Artikel

Bambu dan Makna Lingkungan


Bambu

Identitas itulah yang kemudian melekat dalam semua aktifitas masyarakat, walaupun kemudian muncul pula pandangan negatif, bahwa orang yang menggunakan bambu untuk rumahnya, adalah orang miskin. Karena tidak mampu membeli kayu, pohon bambupun jadilah. Saya pikir ini adalah masalah kuasa struktur. Sedari dulu, kita sudah dibiasakan (distrukturkan) untuk memandang kayu, dan cenderung disebabkan karena kayu punya nilai jual tinggi. Sifat kayu yang mudah diolah, bisa dipaku, lebih cepat bisa difungsikan. Alhasil, ramai-ramailah kayu ditebang, dibelah, dijual dan dijadikan segala macam produk. Ini sangat dekat dengan struktur ekonomi kapitalistik, dan memang itulah yang terjadi.  Persoalannya, saat kayu sudah habis, apa yang bisa dilakukan? Inilah titik lemahnya, sehingga kayu tidak punya argumen kuat untuk dijadikan identitas masyarakat.

Peremajaan kayu (reboisasi) tidak bisa sebentar, butuh bertahun-tahun, umumnya di atas 10 tahun. Berbanding terbalik dengan bambu, ia bisa tumbuh cepat dan banyak dalam satu rumpun. Bambu juga sangat tahan terhadap api, misalnya kebakaran. Walau batang dan daunnya sudah habis, dalam waktu singkat ia akan tumbuh lagi. Sebuah referensi pernah menyebutkan, saat bom atom menghanguskan Hiroshima dan Nagasaki, satu-satunya tanaman yang tersisa adalah bambu.

Karena itulah bambu sebenarnya adalah identitas masyarakat daerah tropis, terutama Indonesia, termasuk tentu saja orang Melayu. Bambu adalah identitas, sebagaimana Cina yang menggadang-gadangkan diri sebagai Negara Tirai Bambu. Sudah saatnya identitas ini dikembalikan ke orang-orang Melayu, dan tentu saja dengan memulai menanamnya, membudidayakan, dan memanfaatkan.

Saat ini, semua itu menjadi begitu relevan, terutama dengan program pemerintah untuk melakukan restorasi atau perbaikan dan penghijauan kembali lahan gambut yang pernah terbakar hebat di 2014 dan 2015 silam. Gambut adalah salah satu wilayah habitat pohon bambu. Tak salah, dan bahkan harus didorong agar bambu masuk dalam skema pelaksana restorasi nantinya. Tentu saja, karena identitas masyarakat bukan hanya bambu, tapi seluruh yang ada di alam ini, maka perlu dimasukkan tanaman lain seperti Sagu, Aren, Pinang, dan Jelutung.  Ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui. Sekali merestorasi, banyak manfaat tercapai, lahan hijau, karhutla bisa dicegah, dan identitas masyarakat bisa ditegakkan kembali.