Feature
KKN Hari Pertama
- Yenrizal
- 14 Oct 2021
- dilihat 184
ilustrasi
Sampai kemudian di sebuah perkampungan, bus berhenti. Suasana sudah gelap, magrib sepertinya sudah lewat. Yang kami saksikan hanya kegelapan dan sedikit kerlap-kerlip pelita dari beberapa rumah. Selebihnya gelap, hanya cahaya lampu bus yang sedikit membantu, sorotan cahayanya sekilas memperlihatkan merek Desa Cahaya Alam. Inilah tujuan kami. Dinginnya udara semakin terasa menusuk kulit. Ya kami sudah sampai, di sebuah lokasi yang serba gelap dan dingin. Tak ada listrik, dan pastinya tak ada juga TV, radio, atau lainnya, aku sudah bisa pastikan itu.
Rombongan perangkat desa menerima kami dengan terbuka, sepertinya sadar bahwa kami sudah melewati perjalanan jauh.
“Ai pasti capek kamu ni, jauh oi bejalan dari Plimbang,” ujar Pak Kades, belakangan kutahu namanya Subran. Satu persatu kami salami, bu Kades, dan beberapa warga lainnya. Temaram gelap tertimpa cahaya petromak, masih bisa membantu kami mengenali beberapa wajah
.
Tak berapa lama, suguhan kopi panas menyambut kami. Belakangan aku tahu, kopi adalah andalan utama di daerah ini. Nasi panas dengan menu telur ceplok dan mie rebus hadir pula didepan mata. Ah, lapar memang sudah terasa dari tadi. Udara dingin ditambah dengan kopi dan nasi panas, komposisi yang serasi sekali.
Malam itu kami bergelung sarung dan menebalkan jaket, plus selimut, dan tak lupa pakai kaos kaki. Tak ada mandi, semua sudah paham. Ah siapa pula berani mandi es dimalam ini. Menebalkan kemul (selimut) jauh lebih baik. Teman sekelompok yang laki-laki tidur di ruang tengah, para wanita ke ruang dalam. Kulihat Eka dan Rudi yang tidur disebelahku sedikit gelisah, kakinya seperti mencari-cari tempat yang panas. Mataku belum terpejam, badan memang capek, tapi apa yang akan kami hadapi besok pagi? Sebagai ketua kelompok, beban itu mulai terasa. Ini baru hari 1.
Palembang - Mist



0 Komentar