Artikel
Kemarau dan Komunikasi Lingkungan
- Yenrizal
- 01 Oct 2021
- dilihat 209
ilustrasi
Dari logika sederhana di atas, jelas bahwa ada prinsip hukum keseimbangan yang terganggu. Efek dari gangguan itulah yang terasa sekarang. Siapa yang menganggu hukum keseimbangan tersebut? Manusia, tak ada kambing hitam lainnya. Karena itu, solusinya adalah dari manusia itu sendiri.
Kalau kita analisa dari perspektif ilmu komunikasi, tekanan pada komunikasi lingkunganlah yang terabaikan selama ini. Komunikasi lingkungan berkaitan dengan etika lingkungan. Terdapat pelanggaran prinsip komunikasi lingkungan, dan kemudian melakukan pula pengingkaran terhadap etika lingkungan.
Komunikasi lingkungan bukan semata ingin mengatakan interaksi manusia dengan lingkungan alam. Memang berkaitan erat, namun fokusnya lebih pada proses komunikasi antar manusia mengenai kondisi lingkungannya. Saya contohkan, ketika terjadi proses pembakaran lahan dalam membuka kebun oleh masyarakat sekarang ini, darimanakah mereka mendapatkan informasi tentang itu? Tentu saja, dari komunikasinya dengan orang lain. Dulunya, ketika zaman nenek moyang, mungkin proses komunikasi yang terjadi masih mengarahkan pada larangan agar hutan dijaga. Sekarang mungkin sudah beralih pada pemanfaatan sebesar-besarnya untuk kepentingan manusia semata.
Dulu, kalau anda berada di beberapa wilayah pedesaan Sumsel, seperti daerah Lahat, masih ditemukan kata-kata “kalau dide pacak ngilo’i, njage jadilah” (kalau tidak bisa memperbaiki, menjagapun jadilah). Sekarang, hampir tak terdengar lagi, kecuali sebatas tulisan di tugu selamat datang yang terletak di pinggir jalan. Artinya, pewarisan kata-kata yang sifatnya menjaga lingkungan sekitar, tidak lagi pernah dikomunikasikan. Kalaupun dikomunikasikan ke anak-anak dan generasi berikutnya, bunyinya adalah “disana tanah kita, carilah modal, dan bukalah kebun karet atau kebun kelapa sawit”. Cara praktis membuka lahan adalah dengan membakar, dan waktu membakar yang terbaik adalah di musim kemarau. Jadi, kloplah sudah apa yang terjadi sekarang ini.
Palembang - Mist



0 Komentar