Artikel

Nan Aluih Identitas Pasaman Barat Yang Tergerus


Gerbang masuk Kabupaten Pasaman Barat

Mungkin karena kondisi inilah, predikat Pasaman banyak “nan Aluih” jadi melekat. Ke timur berpagar Gunung Pasaman dan Talamau, ke barat ombak pantai menjadi pembatas, di tengah-tengah hutan rimba dengan segala kekeramatannya begitu rapat dan penuh cerita. Anak-anak terbiasa dengan cerita tentang Cindaku, Sijundai, Inyiak Balang, bahkan tahu dengan istilah Gayuang, Tinggam, Upeh dan sebagainya. Maka lekatlah istilah Pasaman adalah daerah yang keramat, dan harus hati-hati jika bertemu orang setempat apalagi masuk ke daerah itu.

Tahun 1985, Pasaman berubah. Perubahan ditandai dengan dibangunnya jalan raya yang menghubungkan Simpang Ampek tembus ke Simpang Gudang/Manggopoh di Kabupaten Agam. Hampir beriringan dengan dibukanya akses ini, masuk pula para pensiunan ABRI AD melalui skema tranmigrasi. Umumnya mereka berasa dari Pulau Jawa. Keragaman etnis mulai terasa kuat. Jika sebelumnya lebih dominan pada etnis Minangkabau dengan Mandahiling-Batak, maka sekarang Jawa ikut memberi pengaruh, walaupun etnis Jawa juga sudah ada sebelumnya melalui skema transmigrasi di daerah Tongar, Batang Lingkin.

Perkebunan kelapa sawit menjadi sasaran utama yang dikembangkan dan ditandai pula dengan pendirian PTPN VI. Skema PIR dijalankan, dan keberhasilan ini memicu pula warga Pasaman lainnya untuk ramai-ramai bermigrasi ke sawit. Mudahnya akses ke luar daerah (terutama Padang dan Bukittinggi), membuat gerakan ekonomi warga makin lincah dan cepat. Jika dulu 24 jam menuju Padang, sekarang cukup 3 jam saja Kota Padang sudah dicapai.

Terbukalah Pasaman Barat, bergeraklah ia, berlari. Bahkan larinya jauh lebih cepat dari induknya Kabupaten Pasaman yang dipisah sejak 2003.