Cerpen

Menahan Lukah


ilustrasi

Matahari belum lagi tergelincir dari atas ubun-ubun kepala. Kendati sinarnya redup, terhalang oleh gumpalan awan kelabu, tapi cukup membuat keringat mengalir deras, membasahi baju putih seragam sekolahku. Hari itu aku bergegas pulang dari sekolah. Suara dentangan dari lempengan besi tua yang dipukul oleh guru menjadi penanda pelajaran selesai, segera kuraup buku tulis di meja kayu, memasukkannya ke kantong assoy hitam, bergegas berlari pulang. Jalan tanah penuh lacah kutempuh dengan sepatu karet berwarna hitam, tak perlu khawatir akan kotor, aku toh tak pakai kaos kaki, dan sangat terbiasa jalan berlumpur.

Hari itu, sekitar tahun 1984, saat aku masih duduk di kelas 3 SD. Uwan berjanji akan datang ke rumah. Uwan adalah ayah dari bapak, alias kakek. Kami semua memanggilnya Uwan. Kampung Uwan sangat jauh dari tempatku. Aku sendiri belum pernah kesana, karena kata Bapak harus naik Oto dulu sekitar 4 jam, setelah itu disambung jalan kaki sejauh 10 km melewati hutan dan kebun-kebun warga. Mobil tak bisa masuk ke kampung Uwan, tempat Bapakku dilahirkan. Bapak hanya menyebutnya Kampung Guo. Sementara mobil angkutan pedesaan hanya sampai di Paraman Ampalu. Terkadang ada juga yang sampai ke Talang Kuniang, harus melintasi dulu Sungai Batang Kenaikan.

Ya Uwan akan datang. Aku selalu bersemangat kalau ia datang, karena pasti akan banyak dibawanya, oleh-oleh kata orang sekarang. Uwan hanya bisa datang di hari Rabu, kendati tidak setiap Rabu, kadang hanya 6 bulan sekali. Mengapa hanya di hari Rabu? Karena saat itulah Oto menambang, bertepatan dengan hari pasar di Paraman Ampalu.

Sesampai di rumah aku sudah melihat pintu terbuka, dan di samping rumah kulihat seseorang sedang duduk di bangku kecil, samping kandang ayam. Aku segera mengenalinya, kopiah hitam yang agak miring, dan tentu saja rokok daun nipah khas Uwan. Ia hanya pakai singlet saja, dan kulihat bajunya tergantung di dinding rumah.