Cerpen
Menahan Lukah
- Yenrizal
- 17 Sep 2021
- dilihat 185
ilustrasi
Matahari belum lagi tergelincir dari atas ubun-ubun kepala. Kendati sinarnya redup, terhalang oleh gumpalan awan kelabu, tapi cukup membuat keringat mengalir deras, membasahi baju putih seragam sekolahku. Hari itu aku bergegas pulang dari sekolah. Suara dentangan dari lempengan besi tua yang dipukul oleh guru menjadi penanda pelajaran selesai, segera kuraup buku tulis di meja kayu, memasukkannya ke kantong assoy hitam, bergegas berlari pulang. Jalan tanah penuh lacah kutempuh dengan sepatu karet berwarna hitam, tak perlu khawatir akan kotor, aku toh tak pakai kaos kaki, dan sangat terbiasa jalan berlumpur.
Hari itu, sekitar tahun 1984, saat aku masih duduk di kelas 3 SD. Uwan berjanji akan datang ke rumah. Uwan adalah ayah dari bapak, alias kakek. Kami semua memanggilnya Uwan. Kampung Uwan sangat jauh dari tempatku. Aku sendiri belum pernah kesana, karena kata Bapak harus naik Oto dulu sekitar 4 jam, setelah itu disambung jalan kaki sejauh 10 km melewati hutan dan kebun-kebun warga. Mobil tak bisa masuk ke kampung Uwan, tempat Bapakku dilahirkan. Bapak hanya menyebutnya Kampung Guo. Sementara mobil angkutan pedesaan hanya sampai di Paraman Ampalu. Terkadang ada juga yang sampai ke Talang Kuniang, harus melintasi dulu Sungai Batang Kenaikan.
Ya Uwan akan datang. Aku selalu bersemangat kalau ia datang, karena pasti akan banyak dibawanya, oleh-oleh kata orang sekarang. Uwan hanya bisa datang di hari Rabu, kendati tidak setiap Rabu, kadang hanya 6 bulan sekali. Mengapa hanya di hari Rabu? Karena saat itulah Oto menambang, bertepatan dengan hari pasar di Paraman Ampalu.
Sesampai di rumah aku sudah melihat pintu terbuka, dan di samping rumah kulihat seseorang sedang duduk di bangku kecil, samping kandang ayam. Aku segera mengenalinya, kopiah hitam yang agak miring, dan tentu saja rokok daun nipah khas Uwan. Ia hanya pakai singlet saja, dan kulihat bajunya tergantung di dinding rumah.
“Uwan!” teriakku. Ia langsung tersenyum melihatku. “Eh lah pulang Waang nyo Ndi, Uwan baru sampai juga,”ujarnya. Aku tak menanggapinya, tapi mataku justru mencari-cari, melihat ke sekitar Uwan. “Itu lukah yang dipesankan, sudah Uwan buat dan bawakan,” ujarnya seakan paham apa yang kuinginkan. Mataku langsung berbinar melihat ke samping rumah, sebuah lukah. Tingginya sekitar 1,5 meter, terbuat dari bilah-bilah buluh yang diikat/dijalin dengan rotan, dan di masing-masing ujungnya diberi Injuk, berupa rangkaian bilah bambu seperti corong. Belakangan aku baru tahu, di tempat lain ini disebut dengan Bubu, sebuah alat penangkap ikan yang ditanam di dalam sungai atau banda.
Uwan memang terkenal pandai membuat Lukah. Tempat tinggalnya yang jauh di pedalaman, lebih sering berhubungan dengan sawah dan sungai, membuatnya trampil membuat berbagai alat-alat khas orang desa. Lukah adalah salah satunya. Aku sengaja memesan Lukah ini sejak dua bulan lalu, ketika Pak Cik (adik bapak) mampir ke rumah. Aku pesankan jika Uwan kesini tolong aku dibuatkan Lukah.
Memasang Lukah sudah jadi impianku, karena aku pernah melihat kawan di kampung sebelah memasang lukah dan mengajakku mengangkatnya di pagi hari. Sungguh mengasyikkan melihat ikan menggelepar-gelepar terperangkap dalam lukah tersebut. Maka Lukahpun jadi impianku.
