Artikel

Hilang Minang di Ranah Minang


ilustrasi

Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si

Dengan perasaan badabok saya menginjakkan kaki kembali di Ranah Minang. Hampir sepuluh tahun lamanya belum terjejak juga kampung dan nagari. Alasan kesibukan dan kesempatan, kiranya itu yang membuat saya sulit meninggalkan tanah rantau. Alasan nan bacari-cari, katanya. Biarlah, tapi yang pasti sekarang saya ingin bayarkan rasa taragak dengan segala keminangan.

Selamat Datang di Ranah Minang. Itulah poster pertama yang terlihat saat turun di Bandara Minangkabau. Ah, ranah bundo, Ambo Pulang.

“Mari pak, mau pesan taksi, pakai argo, antar langsung,” sapaan awal di pintu kedatangan. Satu taksi online saya pilih, dan segeralah meluncur ke kota Padang.