Materi Kuliah

Komunikasi Lingkungan Sejarah Singkat dan Dasar Pembentuk Keilmuan


Desa Tanah Pilih, Sumsel (dok. 2018)

Perjalanan Sejarah Isu-Isu Lingkungan

Sebagai sebuah kajian yang relatif baru, komunikasi lingkungan yang merupakan varian dari kajian ilmu komunikasi, tentu berakar dari keilmuan ini juga. Akan tetapi asal mula bahasan mengenai hal ini tidak serta merta dijabarkan melalui ilmu komunikasi.

Satu hal yang harus dijadikan patokan bahwa sebagai bagian dari ilmu komunikasi, maka komunikasi lingkungan tentu tidak lepas dari ontologi ilmu komunikasi itu sendiri. Aspek utama kajian ilmu komunikasi adalah persepsi. Persepsi berhubungan dengan sebuah proses memberikan makna tentang sesuatu yang ditangkap oleh panca indera manusia (Amodu, 2007). Persepsi ini kemudian yang diinterpretasikan dalam bentuk sikap dan tindakan manusia . Deddy Mulyana juga mengatakan demikian bahwa inti dari ilmu komunikasi adalah persepsi. Seorang yang berkomunikasi pada dasarnya memberikan persepsi tentang sesuatu. Terdapat tiga proses dalam persepsi yaitu, sensasi, atensi, dan interpretasi. Semuanya berlangsung dalam proses kognitif manusia (Mulyana, 2002).

Mempersepsi adalah memaknai (meaning) sesuatu. Saat memaknai sesuatu maka disitu muncullah persepsi. Jika kita melihat langit berwarna gelap, awan bergumpal-gumpal berwarna kehitaman, maka pikiran kita akan dengan sendirinya melakukan pemaknaan. Hasil pemaknaan inilah kemudian muncul gagasan dalam otak kita. Awan hitam berarti pertanda akan hujan. Itulah persepsi. Memaknai lebih dulu daripada mempersepsi, begitu kira-kira. Memaknai adalah proses memberikan makna pada sesuatu, dan hasilnya adalah persepsi.

Oleh karena itu, kajian komunikasi lingkungan sebenarnya adalah kajian tentang memaknai lingkungan alam. Disebabkan dalam proses memberikan makna ini tidak bisa berlangsung sendiri, pasti berhubungan dengan pihak lain, maka memaknai lingkungan dilakukan atas interaksi dengan orang lain. Itulah Komunikasi Lingkungan.

Memaknai lingkungan ini kemudian bisa diekspresikan dalam berbagai hal. Seorang yang mendalami jurnalistik, bisa saja memperkuat ulasannya tentang berita-berita mengenai persoalan lingkungan. Bagi yang mendalami Public Relations, akan fokus pada upaya-upaya pemaknaan lingkungan dalam mekanisme aktifitas PR. Begitu pula spesialisasi lainnya.

Ditilik dari sejarah bagaimaan keterikatan dan penghargaan manusia tentang lingkungan, termasuk bagaimana kemudian aktifitas manusia dalam memaknai lingkungan, kisahnya sudah sangat panjang. Memang belum dalam wujud ilmiah sebagai kajian ilmu komunikasi lingkungan, tetapi  sudah menunjukkan warna pemaknaan manusia terhadap lingkungan yang kemudian dituliskan dan dipublikasikan. Jika pemaknaan tersebut tidak sampai pada tahap menuliskan, tentu akan lebih banyak lagi karena ciri khas masyarakat di tahap awal belum mengenal media penulisan apalagi mendokumentasikan secara fisik.

Beberapa identifikasi berikut mencoba menelusuri dokumen-dokumen tersebut, kendati mungkin masih ada  yang tertinggal dan belum terdata.

Tahun 682 M (abad ke 7), Raja Sriwijaya di Palembang bernama Sri Jayasana,  memerintahkan pembangunan wilayah dengan memperhatikan dan memaksimalkan tata ruang yang baik. Ia juga memerintahkan agar menanam tanaman yang akan berguna bagi manusia. Selain itu terdapat pula perintah untuk melakukan tata kelola sumber air. Perintah Sang Raja ini tertulis dan dikenal luas pada Prasasti Talang Tuwo yang ditemukan di Palembang (Yenrizal, 2018).

