Penelitian
Membuat Catatan Lapangan Pada Penelitian Kualitatif
- Yenrizal
- 12 Nov 2023
- dilihat 199
Gedung Penampungan Eks Tapol di Pulau Buru (Dok 2017)
Pada saat pengumpulan data dalam penelitian, terutama dengan metode kualitatif, catatan lapangan menjadi aspek yang sangat penting. Catatan lapangan akan menjadi bukti rekaman perjalanan peneliti selama melakukan proses penelitian. Hal ini disebabkan karena saat pengumpulan data, semua indera yang ada pada peneliti akan ikut bermain dan menjadi alat pengumpulan data (Jessen et al. 2022). Mengapa demikian, karena salah satu metode pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi atau Pengamatan.
Catatan lapangan adalah hasil observasi yang dilakukan saat pencarian data, berbeda dengan hasil wawancara yang biasanya disebut Transkrip Wawancara. Pada penelitian kualitatif, observasi adalah teknik pengumpulan data yang paling utama (Yenrizal et al. 2022).
Apa yang diamati harus dituliskan sesegera mungkin. Pengamatan ini tidak hanya berdasarkan penglihatan dari mata peneliti semata, tetapi juga apa yang dirasakan. Oleh karena itu, seorang peneliti kualitatif harus bisa membuat catatan lapangan ini dengan baik. Akan lebih baik catatan lapangan ini dibuat dalam bentuk Catatan Harian (Daily Note) (Stephen Kemmis 2008), sehingga rekaman perjalanan peneliti per hari bisa terlihat.
Ada beberapa penulis yang membedakan antara catatan lapangan dengan catatan harian. Dimana catatan lapangan disebutkan sebagai catatan yang ditulis pada saat berada di lapangan, dan catatan harian ditulis setelah peneliti berada di posko. Dalam hal ini, pada tulisan ini saya lebih cenderung mengatakan bahwa catatan lapangan adalah catatan yang dituliskan berdasarkan hasil pengamatan dan termasuk wawancara, baik ditulis di posko ataupun di lokasi penelitian. Persoalan tempat menulis tidak dipersoalkan karena substansinya sama yaitu hasil observasi dan wawancara.
Alasan Pentingnya Catatan Lapangan
- Menjadi bukti syahih terhadap apa yang dilakukan peneliti dalam periode pengumpulan data (Yenrizal et al. 2022)
Catatan lapangan akan menampilkan jejak peneliti per periode waktu, bisa per hari, per topik, atau per lokasi. Apa yang terlihat dan apa yang dilakukan dijelaskan secara detail dalam catatan ini. Peneliti bisa menunjukkan kepada pihak lain tentang apa yang dilakukannya selama penelitian, semua ada dalam catatan lapangan yang disusun secara rapi dan detail.
- Membantu peneliti untuk mengingat daya ingat saat penulisan laporan
Sebagai manusia peneliti tentu memiliki batas kemampuan daya ingat, apalagi dengan begitu banyaknya data yang diperoleh. Ada kemungkinan peneliti lupa tentang beberapa hal yang dialami dan diingat ketika melakukan penelitian, terutama apa yang dilihat dan didengar. Oleh karena itu catatan lapangan yang baik akan menjadi alat bantu yang paling efektif dalam mengingat ingatan peneliti saat menulis laporan penelitian.
- Membantu peneliti untuk melakukan kontrol terhadap data yang dikumpulkan
Pada catatan lapangan yang baik, apalagi dibuat dalam bentuk catatan harian, akan bisa menjadi alat kontrol terhadap data yang dikumpulkan. Peneliti dapat melihat data apa saja yang sudah dikumpulkan dan data apa yang belum lengkap. Peneliti bisa membuat di bagian akhir setiap catatan lapangan tentang rencana tindak lanjut di keesokan hari atau periode berikutnya. Rencana lanjutan inilah yang menjadi data kontrol, karena disitu akan dicantumkan rencana apa lagi yang harus dilakukan besok harinya.
