Cerpen
Menahan Lukah
- Yenrizal
- 17 Sep 2021
- dilihat 189
ilustrasi
Langit sudah mulai kemerahan, di langit kulihat deretan Kaliluang (Kalong) sudah bergerak ke arah bawah, pertanda sebentar lagi Magrib akan datang. Lukah selesai kutanam, lading kuambil dan bergegas pulang.
Malam itu mataku rasanya sulit terpejam, golek ke kiri, golek ke kanan, tak jua mata terpejam. Hujan deras sedang turun pula. Disitu pula dadaku berdebar-debar. Ingatanku pada Lukah yang sudah tertanam, yang sekarang tentu sudah disiram derasnya hujan. Aku ingat kata Bapak, kalau hari hujan biasanya ikan akan banyak keluar, jadi menahan lukah pada saat hujan akan sangat baik sekali. Uh, mata ini makin sulit dipejam, bayangan Lukah di banda selalu terbayang.
Entah jam berapa aku tertidur, yang jelas badanku sudah digoyang-goyang oleh Bapak. Teriakan menyuruh sholat subuh seakan samar kudengar. “Ah Lukah, Lukah!” teriakku bergegas. Bapak langsung berteriak untuk sholat subuh. Kesadaranku pulih, akupun sholat subuh dengan kecepatan yang super kilat. Bayangan mengangkat Lukah sangat mengganggu.
Tanpa mengambil terompah lagi, dengan membawa Lading, aku bagai dikejer Inyiak berlari ke arah kebun. Temaram cahaya sehabis subuh tak kuhiraukan, begitu juga lumpur dan licinnya jalan tak jadi pikiran. Bekas kaki babi hutan dijalanan berlumpur kutempuh saja.
Palembang - Thunderstorm



0 Komentar