Cerpen

Menahan Lukah


ilustrasi

Aku baru sadar, ya apa umpannya. Aku teringat dulu bapak pernah berkata bahwa umpan yang ampuh untuk menahan Lukah adalah Katapang busuk, hasil kukuran buah kerambil yang sudah dibusukkan. Tapi untuk membusukkan katapang diperlukan waktu sekitar 3 hari, ah waktu yang masih lama. Lukah ini mesti kutahan hari ini karena besok pagi akan segera kuangkat, tapi umpannya apa.

“Kalau belum ada Katapang busuk, bisa juga dipakai batang sarai (serei), ambil saja sekitar 10 batang, ikat, dan tumbuk-tumbuk sampai pecah, masukkan ke bagian atas Lukah itu. Walau tidak semempan katapang, tapi jadilah,” ujar Uwan.

Segeralah aku mengambil pisau dan berlari ke belakang rumah. Hanya hitungan menit aku sudah sampai ke depan uwan dengan segenggam batang sarai. Sesuai perintah Uwan, kuikat dan kutumbuk, dimasukkan ke bagian atas lukah dan terikat ke penutup lukah yang terbuat dari guntingan terompah Japang bekas.

Setelah selesai, hari sudah lepas ashar, Lukah sudah kusandang dipunggung, sebuah Lading kugenggam di tangan kanan. “Lai pandai waang menahan Lukah tu Ndi?” tanya Uwan melihatku sudah bergegas. Aku hanya mengiyakan sambil berlari ke belakang rumah, bergegas dengan langkah gagah menuju kebun kelapa yang baru ditanam oleh Bapak. Di tengah-tengah kebun kelapa Hybrida milik bapak, ada sebuah banda kecil, aliran air yang kata orang merupakan aliran yang mengalir dari anak Sungai Batang Tian, sebuah sungai yang agak besar di dekat Pasaman Baru. Kebun bapak yang berada di belakang rumah berada di Jorong Bancah Talang, Batang Lingkin. Sekarang ini masuk wilayah Pasaman Barat.