Artikel
INGIN BISA MENULIS TULISLAH
- Yenrizal
- 30 Oct 2022
- dilihat 201
ilustrasi
Pekerjaan menulis sama dengan belajar naik sepeda motor. Tak ada rumus terbaik selain kita ambil motor, duduk di atas sadelnya, tekan gas dan jalankan. Pertama kali mungkin akan jatuh dulu, nabrak dulu dan sebagainya. Wajar, itu adalah bagian dari belajar. Dari proses itulah kemudian kita akan bisa menjalankan motor dan tahu seluk beluknya.
Saat pertama mencoba menulis dan mengirimkannya ke media massa, saya melakukan tahun 1996 silam, baru menginjak semester 6. Sebelumnya saya sudah mencoba beberapa kali, tetapi selalu gagal masuk koran. Hampir sekitar 15 tulisan sudah dibuat tapi selalu ditolak atau tak ada kabar beritanya. Menyerahkah? Tidak, prinsipnya adalah, apakah saya yang bosan atau medianya yang bosan. Prinsipnya saya terus tulis dan kirimkan. Walhasil, wajah dan nama saya akhirnya muncul di Mingguan Canang, sebuah media terbitan Padang, Sumatera Barat. Itulah artikel pertama saya di media massa. Semua penat dan kebosanan selama ini, hilang sudah. Semangat makin membara, tulis lagi.
Memang tak ada rumus khusus dalam menulis, khususnya tulisan artikel populer untuk media massa. Akan tetapi memang ada perbedaan antara penulis jaman dulu (eranya media massa cetak) dengan sekarang eranya media online. Hal utama yang saya rasakan adalah perjuangan dan gengsinya. Dulu yang ada hanya media massa cetak, tak ada internet apalagi media massa online. Jumlah medianya terbatas dan akibatnya persaingan untuk tembus ke media menjadi ketat. Siapa yang bisa tembus ke media, berarti ia sudah melalui sejumlah saringan dan tulisannya sudah dianggap baik.
Sarana prasarana juga masih terbatas, komputer adalah barang mahal, konon pula laptop. Terkadang mesin tik masih jadi andalan. Memanfaatkan jasa rental komputer atau sesekali nyuri waktu di komputer kawan atau numpang ngetik di komputer milik kampus. Internet tak ada, sumber informasi jadi barang mahal. Beli koran cetak tiap hari adalah solusi terbaik.
Palembang - Mist



0 Komentar