh pranata adat ini, menyebabkan wilayah Semende tak  terjangkau oleh para investor luar daerah. Keasrian dan kemurnian Semende tetap terjaga, walau mereka tak menolak siapapun yang datang dan akan membuka usaha. Silahkan buka usaha, baik perkebunan ataupun persawahan, tapi jangan membeli lahannya. Kerjasamalah dengan warga setempat dan bisnis bisa dijalankan.


Di berbagai sudut persawahan, Tengkiang yang tetap kokoh, berpadu dengan dangau-dangau (rumah kebun), berpadu pula dengan helaan nafas beberapa kerbau yang terpaut ke padang rumput. Ataran itu begitu luas, walau tak bisa disebut sebagai dataran. Ataran atau hamparan, merujuk pada area persawahan yang dikelola oleh banyak warga, berjenjang membentuk sawah-sawah tebing. Padi-padi lokal jenis Jambat teghas juga masih banyak ditanam warga, padi yang panennya adalah sekali setahun dalam usia 7 – 8 bulan.

Dentingan alunan gitar tunggal sesekali masih terdengar di sela-sela anjungan rumah panggung dan Rumah Baghi yang masih tersisa. Rombongan ibu-ibu yang menggantungkan Kinjar di atas keningnya, masih kuat berjalan menaiki dan menuruni bukit. Kendati sepeda motor sudah begitu banyak di Semende, tapi ke kebun membawa kinjar dengan jalan kaki masih kerap dilakukan.

Semende panjang (Semende Panjang), begitu para ahli menyebut daerah ini, memang panjang dan luas, nun berbatasan dengan kawasan Besemah, komunitas etnis yang sejatinya bertautan dulur (saudara) dengan Semende. Namun seluas dan sepanjang apapun Semende, ia tak banyak berubah.