Cerpen
Bak Sampah di Sebelah Lapau Kudo
- Yenrizal
- 16 Nov 2021
- dilihat 245
ilustrasi
“Sudah bu, nak sholat subuh dulu Nok,” ujar Uni Mul. Ya uniku satu ini memang biasa dipanggil Cinok atau Nok. Ntah kenapa, mungkin karena wajahnya rada-rada mirip China ya. Cinok itu agak mirip dengan sebutan Cino atau Cina. Uni Mul memang berkulit putih, mata agak sipit dan berkacamata.
Aku bergegas melaksanakan sholat subuh. Air wudhu tadi terasa bagai campuran batu es. Bukittinggi memang masih terasa dingin kala itu. Embun pagi juga ikut menyucuk, menyelinap dari balik ventilasi kecil di dalam kamar. Tapi untunglah kamar itu begitu minimalis, penuh pula oleh buku-buku yang terjejer pada beberapa rak kayu. Setidaknya, padatnya isi kamar itu membuat udara menjadi lebih hangat. Kamar ini adalah perpustakaan pribadi milik Bapak, aku menempatinya karena memang tak ada tempat lagi.
Ini adalah hari ketiga aku resmi tinggal di Kota Wisata. Sebelumnya aku hanyalah seorang urang kampuang yang memang tinggal nun jauh di pedalaman, Pasaman Barat. Ke Bukittinggipun aku baru sekitar 2 kali, itupun karena dari sekolah waktu itu ada acara jalan-jalan. Bukittinggi saat itu bagiku sudah seperti kota besar, lalu lalang Oto begitu banyak (dibanding dikampung). Malam hari begitu terang karena cahaya lampu yang seolah tak pernah padam, hal yang tak kutemukan di kampung. Adalah Ibu Yulisbar (yang kemudian sudah seperti orang tuaku sendiri dan dalam tulisan ini kupanggil akan kupanggil Ibu) yang “menemukanku”.
“Sakola ka Bukittinggi lah waang Endi, daripado jadi tukang panjek karambia waang disiko, ” (Sekolah lah ke Bukittingi Endi, daripada jadi tukang panjat kelapa disini) demikian Ibu Yulisbar berkata kala itu. Aku yang tak terlalu kenal dengannya saat itu, hanya diam. Orang tuakulah yang kemudian memaksa dan membujukku dengan berbagai hal. Yang terbayang saat itu hanyalah sekolah di kota besar, melihat Jam Gadang, melihat keramaian, akupun mengiyakan saja.
Palembang - Clouds



0 Komentar