Artikel

Warung Tenda di Prabumulih


ilustrasi

Jalan lintas Palembang-Prabumulih memang tergolong jalur yang ramai dan hidup siang malam. Jalur ini menjadi perlintasan mereka yang berasal dari Pagar Alam, Lahat, Muara Enim, Baturaja dan Muara Dua menuju Palembang. Saat ini Prabumulih adalah jalur utama yang harus ditempuh. Melihat tingginya intensitas pengguna jalan, kehidupan ekonomi masyarakat di sepanjang jalan tersebut juga menggeliat. Ita dan kawan-kawan adalah salah satunya.

Selain itu juga hidup para tukang tampal ban, rumah makan, warung-warung makanan, penjual nanas, penjual kerupuk kemplang, hingga penjaja makanan diperlintasan kereta api. Jalan raya memang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat, hubungan simbiosis mutualistis terjalin. Jika dilihat secara lebih detil sebenarnya pergerakan ekonomi masyarakat di daerah-daerah ini adalah karena karena faktor jalan lintas.

Malam terus bergulir, hembusan angin semakin kuat. Ita mulai merapatkan jaket. Malam itu sedikit mendung walaupun hujan tak jua turun. Beberapa pembeli terus berdatangan ke warung Ita, baik mobil maupun motor. Ditatapnya termos nasi besar itu, tinggal separoh. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam. Saat pembeli tak ada yang mampir, Ita akan sibuk dengan HP nya.

Ita bercerita bahwa ia bukanlah pemilik warung tersebut. Ia hanya seorang karyawan. Bosnya berasal dari Prabumulih, biasanya ia datang menjelang buka warung dan kemudian saat akan tutup. Yang memasak dan membuat makanan adalah bosnya. Ita tak tahu menahu soal itu, baginya hanya melayani pembeli dan memastikan semua dagangan habis dalam satu malam. Dan biasanya memang habis satu termos besar. Bos Ita sendiri memiliki dua unit warung tenda.