Feature

Semende itu Tak Banyak Berubah


Desa Segamit Semende Darat Ulu

Tak jauh dari atas plang (pematang) sawah yang baru saja ditanam, kokoh berdiri bangunan kecil beratap layaknya tanduk kerbau. Sepintas teringat dengan Minangkabau yang memang punya bangunan khas seperti ini. Tapi ini bukan di Sumatra Barat. Ini Semende, tepatnya di Semende Darat, sebuah dataran tinggi Sumatra Selatan, masuk daerah administratif Kabupaten Muara Enim.

Bangunan kecil berukuran sekitar 3 x 3 meter itu bagai penjaga bagi hamparan sawah yang masih menghijau. Di setiap sudut sawah, lazim ditemukan, berjarak sekitar 2 – 3 petak. Tengkiang, begitu penduduk menamai. Mirip dengan Rangkiang, jika di Sumatra Barat. Fungsinyapun sama, penyimpan padi sehabis di panen.

Sudah lebih dari 5 bahkan mungkin 10 tahun lalu, tanah Tunggu Tubang ini belum kujejak lagi. Momentum kali ini, walaupun tidak disengaja, kembali menghunjamkan kenangan-kenangan masa lalu, menguak lagi kisah lama. Entah kenapa, dari seluruh daerah Sumsel yang sudah kumasuki, Semende seakan punya memori tersendiri.

Bulir-bulir tetesan dingin itu kunikmati saja, kuhembuskan pula nafas berasap yang selalu kurindukan. Menghirup sedalam-dalamnya, merengkuh segala kesegaran yang ada. Penat di badan, 8 jam perjalanan dari Palembang, kulepaskan dengan menatap ataran sawah bertingkat, berpagarkan dinding Bukit Barisan, menyangga berbagai dinding alam yang entah bagaimana Sang Kuasa menciptakannya.