Cerpen
Menahan Lukah
- Yenrizal
- 17 Sep 2021
- dilihat 185
ilustrasi
“Uwan!” teriakku. Ia langsung tersenyum melihatku. “Eh lah pulang Waang nyo Ndi, Uwan baru sampai juga,”ujarnya. Aku tak menanggapinya, tapi mataku justru mencari-cari, melihat ke sekitar Uwan. “Itu lukah yang dipesankan, sudah Uwan buat dan bawakan,” ujarnya seakan paham apa yang kuinginkan. Mataku langsung berbinar melihat ke samping rumah, sebuah lukah. Tingginya sekitar 1,5 meter, terbuat dari bilah-bilah buluh yang diikat/dijalin dengan rotan, dan di masing-masing ujungnya diberi Injuk, berupa rangkaian bilah bambu seperti corong. Belakangan aku baru tahu, di tempat lain ini disebut dengan Bubu, sebuah alat penangkap ikan yang ditanam di dalam sungai atau banda.
Uwan memang terkenal pandai membuat Lukah. Tempat tinggalnya yang jauh di pedalaman, lebih sering berhubungan dengan sawah dan sungai, membuatnya trampil membuat berbagai alat-alat khas orang desa. Lukah adalah salah satunya. Aku sengaja memesan Lukah ini sejak dua bulan lalu, ketika Pak Cik (adik bapak) mampir ke rumah. Aku pesankan jika Uwan kesini tolong aku dibuatkan Lukah.
Memasang Lukah sudah jadi impianku, karena aku pernah melihat kawan di kampung sebelah memasang lukah dan mengajakku mengangkatnya di pagi hari. Sungguh mengasyikkan melihat ikan menggelepar-gelepar terperangkap dalam lukah tersebut. Maka Lukahpun jadi impianku.
Tanpa menunggu waktu lagi, langsung ganti baju dan Lukah langsung kusandang. “Hei, makan dulu Ndi, waang kan baru pulang sekolah, makan dan sholatlah dulu. Tak baiknya menahan lukah di siang begini, tunggulah agak sore” ujar Uwan. “Lagipula, umpannya kan belum ada, nak kau pasang umpan apanya lukah itu nanti, kalau tak puya umpan, tak mungkin ikan akan masuk,”sambungnya.
Palembang - Mist



0 Komentar