Artikel

Warung Tenda di Prabumulih


ilustrasi

“Setiap malam saya digaji sebesar 50 ribu rupiah, sama dengan kawan-kawan lain,” ujarnya lirih tanpa menutupi.

Nilai 50 ribu dengan beban pekerjaan setiap malam begadang, sebenarnya jauh dari kata seimbang atau pantas. Bagaimana jika Ita jatuh sakit karena begadang tiap malam, bagaimana jika Ita ingin libur sehari atau dua, bagaimana jika terjadi hujan deras dan Ita harus berhujan-hujan di malam hari, dan masih banyak bagaimana lainnya. Yang jelas Ita tentu butuh vitamin, butuh asupan yang bergizi, sesekali butuh istirahat, mungkin perlu juga berkumpul dan bermain bersama teman seusianya.

Ita tak sempat lagi memikirkan itu. Baginya bekerja akan menghasilkan uang, walau itu sebesar 50 ribu/malam. Itu mungkin cukup bagi Ita karena ia tak punya tanggungan keluarga, masih gadis. Disini ia sadar, jika ia pada saatnya nanti berkeluarga, tentu tak akan bisa lagi bekerja seperti sekarang. Suami mana pula yang akan membarkan istrinya tiap malam keluar dan berada di pinggir jalan. Mungkin disitulah nanti masa Ita akan beristirahat.

Dari kejauhan Kota Prabumulih, hiruk pikuk pembangunan sedang berlangsung pula. Mobil-mobil truk pengangkut tanah, semen, besi, dan segala macam alat konstruksi sedang berbenah. Mulai dari Indralaya sampai ke Muara Enim, diperkirakan akhir 2022 akan terhubung dengan jalan tol. Ya jalan tol. Bisa dipastikan dengan dibukanya jalur ini, maka akses Palembang Muara Enim akan semakin singkat, mungkin sekitar 1,5 jam sudah bisa ditempuh.