- Mempermudah peneliti dalam penulisan laporan penelitian
Saat menulis laporan penelitian, biasanya banyak sumber dari hasil pengamatan yang menunjukkan pengalaman peneliti. Isinya harus lengkap dan detail. Ini berguna sekali saat menulis laporan penelitian, dimana peneliti bisa melakukan Copy Paste terhadap catatan tersebut ke laporan penelitian ataupun melakukan sedikit modifikasi. Tanpa perlu repot-repot mengetik ulang, cukup ambil saja dari catatan lapangan.
- Bisa menjadi bahan publikasi tersendiri di luar laporan penelitian
Menuliskan catatan lapangan mempunyai seni tersendiri. disarankan dituliskan dengan kalimat yang lentur, apa adanya, dan sedikit nyastra. Apabila peneliti mampu menulis dengan baik, maka hasil catatan lapangan tersebut dapat dijadikan bahan publikasi tersendiri, diluar laporan penelitian. Tentunya ini menjadi nilai tambah penting untuk menunjukkan kualitas peneliti, bahwa ia memang mampu merekam jejak penelitian dengan baik dan kemudian menuliskan pula dengan menarik.
https://komunikasilingkungan.com/catatan-lapangan-1/
Ketentuan yang Harus Ada dalam Catatan Lapangan
- Keterangan waktu (Hari, Tanggal, Jam)
Pada bagian awal penulisan catatan lapangan, dituliskan keterangan waktu tentang pelaksanaan kapan pencarian data dilakukan. Hal ini meliputi Hari dan Tanggal pelaksanaan, termasuk jam pelaksanaan. Catatan lapangan yang ada disini adalah catatan yang dibuat per topik. Misalnya dilakukan di rumah Kepala Desa, tentunya waktunya terbatas. Misalnya berlangsung pada jam 08.00 – 10.00 WIB.
- Keterangan lokasi (tempat dimana data dikumpulkan)
Keterangan lokasi menunjukkan dimana lokasi pencarian data dilakukan. Misalnya Rumah Kepala Desa.
- Keterangan topik (katatan ini tentang topik apa)
Ketentuan tentang topik apa yang dilakukan pada saat itu. Misalnya topik tentang tata cara pengolahan lahan, topik tentang tradisi tahlilan, dan sebagainya.
- Keterangan narasumber jika menggunakan wawancara
Apabila menggunakan narasumber, khususnya wawancara, maka harus disebutkan. Hal ini bisa dibuat di bagian awal catatan lapangan.
- Catatan perjalanan
Menjelaskan tentang rute atau wilayah-wilayah yang ditempuh dalam perjalanan pencarian data tersebut. Penjelasan ini harus rinci dan bisa menunjukkan seolah-olah pembaca berada di daerah itu.
- Dinamika di lapangan
Menjelaskan berbagai dinamika yang ditemukan peneliti saat berada di lapangan. Bisa kondisi cuaca, sulit atau mudahnya medan yang dilalui, informan penerimaan, kondisi lokasi yang datangi, kondisi fisik dan juga kondisi batin si peneliti, termasuk masalah-masalah lain yang ditemui.
- Intisari atau kesimpulan dari hasil pencarian data
Saat mencari data, dipastikan peneliti mengamati dan kemudian pasti merasakan sesuatu terhadap apa yang dilihat dan diamati. Peneliti harus bisa membuat kesimpulan umum dari apa yang diamati tersebut, walaupun tentu saja bukan kesimpulan akhir. Refleksi peneliti terhadap apa yang diamati perlu dimunculkan karena ini akan menjadi bahan untuk pendalaman masa depan.
- Catatan untuk besok hari atau masa selanjutnya
Pengamatan dan wawancara yang dilakukan pada hari tertentu, biasanya akan memerlukan pendalaman pada tahap berikutnya. Peneliti harus menuliskan apa yang perlu dilakukan di keesokan harinya lagi, pendalaman apa yang perlu dilakukan lebih lanjut.