Sekitar tahun 1943, seorang Psikolog terkemuka yang bernama Kurt Lewin, membuat sebuah gagasan baru yang dinamai Ecologycal Psychology. Ia mencermati bagaimana aktifitas dan prilaku manusia sangat terhubung dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana manusia itu berada. Sikap prilaku manusia yang kemudian bisa berbeda antara manusia satu dengan lainnya, sangat besar dipengaruhi oleh dimana ia tinggal. Gagasan Kurt Lewin kemudian menginspirasi banyak pihak untuk lebih memperluas dan mengembangkan ide dasar Lewin (Heft, 2022). Termasuk ilmu komunikasi kemudian banyak membahas hal ini karena menyadari bahwa perilaku komunikasi manusia ditentukan oleh dimana ia dibesarkan.

Tahun 1949, seorang penggiat lingkungan juga filosof di USA, Aldo Leopold mengemukakan gagasannya tentang Land Ethic atau etika bumi. Gagasan ini muncul berdasarkan kritiknya terhadap fenomena pemanfaatan alam yang saat itu terlihat begitu membabi buta. Eksploitasi alam sudah menunjukkan fenomena yang mengganggu stabilitas kehidupan ekosistem yang ada (Leopold, 1949). Pendapat Leopold merupakan kritik sekaligus semacam kampanye yang dilakukannya untuk penyelamatan bumi.

Tahun 1962, seorang Biologis dari USA bernama Rachel Carson, menulis buku berjudul The Silent Spring. Ia mencermati bagaimana fenomena terjadinya kerusakan pada berbagai wilayah pertanian dan pedesaan di AS. Carson membuka mata publik saat itu bahwa berbagai program pertanian, pemupukan, pemanfaatan pestisida, penggunaan DDT dan zat kimia lainnya, yang kemudian merusak dan menghancurkan tatanan ekosistem yang ada. Banyak terjadi kematian fauna dan matinya berbagai flora (Carson, 1962). Apa yang dituliskan Carson menyadarkan banyak pihak bahwa apa yang terjadi adalah sebuah kesalahan dalam program pembangunan.

Tahun 1966, Keneth Burke, seorang sastrawan dan filsuf dari AS menyampaikan karya pentingnya berjudul Language as A Symbolic Action. Karya ini bisa dikatakan menjadi sebuah titik pijak penting bagi kajian Ilmu Komunikasi, yang menekankan bahwa komunikasi pada dasarnya adalah peristiwa simbolik. Tetapi hal menarik juga bahwa Burke sudah mengatakan bahwa dalam produksi dan proses simbolik tersebut, keterikatan manusia juga menjadi penting, karena simbol-simbol alam termasuk yang kemudian diproduksi oleh manusia.

Tahun 1968, Gareth Hardin, menegaskan tentang adanya kemungkinan terjadi sebuah tragedi yang akan dialami manusia secara keseluruhan. Gagasan yang dirangkum dalam bukunya The Tragedy of the Commons. Pada intinya Hardin memberi peringatan bahwa dengan kondisi pembangunan di berbagai negara belakangan ini, akan terjadi banyak tragedi besar yang tidak hanya dilanda satu kelompok tapi seluruh umat manusia. Titik beratnya adalah pada persoalan lingkungan hidup, dimana eksploitasi semakin merajalela dengan alasan pembangunan dan industrialisasi (Hardin, 1968).

Tahun 1968, Paul Ehrlich, Sosiolog Jerman mengatakan bahwa pada saatnya nanti, dunia akan mengalami over populasi, yang disebutnya sebagai Bomb Population. Jumlah penduduk terus meningkat bahkan tanpa terkendali, kecuali ada strategi-strategi khusus mengatasi hal itu. Lonjakan jumlah penduduk akan diikuti dengan pemenuhan kebutuhan dasar, yang sasarannya adalah berbagai sumber daya alam. Alam tidak bertambah tapi manusia terus meningkat. Ini dilema yang akan dihadapi di masa datang karena itu harus ada upaya sistematis sedari awal (Ehrlich, 1988).

Tahun 1980-an juga, seorang Antropolog bernama AT Rambo, menegaskan bahwa dalam kehidupan manusia dengan alam, terdapat pola hubungan yang senatiasa terjadi. Pola ini menunjukkan aliran 3 aspek yaitu aliran energi, materi, dan informasi antara manusia dengan alam. Aliran ini yang menunjukkan keterhubungan manusia dengan alam, dan selama ini yang banyak menjadi bahasan berbagai bidang ilmu, seperti Antropologi, Ilmu Lingkungan, ataupun Biologi (Rambo, 1983). Rambo bisa dikatakan peletak awal kajian ilmiah tentang adanya aliran Informasi antara manusia dengan lingkungan, walaupun Rambo sendiri dikenal sebagai Antropolog.

