Artikel
Kemarau dan Komunikasi Lingkungan
- Yenrizal
- 01 Oct 2021
- dilihat 209
ilustrasi
Tiap tahun, kemarau pasti datang. Ini adalah ritme rutin dalam sebuah wilayah tropis. Setelah diterpa musim penghujan, sekarang kekeringan muncul, kabut asap, dan kebakaran terjadi di berbagai tempat. Masyarakat, pemerintah, semua unsur mulai panik. Padahal, sebenarnya ini adalah rutinitas biasa. Hanya kualitas dan masa terjadinya saja yang berbeda. Dulu, kemarau mungkin tidak terlalu “menyengat” seperti sekarang, waktunyapun tidak terlalu lama. Sekarang, suhu udara terasa begitu menusuk kulit, terjadinyapun sangat panjang.
Sejak sekitar 10 tahun terakhir, ekses kemarau yang paling dirasakan adalah kebakaran hutan dan terjadinya kabut asap. Kekeringan sumber air juga jadi dampak bawaan. Ini tidak terjadi bukan satu atau dua tahun belakangan, tapi lebih dari 10 tahun terakhir. Disinyalir, dari berbagai pemberitaan, ini disebabkan oleh proses pembakaran lahan oleh masyarakat ataupun perusahaan perkebunan tertentu. Bisa juga ini karena memang terbakar secara tidak sengaja, dan kemudian merembet kemana-mana.
Apapun itu, yang jelas terjadinya kemarau dan kabut asap, adalah karena ulah manusia, baik disengaja atau tidak disengaja. Mau mengakui atau tidak, tidak akan terjadi perubahan iklim dan asap yang begitu tebal tanpa campur tangan manusia. Sampai disini, pertanyaan penting yang kemudian bisa diajukan adalah, sudah sadarkah manusia terhadap ulah prilakunya sendiri? Jika tidak, maka tetaplah bersabar “menikmati” apa yang ada, sambil terus berharap dan berdoa pada Tuhan, semoga kemarau cepat berlalu. Walaupun kita juga yakin bahwa doa itu sulit untuk dikabulkan Tuhan.
Memahami alam sebenarnya hanya butuh logika sederhana saja. Alam ibaratkan konsep dalam teori sistem, dimana manusia, hutan, sungai, udara, binatang, adalah sebuah kumpulan dari subsistem, yang kemudian membentuk sebuah ekosistem tersendiri. Semua adalah satu kesatuan, saling berkaitan. Alam telah memiliki perangkat hukum keseimbangan yang saling berkaitan. Kalau hujan turun dengan deras, maka akan terjadi limpahan air yang besar. Kalau air melimpah, dan tidak disiapkan tempat penampungannya, banjir akan terjadi. Sebaliknya, jika hutan dibabat, tempat genangan air ditimbun, suhu udara akan meningkat. Ketika suhu udara meningkat, gumpalan awan menjadi tipis, cahaya mataharipun tidak lagi memiliki filter untuk sampai ke bumi. Akibatnya panas matahari terasa demikian kuat.
Palembang - Mist



0 Komentar