Oleh karena itu, sebelum membuat catatan lapangan dan sebelum turun ke lapangan, seorang peneliti harus mempersiapkan segala kebutuhan teknis. Persiapkan segala peralatan yang dibutuhkan (alat perekam, kamera, block note, pulpen). Membuat catatan lapangan tentunya membutuhkan peralatan-peralatan khusus. Sebenarnya alat ini merupakan alat yang lazim digunakan oleh seorang peneliti lapangan. Alat ini harus dimaksimalkan dan harus ada.
https://komunikasilingkungan.com/catatan-lapangan-2/
Selain itu, seorang peneliti harus sensitif terhadap segala sesuatu yang diamati. Rasa sensitif terhadap apa yang diamati, dilihat, didengar, mutlak harus dimiliki oleh seorang peneliti. Hasil dari pengamatan inilah yang kemudian akan dituliskan. Oleh karena itu sensitifitas terhadap apa yang diamati harus begitu kuat. Seorang peneliti harus bisa memahami dan menangkap apa yang terjadi dan apa yang dirasakan. Seorang peneliti yang membahas tentang komunikasi lingkungan misalnya, ia harus sensitif terhadap kondisi cuaca, kuat rendahnya hembusan angin, gemericik udara, kondisi lahan, dan sebagainya. Termasuk jika mewawancarai narasumber harus sensitif terhadap gerak gerik tubuh si narasumber, apakah ia rileks, kaku, tegang, dan sebagainya. Ini harus dituliskan dalam catatan lapangan.
Ibu-ibu sedang berkumpul. Dokumentasi penelitian di Semende (2015)
Cara Membuat Catatan Lapangan
- Rekam, foto, dan catat semua peristiwa penting
Tahap awal saat akan membuat catatan lapangan yang diperlukan adalah kelengkapan data. Oleh karena itu, saat pencarian data seorang peneliti harus mampu merekam semua peristiwa dengan baik. Merekam dengan alat perekam, mendokumentasikan dengan kamera, serta pencatatan harus dilakukan secara terus menerus. Semuanya bisa dilakukan secara bergantian. Terkadang cukup dengan merekam saja, atau dengan dokumentasi foto. Intinya semua peristiwa harus didokumentasikan. Pencatatan tidak perlu secara lengkap, peneliti dapat menuliskan kata-kata kunci saja, karena fungsinya adalah sebagai alat bantu ingatan peneliti saat menuliskan secara lengkap. Saat menulis bisa menggunakan kalimat dari peneliti sendiri, tidak harus sama dengan apa yang disampaikan di lapangan. Hal ini berbeda dengan transkrip wawancara yang harus sesuai dengan apa yang diucapkan.
- Buat tulisan dari awal hingga berakhirnya pencarian data pada satu kesempatan (bisa satu tempat atau satu hari)
Pencarian data biasanya dilakukan per topik. Walaupun kegiatan penelitian tersebut berlangsung dari pagi sampai malam, namun akan banyak tempat dan lokasi yang datang dan diamati. Banyak orang yang diwawancarai. Semua itu harus dituliskan dalam catatan lapangan. Agar catatan lebih detail, maka sebaiknya dicatat per masing-masing kegiatan, tidak dikumpulkan dalam satu hari.
Saat menulis catatan, maka tulislah dari awal hingga akhir untuk masing-masing kegiatan. Tulis sejak dari kunjungan lokasi sampai dengan meninggalkan lokasi. Termasuk disini menuliskan alasan mengapa memilih lokasi atau objek tersebut. Biasanya ini ditempatkan di awal catatan.
Misalnya:
Hari ini saya berkunjung ke sebuah lokasi pertemuan warga, khususnya anak muda. Warga biasanya berkumpul sore hingga menjelang magrib. Sengaja saya mengunjungi tempat ini, karena untuk bisa bertemu dengan anak-anak muda, kesempatan inilah yang paling memungkinkan. Lokasi itu adalah sebuah lapangan Volly Ball. Selain sore hari, para anak muda biasanya bekerja di kebun masing-masing. Disebabkan alasan bermain volly-lah mereka berkumpul. Saya bisa bertemu banyak orang dalam kesempatan tersebut. Tentu ini harus saya manfaatkan secara maksimal.
Contoh di atas adalah contoh untuk bagian awal catatan lapangan. Tampak di situ tertulis alasan mengapa datang ke suatu lokasi, termasuk pilihan waktu untuk datang di sore hari. Itu adalah data yang harus dituliskan.