Tak lama berselang, seorang ahli lingkungan, Arne Naess mengemukakan gagasannya tentang persoalan etika yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup (Naess, 2001). Naess dengan kepiawaian analisis filosofisnya menjabarkan kerusakan lingkungan karena dominasi etika Cartesian. Etika yang berpusat pada manusia ini, ternyata kemudian dianggap biang keladi kerusakan di muka bumi. Segala sesuatu dianggap sebagai hanya berbasiskan orientasi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, ia menggagas pembagian tiga etika penting yang kemudian dikenal dengan etika Antroposentrisme, Ekosentrisme dan Biosentrisme. Dua etika terakhir (ekosentris dan biosentris) adalah yang menghargai keragaman di dunia ini.


Arne Naess. Sumber : https://www.babelio.com/auteur/Arne-Naess/70991

Tahun 1980-an, terjadi beberapa aksi unjuk rasa dari para aktifis lingkungan di AS. Dalam melakukan aksinya, mereka mulai menggunakan ragam media, baik itu poster, photo yang memperjuangkan persoalan lingkungan. Hal ini menandai bahwa tradisi Retorika berkembang di AS dan menjadi metode baru dalam memperjuangkan masalah-masalah lingkungan. Ini kemudian banyak direspon akademisi sehingga menjadi kajian tersendiri. Disinilah kemudian ditetapkan bahwa awal mula perkembangan ilmu komunikasi lingkungan berangkat dari fenomena Retorika di AS pada tahun 1980-an (Littlejohn & Foss, 2008; Nordahl Backlund, 2016; William, 2022).

Perkembangan di AS diyakini sebagai titik awal kefokuskan kajian pada fenomena komunikasi lingkungan. Banyak ahli komunikasi mulai membahas soal ini, dan berbagai referensi ilmiahpun mulai bermunculan. Hal ini berkorelasi pula dengan semakin terasanya persoalan di tengah masyarakat terkait kerusakan alam. Bencana alam yang terus menimpa, pemanasan udara secara global, kehilangan tutupan hutan (deforestasi), sampah, limbah dan polusi, kegagalan panen, termasuk penyakit menular.

Beberapa ahli lainnya yang juga sudah memulai kajian mengenai komunikasi lingkungan dalam skala khusus bisa pula didata pada beberapa kajian berikut.

Anderson (1997) membuat sebuah tulisan penting dengan judul Media, Culture, and The Environment (Anderson, 2013). Buku yang sejatinya sudah ditulis sejak 1997 ini menyajikan pembahasan yang khas keilmuan komunikasi, khususnya komunikasi massa. Melalui berbagai kajian dan penelaahan mendalam, Anderson menyajikan pembahasan yang memang terfokus pada bagaimana media massa merangkai ragam pemberitaan tentang lingkungan hidup. Isu-isu lingkungan kerap masuk dalam pemberitaan media massa, namun cenderung tidak dianggap sebagai sesuatu yang serius, kala itu.

Tahun 2007, menandai penerbitan perdana Environmental Communication, sebuah jurnal yang khusus menyajikan hasil-hasil riset komunikasi lingkungan, Robert Cox menuliskan artikelnya berjudul Nature’s “crisis disciplines”: Does environmental communication have an ethical duty? Pada artikelnya ini, Cox menegaskan bahwa tugas utama komunikasi lingkungan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk merespons dengan tepat sinyal lingkungan yang relevan dengan kesejahteraan komunitas manusia dan sistem biologis alami. Tulisan yang kemudian menandai kelahiran kajian-kajian yang lebih sistematis tentang komunikasi lingkungan, sampai kemudian Cox sendiri mempublikasikan kajian yang lebih komprehensif dalam bukunya Environmental Communication and Public Sphere (Cox, 2012). Buku ini dirilis tahun 2010 dan dalam waktu singkat sudah menjalani proses cetak ulang. Gagasan Cox bisa dikatakan sebagai kajian terlengkap dalam memantapkan gagasan tentang komunikasi lingkungan.

Sebelum Cox, seorang ilmuwan dari Philipina, Alexander G Flor telah memulai pembahasan penting mengenai Komunikasi Lingkungan. Ia menuliskan kajiannya dalam sebuah buku berjudul Environmental Communication, Principles , Approaches and Strategies of Communication Applied to Environmental Management (Flor, 2004). Gagasam Flor dalam buku ini lebih komprehensif, mengkajinya dari aspek sosial budaya, ekonomi, dan kajian komunikasi lainnya. Pengambilan contoh-contoh dari kawasan Asia Tenggara, membuat kajian ini lebih kuat dalam orientasi sosial budaya untuk menegaskan bahwa komunikasi lingkungan tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakat setempat.

