Cerpen
Bak Sampah di Sebelah Lapau Kudo
- Yenrizal
- 16 Nov 2021
- dilihat 245
ilustrasi
Kelas 2 SMP aku pun pindah, dari SMP Negeri Simpang IV Pasaman ke SMP 7 Bukittinggi. Ibu Yulisbar sendiri adalah guru di SMP 7 ini. Belakangan aku baru tahu kalau SMP ini termasuk sekolah favorit kala itu.Tanpa bantuan Ibu Lisbar, tak mungkin aku bisa menjejakkan kaki ke sekolah ini, dan ke Bukittinggi tentunya. Ibu Lisbar, Pak Moedirsan dan anak-anaknya akhirnya menjadi keluargaku juga, mereka begitu baik, ramah, dan paham dengan kondisiku yang masih anak-anak dan baru “melihat” kota.
“Ndi, Ndi, lah sudah sholat belum?” ketokan pintu suara Ibu menyadarkanku. Rupanya aku terpejam sejenak sehabis sholat dan masih menyender ke rak buku.
“Sudah buk,” jawabku sambil merapikan sarung, dan keluar kamar. Kulihat Ibu sudah mulai sibuk di dapur, Uni Mul tampak menuangkan air panas. Sementara Uni Yanti kulihat juga sudah ada di dapur. Ia tersenyum melihatku. “Baa laloke nyo nak bujang? Lai lomaknyo, dingin?” (Bagaimana tidurnya bujang? Nyenyak, dingin) ujarnya melihatku masih sedikit menggigil. Aku hanya mengiyakan sambil menggerak-gerakkan tangan agar ada sedikit panas.
Uni Yanti sendiri adalah putri tertua dari Ibu Lisbar, semuanya ada 6 orang dan semuanya perempuan. Semua ada dirumah itu, otomatis hanya aku dan Bapak lah laki-laki di rumah ini.
Palembang - Clouds



0 Komentar