Artikel
Warung Tenda di Prabumulih
- Yenrizal
- 02 Aug 2025
- dilihat 188
ilustrasi
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si
(Dosen FISIP UIN Raden Fatah)
Hiruk pikuk kendaraan masih terdengar. Jalan lintas itu tetap saja padat dilewati, kendati sinar matahari sudah beranjak ke ufuk barat. Petang menjelang magrib, gadis muda itu sudah selesai berdandan, rapi dan polesan bedak tipis menghias pipi. Tenda beratapkan plastik terpal sudah terpasang, berikut jejeran meja dan kursi plastik sudah pula tersusun di trotoar jalan. Berbagai piring terhidang lauk pauk, mulai dari tempe bacem, ikan goreng, ati ampela, ayam goreng, telur bulat dan gulung, tak lupa sambel terasi dan lado hijau sudah tertata rapi. Box nasi penuh seukuran 10 kg mengepulkan asap menebar aroma. Sore itu, “kantornya” segera dibuka. Warung tenda jalan lintas Prabumulih-Palembang siap beroperasi.
Ita (bukan nama sebenarnya) berusia sekitar 17 tahun, asli dari Belido, mulai duduk manis, sesekali tangannya menepiskan kipas penghalau debu dan lalat. Ita tak sendirian, di kiri kanan tendanya juga berjejer warung-warung “bedalu” (warung makan khusus malam), dan hampir semuanya ditunggui oleh pramuniaga wanita-wanita muda. Jam tugas mereka cukup unik, 17.00 sore sampai subuh, atau sampai hidangan habis. Karena itu, Ita dan kawan-kawannya hanya bisa ditemui di malam hari, siang waktunya tidur.
Palembang - Mist



0 Komentar