- Tulislah secara detail semua peristiwa yang diamati, didengar, dan dirasakan.
Saat menuliskan hasil pencarian data, maka ketelitian dan isi yang detail dari sebuah catatan menjadi penting. Apa yang diamati, didengar, dan dirasakan harus bisa dicatat. Jangan ragu menuliskannya karena bisa jadi data itu dibutuhkan. Termasuk disini adalah apa yang kita rasakan.
Misalnya, saat mendatangi sebuah lokasi wawancara, yaitu seorang tokoh masyarakat, mantan Kepala Desa.
“…terus terang, saat memasuki rumah bergaya tradisional tersebut dan kemudian disambut oleh seorang sepuh dengan mata tajam, hati saya jadi ciut. Badan tegap, kokoh, menutupi usianya, dibungkus pula oleh pakaian hitam dengan peci khas berwana hitam, tampak sangat kharismatik dan berwibawa. Kumis lebatnya tampak sudah memutih, sama dengan alis matanya yang juga berwarna keperakan. Wibawa dan kharisma seorang tokoh yang sangat kentara… ”
Contoh di atas adalah penjelasan detail tentang seorang informan. Data ditulis berdasarkan hasil observasi dan perasaan peneliti. Peneliti sendiri belum mewawancarai, baru menjelaskan apa yang dirasakan. Tetapi peneliti wajib menuliskan gambaran itu secara rinci karena ini adalah data penting. Kata “hati saya jadi ciut” adalah perasaan peneliti.
- Tulislah secara terstruktur dan sistematis
Penulisan dilakukan secara berurutan dari awal sampai dengan akhir kegiatan. Seorang peneliti diminta untuk menuliskan semuanya, mulai dari memasuki lokasi yang diamati sampai dengan meninggalkan lokasi. Urutan-urutan peristiwa yang diamati sangat dianjurkan untuk ditulis secara berurutan. Ini berguna untuk memudahkan peneliti dalam menemukan kembali atau mengembalikan memori pada saat penulisan laporan.
- Gunakan kalimat yang fleksibel dan mudah dipahami.
Setiap peneliti sebenarnya bisa saja punya gaya masing-masing dalam mencatatnya. Tetapi sangat dianjurkan untuk ditulis dengan gaya kalimat yang lebih lentur atau bahkan sedikit nyastra. Tekanannya adalah sesuatu yang mudah dipahami. Bagaimana menggambarkan sebuah realitas yang diamati tetapi dengan gaya kalimat yang menarik dan mudah dipahami. Mengapa ini dianjurkan karena sebagaimana penjelasan sebelumnya, catatan lapangan tidak berguna saja bagi peneliti, tetapi juga bisa dipublikasikan ke orang lain. Ia bisa menjadi bahan publikasi tersendiri yang kemudian bisa dikonsumsi publik.
- Tulislah catatan tindak lanjut apa yang akan dilakukan pada hari berikutnya.
Di bagian akhir pada masing-masing catatan lapangan, tuliskanlah rencana tindak lanjut dari apa yang diamati. Realitas yang sudah diamati pada satu hari tentu saja masih menyisakan sejumlah pertanyaan, terutama berkaitan dengan apa yang harus diperdalam lebih lanjut. Di sinilah perlunya dituliskan apa yang harus dikerjakan esok hari atau di masa mendatang. Ini menjadi semacam kartu kontrol dan juga panduan bagi peneliti tentang apa yang akan dikerjakan esok hari.
Misalnya, peneliti bisa menuliskan : (1) Perlu mendalami lebih lanjut tentang kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai, apakah karena keterpaksaan atau kebiasaan saja. (2) Perlu mencari tahu bagaimana kebijakan pemerintah setempat dalam mengatasi masalah sampah di wilayah ini.
Kedua hal di atas, kemudian harus diperdalam pada keesokan harinya. Setelah mendalami hal tersebut, maka akan muncul pula pertanyaan baru lagi. Begitulah seterusnya, sampai kemudian data bisa diperoleh dan diperoleh secara maksimal.
