Artikel

Bambu dan Makna Lingkungan


Bambu

Pribahasa Melayu sendiri juga banyak yang menggunakan kata-kata bambu, seperti “bagai aur dengan tebing”, “bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat”, “bagai pohon bambu ditiup angin”, dan lain sebagainya. Dalam konteks masyarakat Melayu, juga komunitas tradisional lain yang lazim pakai sastra tutur, sebuah pribahasa ataupun pantun, biasanya tidak muncul begitu saja. Kata-kata itu mengandung petuah, ajaran, yang datangnya dari melihat realitas alam semesta tempat mereka hidup. Pemaknaan terhadap realitas alam inilah yang kemudian dijadikan bagian dari kehidupan sehari-hari, yang mewujud dalam berbagai bentuk kebudayaan. Orang komunikasi menyebut ini sebagai bentuk etnoekologi komunikasi.

Masyarakat memaknai alam, memaknai lingkungannya, memaknai semua yang ada disekitarnya. Sudah kelaziman pula, memaknai ini didasarkan pada nilai guna dan fungsinya bagi keutuhan dan kelangsungan hidup manusia. Pada titik tertentu, pemaknaan ini bisa berubah, bergeser, yaitu pada saat realitas sosial di masyarakat juga berubah. Perubahan ini bisa karena faktor internal masyarakat, dan yang paling dominan karena faktor ekternal, terutama industrialisasi dan modernisasi. Saat pula pikir masyarakat dari generasi ke generasi terus digerus dengan godaan-godaan materialistis sebagai imbas dari industrialisasi, maka lingkungan alampun dimaknai sebagai wilayah materi semata. Terjadilah eksploitasi besar-besaran, bukit di pangkas, rawa ditimbun, sungai dikeringkan, tanah digali. Untuk sesaat, manusia masih merasakan untungnya, tapi hanya sesaat. Jangka panjang, kemelaratan, kekeringan, longsor, banjir, kebakaran hutan, kabut asap, jadi menu sehari-hari.

Pada kondisi demikian, ada kecenderungan bahwa manusia sudah berada pada taraf melupakan identitasnya sendiri, identitas dalam arti kata hubungannya dengan lingkungan alam ini. Banyak unsur di alam ini yang sebenarnya adalah identitas bagi manusia disekitarnya, tapi sayang identitas ini kerap dianggap tidak penting, atau terkadang justru dibuat identitas baru yang menghilangkan identitas awal. Saya percaya bahwa identitas masyarakat tersebut ada pada alam disekitar mereka. Orang Antropologi menyebut ini dengan kosmologi.

Atas dasar itu, sebagaimana penggambaran di awal tulisan ini, ataupun berbagai pengalaman dan kebiasaan di masyarakat lokal, maka bambu sebenarnya adalah identitas. Bukankah negara ini adalah wilayah tropis? Bambu sendiri adalah salah satu tanaman tropis, yang sedari awal sudah diketahui sebagai tanaman ramah lingkungan, multifungsi, mudah dalam budidaya, dan punya peran besar dalam menyimpan air dalam tanah dan luar tanah. Tentu kita masih ingat bagaimana cerita-cerita orang tersesat dalam hutan yang kehabisan air minum. Batang bambu adalah solusi, tinggal pancung, didalamnya ada air siap minum. Itulah cadangan air luar tanah.