Cerpen
Bak Sampah di Sebelah Lapau Kudo
- Yenrizal
- 16 Nov 2021
- dilihat 245
ilustrasi
Saat melintasi dapur, mataku tertuju pada keranjang plastik di sudut lemari piring. Ya itu adalah setumpukan sampah, bekas memasak dan berbagai sisa sampah dari dapur. Kulihat sudah cukup penuh, melimpah ke beberapa sisinya. Segera saja spontan terbersit ide.
“Bu, awak buanglah sarok ko baa bu, kama dibuangnyo buk? (Bu, saya buanglah sampah ini ya, kemana dibuangnya buk)” tanyaku.
“Eh memang Endi mau membuangnya, kalau mau ya ndak apa-apa. Di ujung jalan sana, dekat banyak bendi itu, ada bak sampah besar, nah campakkanlah ke sana nanti,” ujar Ibu. Uni Mul kulihat tersenyum. “Ndeh, anak bujang mau buang sarok (sampah),” ledeknya. Aku hanya tersenyum kecil. Kantong asoy hitam itu segera kuangkat dan kuikat, lewat jalan samping aku berlalu ke arah Lapau Kudo di ujung jalan.
Sejak hari itu, akupun punya rutinitas pagi, membuang sampah. Sebelum berangkat ke sekolah yang jaraknya hanya berseberangan jalan, aku sudah pastikan sampah dapur sudah beres. Kerja yang ringan, tapi aku sangat menikmatinya. Terus terang, berada di rumah ini aku bingung harus mengerjakan apa. Putri-putri Ibu begitu cekatan, capek kaki ringan tangan (cepat kaki ringan tangan), jadi semuanya sudah beres saja. Adanya sampah di dapur itu, akhirnya jadi “sesuatu” sekali bagiku. Paling tidak, aku sudah punya “tanggung jawab” setiap hari. Aku menikmatinya.
Palembang - Clouds



0 Komentar