Cerpen

Menahan Lukah


ilustrasi

Badanku sudah hampir basah sesampai ditempat Lukah, bukan basah karena keringat tapi karena terkena air bekas hujan yang menempel di dedaunan kayu. Kulihat susunan Lukah masih utuh, dengan hati-hati aku melangkah ke dalam Banda, dingin air tak terasa. Pelan-pelan kuangkat dedaunan yang menutupi Lukah, kuangkat kayu yang mengapitnya. Dengan sangat hati-hati dan dada berdebar kupegang masing-masing ujung Lukah, mengangkatnya pelan. Bah, ini dia yang kunanti, mengangkat Lukahku pertama kali. Benar kata Bapak, keasyikan menahan Lukah adalah saat mengangkatnya di pagi hari.

Begitu Lukah kuangkat, mataku tertuju pada bagian atas Lukah. Kelihatan berwarna hitam kulihat bergerak-gerak, bertumpuk dan seperti memberontak. Aku dapat Ikan! Aku dapat Ikan! Satu, dua, tiga, empat….Ya 4 ekor Limbek, dan ternyata masih ada 1 ekor Rutiang. Gelepar ikan masih terdengar ternyata ada pula 3 ekor Kapareh ikut menyelip. Luar biasa! Lepas semua segala penat.

Sesampai di rumah, Uwan sudah menunggu dan tampak sangat bersemangat melihat hasilku melukah. Ibu langsung mengambil dan menyianginya, kuali rupanya sudah siap. Ah leganya, makan enaknya kita hari ini.

***