Cerpen
Bak Sampah di Sebelah Lapau Kudo
- Yenrizal
- 16 Nov 2021
- dilihat 245
ilustrasi
Enaknya lagi, sehabis buang sampah aku bisa lari-lari kecil menuju rumah, menikmati embun pagi kota bersih ini, menghangatkan sedikit badan. Lalu lalang bendi ke Pasar Bawah atau ke Lambaw menjadi temanku setiap pagi. Aku jadi hapal jenis-jenis kuda yang digunakan masing-masing bendi. Beberapa merek yang terpasang di bendi itu juga mulai ku kenal, seperti tulisan Si Rimang, Palacuik, dan sebagainya. Sebenarnya jarak dari rumah ke bak sampah tak jauh, hanya berselang bangunan ST (Sekolah Teknik), sekitar 500 meter. Tapi yang sebentar itu kunikmati. Kadang aku berdiri sejenak di depan SMA I, menikmati pemandangan megahnya Pasar Putih di atas Pasar Lereng, yang setiap pagi bagai abu-abu berselimut embun.
Jam 6 pagi aku sudah sampai kembali di rumah. Jam 7.30 sekolah sudah masuk. Di meja makan sudah terhidang hasil “kreasi” Uni Mul dan Uni Yanti pagi ini. Bapak sudah bersiap untuk mengambil nasi panas. “Cepatlah Endi, nasi angek (panas) ini, sebentar lagi nak sekolah lai,” ujarnya. Aku menarik kursi dan tak butuh lama. Uni mul dan Uni Yanti memang jago, kadang kupikir masak harus kompak juga rupanya. Suatu kali pernah juga kulihat Uni Deni ikut ke dapur.
Jam 7 pagi semua sudah siap, Ibu dan Bapak menuju sekolahnya masing-masing, Bapak adalah Kepala Sekolah di SMPN 6 Bukittinggi, agak jauh dari rumah. Akupun sudah lengkap dengan pakaian sekolah, hari ketiga bersekolah, sebetulnya belum terbiasa bagiku, terutama mengikuti cara di kota ini. Tas kusandang, rambut sudah tersisir rapi, baju sudah dimasukkan ke dalam celana pendekku, sepatu juga sudah OK, aku pun pamit dan berangkat.
Hari ini adalah upacara bendera Senin, dan aku yang sedikit terlambat bergegas masuk ke barisan. Di pangkal barisan kulihat sosok yang berdiri begitu kokoh. Tangannya memegang mistar besar dari kayu, sepertinya siap dilayangkan jika ada siswa yang berulah saat upacara. Matanya tajam menatap dibalik kacamata minus. Ya….Ibu Emi, guru yang terkenal paling ditakuti di sekolah ini. Aku belum begitu kenal, tapi dari obrolan beberapa teman, mereka sepertinya sangat menakuti guru Kewirausahaan satu ini. Entah kenapa, pagi ini aku juga sedikit gugup melihat Bu Emi berdiri bagai algojo yang akan melumat siapa saja didepannya. Aku berusaha tenang, karena merasa tak ada yang salah.
Palembang - Clouds



0 Komentar