Cerpen

Menahan Lukah


ilustrasi

Aku ingat di banda kecil ini, setiap sore hari sering kulihat ikan Limbek (lele) meliuk-liuk di sela rumput-rumput liar, menyuruk-nyuruk ke dalam lumpur didalam banda itu. Terkadang kulihat juga beberapa ekor Rutiang (Gabus) berenang diantara ranting-ranting. Yang paling sering terlihat adalah ikan Kapareh dan Puyu (betok). Airnya yang jernih membuatnya mudah untuk dilihat dari atas. Inilah yang kuincar.

Banda itu hanya berukuran sekitar 1 meter, tertutup oleh rumput dan ranting yang menjulur ke dalamnya. Daun kayu yang sudah layu banyak pula yang tersangkut disitu. Ah, disinilah ikan itu sering menyilam.

Segera kupotong beberapa batang Junjung Merica yang banyak tumbuh di pinggir kebun. Masing-masing kupotong sekitar ukuran 1 meter. Jumlahnya mencapai 10 buah. Setelah itu kucucukkanlah Junjung Merica ditengah Banda membentuk seperti sirip ikan, menyerupai huruf V terbalik. Dibagian tengah ditinggalkan ruang kosong untuk menempatkan lukahnya. Masing-masing sisi Banda harus tertutup oleh kayu itu dan kemudian ditutupi lagi dengan dedauan agar ikan-ikan dari bawah tidak menyelinap ke atas. Menahan lukah memang harus tahu posisinya. Untunglah aku pernah lihat kawan di kampung sebelah, jadi sedikit paham, walau tak terlalu rapi. Aku seolah-olah sedang menghampang Banda, membuat pembatas agar ikan dari bawah tidak menyelinap ke samping, tapi masuk dari bagian bawah Lukah.

Ciri khas dari menahan Lukah adalah kita menunggu datangnya ikan dari arah bawah, bukan dari atas. Oleh karena itu, bagian lukah itu harus kepalanya yang di atas. Umpan yang ditaroh di bagian atas akan mengantarkan bau dari umpan melalui aliran air yang mengalir ke bawah. Bau menyengat dari umpan akan mendorong ikan dari bawah untuk ke atas. Karena Banda sudah dihampang, maka jalan satu-satunya adalah melalui buntut Lukah, masuk ke dalam. Ketika sudah masuk, sulit baginya untuk keluar karena sudah terjebak oleh adanya Injuak.