Artikel
INGIN BISA MENULIS TULISLAH
- Yenrizal
- 30 Oct 2022
- dilihat 201
ilustrasi
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
Setiap kali ada pelatihan menulis, baik menulis ilmiah atau populer, selalu pertanyaan utama yang muncul adalah, bagaimana menulis yang baik dan bisa dipublikasikan di media. Biasanya ini ditambahkan pertanyaan, bagaimana memulai menulis itu dan apa topik yang bisa diangkat? Begitu juga yang kemudian muncul dalam sesi pelatihan menulis yang diadakan HISKI Sumsel, 29 Oktober lalu. Jawaban saya, hanya satu, TULIS. Tak ada rumus belajar menulis yang paling efektif, selain DITULIS. Soal apakah tulisan itu baik atau tidak, itu urusan lain.
Pekerjaan menulis sama dengan belajar naik sepeda motor. Tak ada rumus terbaik selain kita ambil motor, duduk di atas sadelnya, tekan gas dan jalankan. Pertama kali mungkin akan jatuh dulu, nabrak dulu dan sebagainya. Wajar, itu adalah bagian dari belajar. Dari proses itulah kemudian kita akan bisa menjalankan motor dan tahu seluk beluknya.
Saat pertama mencoba menulis dan mengirimkannya ke media massa, saya melakukan tahun 1996 silam, baru menginjak semester 6. Sebelumnya saya sudah mencoba beberapa kali, tetapi selalu gagal masuk koran. Hampir sekitar 15 tulisan sudah dibuat tapi selalu ditolak atau tak ada kabar beritanya. Menyerahkah? Tidak, prinsipnya adalah, apakah saya yang bosan atau medianya yang bosan. Prinsipnya saya terus tulis dan kirimkan. Walhasil, wajah dan nama saya akhirnya muncul di Mingguan Canang, sebuah media terbitan Padang, Sumatera Barat. Itulah artikel pertama saya di media massa. Semua penat dan kebosanan selama ini, hilang sudah. Semangat makin membara, tulis lagi.
Memang tak ada rumus khusus dalam menulis, khususnya tulisan artikel populer untuk media massa. Akan tetapi memang ada perbedaan antara penulis jaman dulu (eranya media massa cetak) dengan sekarang eranya media online. Hal utama yang saya rasakan adalah perjuangan dan gengsinya. Dulu yang ada hanya media massa cetak, tak ada internet apalagi media massa online. Jumlah medianya terbatas dan akibatnya persaingan untuk tembus ke media menjadi ketat. Siapa yang bisa tembus ke media, berarti ia sudah melalui sejumlah saringan dan tulisannya sudah dianggap baik.
Sarana prasarana juga masih terbatas, komputer adalah barang mahal, konon pula laptop. Terkadang mesin tik masih jadi andalan. Memanfaatkan jasa rental komputer atau sesekali nyuri waktu di komputer kawan atau numpang ngetik di komputer milik kampus. Internet tak ada, sumber informasi jadi barang mahal. Beli koran cetak tiap hari adalah solusi terbaik.
Intinya, perjuangan untuk menjadi penulis yang tulisan bisa terbit di media massa cetak, kala itu adalah perjuangan yang luar biasa. Oleh sebab itu, saat tulisan bisa dimuat di media, rasa bangganya menjadi sesuatu banget.
Ini tentu berbeda dengan kondisi jaman sekarang. Internet ada dimana-mana, laptop bak kacang goreng, media yang akan menampungpun tak terbatas. Cukup dengan sebuah Android, semua informasi di dunia bisa diakses. Tinggal lagi, mau atau tidak untuk memulai menulis, itu saja.
Kembali pada penjelasan awal bahwa tak ada rumus baku untuk menulis, selain DITULIS. Memang ada trik-trik khusus untuk membuat sebuah tulisan yang baik dan bisa dipublikasikan, tapi ini hanya trik. Syarat utama tetap pada TULISAN.
Pertama, fokuslah pada satu gagasan. Apapun tulisan yang akan dibuat, ikatlah semuanya pada satu gagasan utama. Kita mau menulis apa? Itulah gagasannya. Fokus dan jangan terlalu melebar. Bumbu-bumbu mungkin diperlukan, tapi fokus gagasan tetap harus dipegang.
