Artikel
Bambu dan Makna Lingkungan
- Yenrizal
- 01 Sep 2025
- dilihat 204
Bambu
Pribahasa
Melayu sendiri juga banyak yang menggunakan kata-kata bambu, seperti “bagai aur
dengan tebing”, “bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat”, “bagai pohon
bambu ditiup angin”, dan lain sebagainya. Dalam konteks masyarakat Melayu, juga
komunitas tradisional lain yang lazim pakai sastra tutur, sebuah pribahasa
ataupun pantun, biasanya tidak muncul begitu saja. Kata-kata itu mengandung
petuah, ajaran, yang datangnya dari melihat realitas alam semesta tempat mereka
hidup. Pemaknaan terhadap realitas alam inilah yang kemudian dijadikan bagian
dari kehidupan sehari-hari, yang mewujud dalam berbagai bentuk kebudayaan.
Orang komunikasi menyebut ini sebagai bentuk etnoekologi komunikasi.
Masyarakat
memaknai alam, memaknai lingkungannya, memaknai semua yang ada disekitarnya.
Sudah kelaziman pula, memaknai ini didasarkan pada nilai guna dan fungsinya
bagi keutuhan dan kelangsungan hidup manusia. Pada titik tertentu, pemaknaan
ini bisa berubah, bergeser, yaitu pada saat realitas sosial di masyarakat juga
berubah. Perubahan ini bisa karena faktor internal masyarakat, dan yang paling
dominan karena faktor ekternal, terutama industrialisasi dan modernisasi. Saat
pula pikir masyarakat dari generasi ke generasi terus digerus dengan
godaan-godaan materialistis sebagai imbas dari industrialisasi, maka lingkungan
alampun dimaknai sebagai wilayah materi semata. Terjadilah eksploitasi
besar-besaran, bukit di pangkas, rawa ditimbun, sungai dikeringkan, tanah
digali. Untuk sesaat, manusia masih merasakan untungnya, tapi hanya sesaat.
Jangka panjang, kemelaratan, kekeringan, longsor, banjir, kebakaran hutan,
kabut asap, jadi menu sehari-hari.
Pada
kondisi demikian, ada kecenderungan bahwa manusia sudah berada pada taraf
melupakan identitasnya sendiri, identitas dalam arti kata hubungannya dengan
lingkungan alam ini. Banyak unsur di alam ini yang sebenarnya adalah identitas
bagi manusia disekitarnya, tapi sayang identitas ini kerap dianggap tidak
penting, atau terkadang justru dibuat identitas baru yang menghilangkan
identitas awal. Saya percaya bahwa identitas masyarakat tersebut ada pada alam
disekitar mereka. Orang Antropologi menyebut ini dengan kosmologi.
Atas
dasar itu, sebagaimana penggambaran di awal tulisan ini, ataupun berbagai
pengalaman dan kebiasaan di masyarakat lokal, maka bambu sebenarnya adalah
identitas. Bukankah negara ini adalah wilayah tropis? Bambu sendiri adalah
salah satu tanaman tropis, yang sedari awal sudah diketahui sebagai tanaman
ramah lingkungan, multifungsi, mudah dalam budidaya, dan punya peran besar
dalam menyimpan air dalam tanah dan luar tanah. Tentu kita masih ingat
bagaimana cerita-cerita orang tersesat dalam hutan yang kehabisan air minum.
Batang bambu adalah solusi, tinggal pancung, didalamnya ada air siap minum.
Itulah cadangan air luar tanah.
Palembang - Mist



0 Komentar