Estelle Weber (2009),  seorang akademisi lingkungan, mengomandoi penulisan buku bersama yang diberinya judul Environmental Ethics, Sustainability and Educations. Buku ini secara lengkap membahas berbagai persoalan pendidikan lingkungan, etika lingkungan, serta dinamika-dinamika pembangunan di berbagai negara. Ragam kajian dari berbagai negara, termasuk Indonesia, ikut mewarnai pembahasan pada buku ini, yang secara komprehensif ingin mengatakan bahwa isu-isu lingkungan hidup adalah isu terdepan yang memang harus diselesaikan (Weber, 2009).

Nama-nama lain yang juga berkontribusi besar dalam mempopulerkan serta menancapkan bidang keilmuan komunikasi lingkungan juga bermunculan. Susan L Senecah adalah tokoh yang berperan besar dalam pembahasan komprehensif. Ia berkolaborasi dengan berbagai ahli lainnya dengan menerbitkan buku penting bertajuk Environmental Communications Year Book dalam 2 edisi, dimulai tahun 2004 (Senecah, 2004). Semenjak periode itu, kajian komunikasi lingkungan terus menunjukkan geliatnya dan semakin memperbanyak kajian dari berbagai ahli.

Richard Jurin, Donny Roush, dan Jeff Danter, tahun 2010, mengeluarkan karyanya berjudul Environmental Communication, Skills and Principles for Natural Resource Managers, Scientist, and Engineers. Buku ini tergolong lengkap karena menyajikan dari tataran konseptual sampai pada aspek praktis dari komunikasi lingkungan. Karya ini juga menandai bagaimana sebenarnya komunikasi lingkungan ditempatkan, didefinisikan dan kemudian difungsikan. Kendati Jurin juga terinspirasi dari karya Cox dan Carlson, tapi buku ini sudah cukup komprehensif mengatakan bahwa komunikasi lingkungan adalah wilayah yang aplikatif dan memang dibutuhkan pada konteks masyarakat sekarang dan masa datang. Karena itu Jurin juga menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan (Jurin et al., 2010).


Perjalanan kajian komunikasi lingkungan juga tidak bisa dilepaskan dari gagasan penting yang sudah disampaikan oleh Barry dengan mempopulerkan Barrys Commoners Law tahun 1970. Hukum lingkungan dari Barry ini menegaskan  aspek utama yang membuat gagasannya begitu mengilhami banyak pihak. Hukum lingkungan Barry adalah, (1) segala sesuatu saling terhubung satu sama lain. (2) Segala sesuatu harus pergi ke suatu tempat atau tidak akan ada tempat seperti itu. (3) Segala sesuatu selalu berubah, dan alam tahu yang terbaik untuknya. (4) Tidak ada makan siang gratis. (5) Segala sesuatu memiliki batas (Commoner, 1971). Kendati Barry Commoner bukanlah ahli komunikasi lingkungan, tetapi gagasannya jelas menjadi inspirasi penting bagi kajian-kajian komunikasi lingkungan di periode selanjutnya.

Bidang Ilmu Pembentuk Komunikasi Lingkungan

1. Psikologi Lingkungan

Gagasan ini bisa ditelusuri dari Kurt Lewin, Psikolog yang kemudian juga menegaskan bagaimana keterkaitan manusia dengan lingkungan mampu membentuk aspek kejiwaannya. Teori-teori dalam Psikologi seperti behavioristik, persuasi, prilaku dan kejiwaan, bisa dikatakan memberikan pengaruh dalam menekankan bahwa manusia hakekatnya memiliki keterikatan prilaku dengan lingkungannya.

Teori-teori yang dikembangkan dalam Psikologi Lingkungan, seperti Environment Load Theory dari Cohen  yang menekankan bagaimana aspek prilaku dipengaruhi lingkungan menjadi inspirasi berbagai kajian komunikasi lingkungan. Manusia sendiri kemudian dikatakan memiliki keterbatasan dalam pemprosesan informasi tentang lingkungan (Cohen et al., 1986).

Begitupun Behaviour Constraints Theory yang dikemukakan oleh Altman (1987) ini berasumsi bahwa prilaku-prilaku manusia seringkali mengalami hambatan dari kondisi lingkungan yang ada. Oleh karena itu berbagai penyesuaian biasanya dilakukan.

Banyak jenis teori lainnya dari Psikologi Lingkungan yang kemudian menjadi ilham dan bahkan dipakai dalam penelitian-penelitian Komunikasi Lingkungan.