Tanpa menunggu waktu lagi, langsung ganti baju dan Lukah langsung kusandang. “Hei, makan dulu Ndi, waang kan baru pulang sekolah, makan dan sholatlah dulu. Tak baiknya menahan lukah di siang begini, tunggulah agak sore” ujar Uwan. “Lagipula, umpannya kan belum ada, nak kau pasang umpan apanya lukah itu nanti, kalau tak puya umpan, tak mungkin ikan akan masuk,”sambungnya.
Aku baru sadar, ya apa umpannya. Aku teringat dulu bapak pernah berkata bahwa umpan yang ampuh untuk menahan Lukah adalah Katapang busuk, hasil kukuran buah kerambil yang sudah dibusukkan. Tapi untuk membusukkan katapang diperlukan waktu sekitar 3 hari, ah waktu yang masih lama. Lukah ini mesti kutahan hari ini karena besok pagi akan segera kuangkat, tapi umpannya apa.
“Kalau belum ada Katapang busuk, bisa juga dipakai batang sarai (serei), ambil saja sekitar 10 batang, ikat, dan tumbuk-tumbuk sampai pecah, masukkan ke bagian atas Lukah itu. Walau tidak semempan katapang, tapi jadilah,” ujar Uwan.
Segeralah aku mengambil pisau dan berlari ke belakang rumah. Hanya hitungan menit aku sudah sampai ke depan uwan dengan segenggam batang sarai. Sesuai perintah Uwan, kuikat dan kutumbuk, dimasukkan ke bagian atas lukah dan terikat ke penutup lukah yang terbuat dari guntingan terompah Japang bekas.
Setelah selesai, hari sudah lepas ashar, Lukah sudah kusandang dipunggung, sebuah Lading kugenggam di tangan kanan. “Lai pandai waang menahan Lukah tu Ndi?” tanya Uwan melihatku sudah bergegas. Aku hanya mengiyakan sambil berlari ke belakang rumah, bergegas dengan langkah gagah menuju kebun kelapa yang baru ditanam oleh Bapak. Di tengah-tengah kebun kelapa Hybrida milik bapak, ada sebuah banda kecil, aliran air yang kata orang merupakan aliran yang mengalir dari anak Sungai Batang Tian, sebuah sungai yang agak besar di dekat Pasaman Baru. Kebun bapak yang berada di belakang rumah berada di Jorong Bancah Talang, Batang Lingkin. Sekarang ini masuk wilayah Pasaman Barat.
Aku ingat di banda kecil ini, setiap sore hari sering kulihat ikan Limbek (lele) meliuk-liuk di sela rumput-rumput liar, menyuruk-nyuruk ke dalam lumpur didalam banda itu. Terkadang kulihat juga beberapa ekor Rutiang (Gabus) berenang diantara ranting-ranting. Yang paling sering terlihat adalah ikan Kapareh dan Puyu (betok). Airnya yang jernih membuatnya mudah untuk dilihat dari atas. Inilah yang kuincar.
Banda itu hanya berukuran sekitar 1 meter, tertutup oleh rumput dan ranting yang menjulur ke dalamnya. Daun kayu yang sudah layu banyak pula yang tersangkut disitu. Ah, disinilah ikan itu sering menyilam.
Segera kupotong beberapa batang Junjung Merica yang banyak tumbuh di pinggir kebun. Masing-masing kupotong sekitar ukuran 1 meter. Jumlahnya mencapai 10 buah. Setelah itu kucucukkanlah Junjung Merica ditengah Banda membentuk seperti sirip ikan, menyerupai huruf V terbalik. Dibagian tengah ditinggalkan ruang kosong untuk menempatkan lukahnya. Masing-masing sisi Banda harus tertutup oleh kayu itu dan kemudian ditutupi lagi dengan dedauan agar ikan-ikan dari bawah tidak menyelinap ke atas. Menahan lukah memang harus tahu posisinya. Untunglah aku pernah lihat kawan di kampung sebelah, jadi sedikit paham, walau tak terlalu rapi. Aku seolah-olah sedang menghampang Banda, membuat pembatas agar ikan dari bawah tidak menyelinap ke samping, tapi masuk dari bagian bawah Lukah.
