Cerpen
Hikayat Batu Betangkup
- Yenrizal
- 21 Oct 2021
- dilihat 195
ilustrasi
“Kalau kaba (kamu) tidak juga mau mengaku dan tidak mau minta maaf, baiklah. Biarlah ndung yang akan pergi. Aku akan pergi ke Batu Betangkup. Jangan kamu cari aku. Namun kalau kamu nak dengar aku, nanti pada saatnya akan terdengar rintihanku dari dalam batu itu,” suara ibunya serak, namun terdengar mantap dengan keputusannya.
Sang anak tak bisa berbuat banyak, kendati dipegangnya kaki sang ibu, ditariknya dan ditangisi, namun ibunya tetap berjalan. Ia menuju ke batu besar yang terbelah dua di atas Bukit Putih Embun. Seluruh tubuhnya masuk ke dalam batu, dan tiba-tiba batu itupun menutup (menangkup).
Dari kejauhan hanya terdengar tangis dan ratapan si anak yang selalu menyesali diri. Sayup-sayup terdengar suara dengungan dari batu besar tersebut. Sampai sekarang, pada hari-hari tertentu, penduduk yang berkebun di sekitar batu itu, masih bisa mendengar dengungan berasal dari dalam batu.
*) penulisan ulang kisah ini didasarkan keterangan dari Minhar, Ketua Adat Semende di Desa Tanjung Raya, 10 Februari 2013. Pada saat tulisan ini ditulis beliau telah meninggal dunia. Allahummafirlahu waafi wa’fuanhu.
Palembang - Clouds



0 Komentar