Desa Tanah Pilih, Sumsel (dok. 2018)
Kendala-kendala dalam menuliskan Catatan Lapangan
Sebenarnya menuliskan catatan lapangan tidaklah mempunyai kendala berarti, selain kendala teknis semata. Tetapi bagi sebagian peneliti tetap saja ini kadang terabaikan. Beberapa hal yang sering jadi kendala adalah :
- Tidak disiplinnya peneliti untuk menuliskan catatan lapangan.
Sering terjadi seorang peneliti beranggapan bahwa apa yang sudah diamatinya akan melekat dalam ingatan pikirannya, pasti bisa teringat karena melihat dan merasakan langsung. Akibatnya bagi peneliti timbul kemalasan dan tidak disiplin untuk menulis catatan tersebut. Padahal ini adalah masalah utama, yaitu tidak selamanya daya ingat akan bisa memutar balik memori seutuhnya. Selain itu, banyak hal-hal yang bersifat detail terlupakan karena hanya mengandalkan daya ingat. Misalnya, kondisi cuaca, suasana rumah, suasana lokasi, dan sebagainya.
- Ketersediaan waktu yang minimal
Kecenderungan juga terjadi, dalam sebuah penelitian lapangan, alokasi waktu yang sulit diprediksi. Terkadang informan yang datangi sulit ditemui, atau lokasi sendiri yang sulit dijangkau. Butuh waktu banyak untuk melakukan pengamatan. Akibatnya, sesampai di posko atau di tempat istirahat, waktu sudah tidak mencukupi lagi untuk menulis. Bisa saja pengamatannya berlangsung sampai sore atau bahkan malam, waktu untuk menulispun sangat terbatas.
- Kondisi fisik yang tidak mendukung
Berhubungan dengan kondisi pada nomor 2, kekuatan fisik seorang peneliti juga terbatas. Apabila seharian mencari data, mewawancarai informan, mengamati lokasi, bisa dipastikan kondisi fisik juga terkuras. Malam adalah waktunya istirahat karena hari esok masih akan dilanjutkan lagi. Akibatnya, kesempatan untuk menulis catatan lapangan tidak lagi dimiliki, peneliti harus mempersiapkan fisik keesokan harinya.
- Terbatasnya sarana prasarana
Menuliskan catatan lapangan membutuhkan sarana, terutama sarana tulis menulis. Peneliti pada era sekarang, sangat banyak mengandalkan perangkat elektronik seperti laptop ataupun Ipad. Semua ini tentu membutuhkan asupan listrik. Sementara tidak semua lokasi memiliki sumber daya listrik yang memadai. Ini juga menjadi masalah yang seharusnya bisa disiasati oleh seorang peneliti.
Terhadap kendala-kendala sebagaimana disebutkan di atas, peneliti harus benar-benar menanamkan komitmen pada dirinya bahwa perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan penelitian, bukan wisata. Segala sesuatunya harus dipertimbangkan, mulai dari waktu, fisik, dan sarana prasarana. Jika tidak memungkinkan menggunakan perangkat elektronik, maka buku catatan manual dapat dimanfaatkan. Jika tidak memungkinkan menulis secara ideal, maka pointer-pointer yang akan dikembangkan harus dituliskan. Apabila waktu dan fisik tidak memungkinkan maka kesiapan buku saku untuk menuliskan kenyataan-realitas penting harus dilakukan.
Referensi
Jessen, Tyler D., Natalie C.Ban, Nicholas Claxton, dan Chris T. Darimont. 2022. “Kontribusi Pengetahuan Adat terhadap Pemahaman Ekologis dan Evolusioner.” Perbatasan dalam Ekologi dan Lingkungan 20(2):93–101. doi: 10.1002/biaya.2435.
Stephen Kemmis. 2008. Buku Panduan Penelitian Tindakan SAGE 8 Teori Kritis dan Penelitian Tindakan Partisipatif 8 Teori Kritis dan Aksi Partisipatif .
Yenrizal, Agus Rahmat, Johan Iskandar, dan Atwar Bajari. 2022. “Manusia Memandang Alam Dalam Perspektif Etnoekologi Komunikasi.” di Etnoekologi Komunikasi, Orang Semende Memandang Alam . Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
Palembang - Mist



0 Komentar