Cerpen

Di Dermaga Lapuk


ilustrasi

Tapi aku tak sendiri, disudut lain bangunan dermaga atau lebih tepatnya pondok lapuk tempat istirahat penumpang, ada seseorang perempuan. Ia mungkin lebih lama dariku duduk disitu, karena kutahu ia sudah ada sebelum aku bermenung di atas aliran air.

Rambutnya keriting, keriput menggelantung di antara bibir keringnya. Sudut mataku bisa mencermati itu. Tak bisa dikatakan rapi. Kusut mengkerut helaian rambut itu, compang camping daster gelapnya. Mulutnya sedari tadi tak henti bergumam, kadang ia tersenyum, kadang kudengar sesenggukan. Ah, tak waras rupanya.

Biarlah, ia toh tak mengganggu. Setidaknya, aku tak sendiri di dermaga tua ini.

“Hoiiii…..dalam dalam si Sungai Musi, banyunyo tenang banyak buayo. Hoiii….dalam-dalam pedihnyo hati, sangkoku lemak ruponyo saro”