Kedua, carilah gagasan yang menarik dan usahakan sedang jadi bahasan publik. Untuk mencari ini tidak susah, banyak sekali ragam ide yang bisa dibuat, apalagi isunya sangat banyak. Ada baiknya gagasan ini disesuaikan dengan pengetahuan dan latar belakang penulis. Misalnya, jika anda seorang sarjana pendidikan, fokuslah pada isu pendidikan atau meneropong isu dari sisi pendidikan. Jika anda seorang ahli ekonomi, fokuslah sisi ekonomi. Apapun temanya, sudut pandang harus jelas dan itu jadi ciri khas.
Semua hal bisa ditulis. Itu harus jadi pegangan. Apapun itu semua bisa ditulis. Rumah kita, keluarga kita, lingkungan sekitar, tetangga, teman, bisa ditulis, apalagi jika ada isu yang sudah jadi perbincangan orang banyak. Hal yang diperlukan adalah sudut pandang menulisnya.
Ketiga, kuasai penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini syarat dasar. Tak ada tulisan yang baik jika tak memenuhi kaidah berbahasa yang baik. Bisa dipastikan tulisan yang tak memenuhi kaidah dasar akan ditolak. Tentang ini sebetulnya hal yang standar saja, seperti penggunaan huruf besar dan kecil, titik koma, penggunaan istilah, pemakaian imbuhan, kata hubung, kosa kata yang tepat dan sebagainya. Termasuk adalah jangan ada KESALAHAN KETIK.
Keempat, usahakan setiap tulisan yang dibuat memuat data penguat dan pendukung, jika pakai data, gunakanlah kutipan dari media yang akan menjadi tujuan kita mengirimkan tulisan. Data pendukung akan jadi barometer bahwa apa yang ditulis ada dasarnya. Pilihan sumber data, terkait dengan peluang tulisan yang dimuat. Hindari mengirim tulisan ke sebuah media, tapi kutipan sumber data dari media lain. Setiap media biasanya bersaing.
Kelima, perhatikan hubungan antar paragraf. Setiap tulisan biasanya berurutan dan memiliki sistematika dari awal hingga akhir. Urutannya akan terihat dan sekaligus menunjukkan pola pikir penulis. Jangan menulis loncat-loncat dari satu paragraf ke paragraf lainnya.
Keenam, usahakan paragraf pertama menjadi daya tarik pembaca dan paragraf terakhir sebagai klimak yang memunculkan “sentilan” dari gagasan yang diangkat. Paragraf pertama adalah titik awal orang membaca, ini harus menarik. Paragraf terakhir yang biasanya kesimpulan, munculkanlah klimak disitu.
Ketujuh, perbanyaklah kosa kata dan berlatihlah merangkai kata menjadi kalimat. Untuk bisa ini hanya latihan dan pengalaman yang akan membimbing. Terus latihan dan anda akan terbiasa. Guna lebih mudah, banyak-banyaklah membaca karya orang lain, sehingga jadi referensi bagi kita.
Kedelapan, jangan kepanjangan. Untuk media massa cetak biasanya punya batasan tulisan, misalnya hanya 1000 kata. Itu harus dipatuhi karena media punya batasan kolom. Lagi pula, tulisan yang terlalu panjang akan membosankan dan membuat orang malas membaca.
Kesembilan, jika anda selesai menulis hari ini, matikanlah laptop, kerjakan aktifitas lainnya, tidak usah dipikirkan lagi tulisan itu. Besoknya, bukalah kembali laptop dan baca ulang. Disitulah kita bisa tahu bahwa tulisan itu ada salah atau tidak.
Kesepuluh, bagi penulis pemula, tak ada salahnya menggunakan jasa orang lain untuk membaca ulang tulisan sebelum dikirimkan ke media massa. Kritikan dan masukan dari orang lain sangat penting karena mereka biasanya lebih fair dalam menilai. Kita juga harus terbuka untuk menerima kritikan. Intinya, JANGAN PATAH SEMANGAT. Menulis adalah proses belajar dan tak ada belajar yang instan.
Begitulah kira-kira beberapa trik yang perlu jadi catatan jika kita ingin bisa menulis. Sekali lagi, itu hanya trik, semua orang punya gaya dan kekhasan masing-masing. Tetapi, tak ada gunanya trik itu sama sekali, jika kita tidak memulainya. Oleh karena itu, syarat utama untuk bisa menjadi penulis adalah DITULIS
Palembang - Mist



0 Komentar