Ciri khas dari menahan Lukah adalah kita menunggu datangnya ikan dari arah bawah, bukan dari atas. Oleh karena itu, bagian lukah itu harus kepalanya yang di atas. Umpan yang ditaroh di bagian atas akan mengantarkan bau dari umpan melalui aliran air yang mengalir ke bawah. Bau menyengat dari umpan akan mendorong ikan dari bawah untuk ke atas. Karena Banda sudah dihampang, maka jalan satu-satunya adalah melalui buntut Lukah, masuk ke dalam. Ketika sudah masuk, sulit baginya untuk keluar karena sudah terjebak oleh adanya Injuak.
Langit sudah mulai kemerahan, di langit kulihat deretan Kaliluang (Kalong) sudah bergerak ke arah bawah, pertanda sebentar lagi Magrib akan datang. Lukah selesai kutanam, lading kuambil dan bergegas pulang.
Malam itu mataku rasanya sulit terpejam, golek ke kiri, golek ke kanan, tak jua mata terpejam. Hujan deras sedang turun pula. Disitu pula dadaku berdebar-debar. Ingatanku pada Lukah yang sudah tertanam, yang sekarang tentu sudah disiram derasnya hujan. Aku ingat kata Bapak, kalau hari hujan biasanya ikan akan banyak keluar, jadi menahan lukah pada saat hujan akan sangat baik sekali. Uh, mata ini makin sulit dipejam, bayangan Lukah di banda selalu terbayang.
Entah jam berapa aku tertidur, yang jelas badanku sudah digoyang-goyang oleh Bapak. Teriakan menyuruh sholat subuh seakan samar kudengar. “Ah Lukah, Lukah!” teriakku bergegas. Bapak langsung berteriak untuk sholat subuh. Kesadaranku pulih, akupun sholat subuh dengan kecepatan yang super kilat. Bayangan mengangkat Lukah sangat mengganggu.
Tanpa mengambil terompah lagi, dengan membawa Lading, aku bagai dikejer Inyiak berlari ke arah kebun. Temaram cahaya sehabis subuh tak kuhiraukan, begitu juga lumpur dan licinnya jalan tak jadi pikiran. Bekas kaki babi hutan dijalanan berlumpur kutempuh saja.
Badanku sudah hampir basah sesampai ditempat Lukah, bukan basah karena keringat tapi karena terkena air bekas hujan yang menempel di dedaunan kayu. Kulihat susunan Lukah masih utuh, dengan hati-hati aku melangkah ke dalam Banda, dingin air tak terasa. Pelan-pelan kuangkat dedaunan yang menutupi Lukah, kuangkat kayu yang mengapitnya. Dengan sangat hati-hati dan dada berdebar kupegang masing-masing ujung Lukah, mengangkatnya pelan. Bah, ini dia yang kunanti, mengangkat Lukahku pertama kali. Benar kata Bapak, keasyikan menahan Lukah adalah saat mengangkatnya di pagi hari.
Begitu Lukah kuangkat, mataku tertuju pada bagian atas Lukah. Kelihatan berwarna hitam kulihat bergerak-gerak, bertumpuk dan seperti memberontak. Aku dapat Ikan! Aku dapat Ikan! Satu, dua, tiga, empat….Ya 4 ekor Limbek, dan ternyata masih ada 1 ekor Rutiang. Gelepar ikan masih terdengar ternyata ada pula 3 ekor Kapareh ikut menyelip. Luar biasa! Lepas semua segala penat.
Sesampai di rumah, Uwan sudah menunggu dan tampak sangat bersemangat melihat hasilku melukah. Ibu langsung mengambil dan menyianginya, kuali rupanya sudah siap. Ah leganya, makan enaknya kita hari ini.
***
Suara azan Subuh membangunkan ku. Kenangan menahan Lukah semasa kecil dulu di Bancah Talang, Batang Lingkin, Pasaman Barat rupanya kembali masuk ke mimpiku. Mimpi yang kemudian mendorongku untuk menulis ulang pengalaman semasa masih sangat akrab dengan kebun, hutan, semak, banda, dan segala yang ada didalamnya. Peristiwa yang tak mungkin terulang lagi, pengalaman 39 tahun yang lalu.
*Penulis : Dr. Yenrizal, M.Si
Putra Pasaman Barat, kelahiran Talu, dan lama berdomisili di Batang Lingkin. Sekarang bermukim di Palembang
Palembang - Mist



0 Komentar