2. Biologi Lingkungan

Charles Darwin agaknya adalah ahli Biologi yang banyak membahas masalah manusia dengan lingkungan yang kemudian menjadi inspirasi sekaligus perdebatan dalam berbagai ruang-ruang ilmiah. Teori Seleksi Alam yang digagasnya dalam The Origin of Species, kendati kemudian menimbulkan banyak kontroversi tetapi setidaknya sudah menancapkan pemahaman bahwa kehidupan manusia memang tidak lepas dari pengaruh alam.

Begitu juga dengan Albert Russel Wallace yang menggagas Wallace Lines yang menunjukkan bagaimana pergerakan spesies kemudian berevolusi. Semua merupakan proses adaptasi dengan kehidupan lingkungan.

3. Antropologi Lingkungan

Wilayah ini cukup banyak mempengaruhi dan berkontribusi pada kajian-kajian komunikasi lingkungan. Sebut saja nama AT Rambo yang menggagas mengenai aliran energi, materi dan informasi antara manusia dengan lingkungan (Rambo, 1983). Begitu juga Conklin yang membahas bagaimana masyarakat pedalaman begitu bijak dalam memahami keterkaitan dengan alam dengan mengacu pada masyarakat Hanuno di Philipina. Ada juga Brosius yang melihat perspektif Etnosains dengan penekanan perspektif manusia dengan lingkungan alam. Gagasan Brosius yang kemudian mengilhami kelahiran bidang etno-etno lainnya, termasuk di llmu Komunikasi (Brosius et al., 1986).

4. Sosiologi Lingkungan

Pada wilayah ini, nama Rilley Dunlap bisa dikatakan berperan penting. Ia adalah sosok yang menggagas kajian yang disebutnya New Ecological Paradigm dalam kajian Sosiologi (Dunlap, 1979). Dunlap menegaskan bahwa paradigma dalam Sosiologi selama ini harus dirubah dan ditekankan pada keterhubungan manusia dengan lingkungan. Sistem sosial yang dibangun manusia pada pada dasarnya adalah sistem yang terhubung dengan kondisi lingkungan. Oleh karena itu manusia tidak bisa menjadi penakhluk alam, tetapi harus beradaptasi dengan kondisi yang ada.


Seorang warga  di desa Tanah Pilih, Sumsel (dok. 2018)

Beberapa ahli lainnya, seperti Catton yang berkolaborasi dengan Dunlap juga tidak bisa dilupakan. Begitupun dengan Daniel Bell yang membahas mengenai kontradiksi budaya dalam kapitalisme yang banyak menegaskan keterkaitan persoalan-persoalan lingkungan hidup.

Sementara itu, jasa Ibnu Khaldun seorang Sosiolog Muslim, kendati tidak dikatakan sebagai Sosiolog Lingkungan, namun gagasannya mau tidak mau memberikan keyakinan bahwa  bahwa perjalanan kehiduapan manusia adalah juga hasil dari interaksinya dengan lingkungan tempatnya tinggal.

Selain bidang ilmu di atas, sebenarnya beberapa bidang lain juga ikut memberi pengaruh. Politik Lingkungan, Fisika, Pertanian, Kelautan, Linguistik, Ekonomi, Ilmu Manajemen, juga turut memberikan sumbangsihnya. Setidaknya ini tampak dari bagaimana penelitian-penelitian komunikasi lingkungan kemudian menggunakan teori dan pendekatan dari masing-masing bidang yang ada. Semua ini bisa dilakukan karena memang ada wilayah kajian yang sangat cair dan interdisipliner.

Pengaruh besar terhadap perkembangan kajian Komunikasi Lingkungan juga ada pada semua sisi, baik sumbangan dalam bentuk teori-teori maupun secara metodologis. Pakar komunikasi lingkungan yang kemudian menerjemahkan serta mengembangkan menjadi lebih spesifik dan berada pada core kajian Ilmu Komunikasi yaitu Persepsi.

Dalam perkembangannya, tampak bahwa kajian Komunikasi Lingkungan, sebagaimana kajian pada bidang induknya yaitu Ilmu Komunikasi, juga bersifat cair dan bisa masuk ke semua aspek keilmuan. Hampir semua bidang ilmu bisa diterapkan dan digunakan dalam memperkuat kajian Komunikasi Lingkungan. Hal ini yang kemudian menyebabkan kajian ini berkembang menjadi lebih spesifik. Setidaknya beberapa bahasan yang mengemuka, seperti Etnoekologi Komunikasi (Yenrizal et al., 2022), Jurnalistik Lingkungan, Humas Lingkungan, Retorika Lingkungan, dan pencabangan lainnya. Semua bisa diturunkan, dijadikan lebih spesifik, tergantung pada peminatan masing-masing ahli.