Feature
Dari Sekeloa ke Jatinangor
- Yenrizal
- 21 Sep 2022
- dilihat 201
ilustrasi
Cerita soal FKG ternyata banyak juga kisah dari teman-teman. Setidaknya, banyak teman-teman yang kemudian bisa berobat gigi gratis, cukup dengan datang dan serahkan KTM. Tapi ini bukan berobat layaknya ke praktek dokter gigi, tapi jadi bahan praktek mahasiswi FKG. Tak apalah, sebagai mahasiswa kost, ini sebuah keuntungan, apalagi disentuh oleh para calon dokter gigi yang dari sentuhan tangannya saja sudah bisa menyembuhkan denyut gigi. Gimana kalau mahasiswa FKGnya pria? Tidaklah…
Memasuki kawasan kampus ini, jadi perjalanan menarik juga. Lokasinya bukanlah dipinggiran jalan besar atau dalam sebuah komplek pendidikan yang tertata rapi. Kampus ini ibaratkan nyembul saja di tengah-tengah padatnya kawasan Sekelola. Dinding kelas langsung berbatasan dengan rumah penduduk. Interaksi dengan warga sekitar jadi dekat.
“Uh laper jadinya,” ujar seorang teman nyeletuk pelan di bangku belakang. Suara lantang Pak Harun Al Rasyid, dosen statistik yang nyeleneh, tenggelam oleh aroma masakan yang ternyata datang dari rumah tetangga sebelah. Sisi-sisi jendela kaca nako mengalirkan aroma goreng ikan asin. Ah, jam 11.30 siang, perut mana pula yang tak tergoda saat kepala dijejali rumus-rumus statistik.
Ya kampus ini adalah bagian dari pemukiman penduduk di Sekeloa. Aroma masakan, teriakan penjual asongan, deru sepeda motor, termasuk hamparan jemuran pakaian, adalah bagian dari kisah berkuliah di Sekeloa. Baik mahasiswa S2 ataupun S3, termasuk yang sekarang sudah menjadi “orang”, jadi pejabat di instansinya masing-masing, pasti punya pengalaman soal ini.
Palembang - Mist



0 Komentar